BerandaIndie Mania
Kamis, 11 Mar 2020 07:00

Bisa 'Corat-coret' di Tempat Sulit Jadi Prestise buat Anak Grafiti

Writer Grafiti punya karakteristik yang unik. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sebagaimana orang yang menggeluti bidang lain, writer grafiti juga memiliki karakteristik tersendiri. Unik, menurut saya. Mereka nggak ingin terekspos dan nggak bangga dengan prestasi.<br>

Inibaru.id - Terus terang awalnya saya merasa ada yang janggal saat hendak bertemu para penggiat grafiti di Semarang. Kalau biasanya orang umum suka mengekspos diri dan suka terkenal, nggak demikian dengan mereka.

Oh, iya, sebelumnya, penggambar grafiti sesungguhnya disebut dengan “Writer”. Sebab yang mereka gambar adalah tulisan. Kalau kamu cermati pada setiap grafiti yang digambar di tembok-tembok kota itu selalu ada sebuah inisial di pojok bawahnya.

Kembali kepada apa yang singgung tadi, hampir semua writer yang hendak saya jadikan narasumber ogah menunjukkan identitasnya secara terang-terangan. Mungkin awalnya saya sempat heran, tapi keheranan saya itu langsung sirna saat dijelaskan oleh Neyra Ardhi Affandi (31) anggota kelompok grafiti 12PM. Dia juga penggiat wadah grafiti Kota Semarang, “Bring No Clan”.

Seorang pengendara sepeda motor sedang melintas saat anggota Bring No Clan membuat grafiti. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Menurut Ardhi, tertutupnya para writer disebabkan beberapa faktor, di antaranya terdapat eksistensi dan keamanan.

“Tidak dimungkiri untuk saat ini, grafiti masih lekat dengan image 'pelanggaran hukum' yang mengotori publik. Meskipun sebetulnya, ini nggak ada kriminalnya sama sekali. Kalau saya pribadi pun ingin grafiti lebih diterima masyarakat luas,” ujar Ardhi saat ditemui di toko grafiti “Reload” pada Kamis (6/3)

Begitupula seperti apa yang disampaikan oleh Satrio Sudibyo, writer sekaligus salah seorang pendiri “Bring No Clan”. Meskipun sebetulnya memiliki banyak prestasi namun dia nggak ingin torehannya tersebut diketahui banyak orang.

Para writer grafiti ingin karyanya yang dikenal. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

“Para penggambar grafiti sebagian memang nggak terlalu melebihkan prestasi sih. Kami lebih bangga kalau bisa menggambar di tempat-tempat yang sulit dan adrenalin yang ada di dalamnya,” ucap Dibyo saat ditemui di toko Graffiti Drips and Drops pada Kamis (27/2).

Dibyo menjelaskan kalau grafiti bukanlah sekadar corat-coret tembok biasa. Seni jelas menjadi salah satu nilai. Namun lebih dari itu, grafiti bisa jadi sebuah kritik terselubung.

“Bisa dibilang kami mendikte, apakah kota benar-benar merawat rumahnya? Kami hadirkan grafiti di tembok-tembok. Kalau gambar tersebut sekiranya menggangu, ya sudah dicat ulang. Berarti perawatan berjalan. Kami terima saja kok kalau gambar kami tidak disukai dan dihapus. Tapi kalau tidak? Kami menghadirkan seni bukan? Tidak asal corat-coret,” ungkapnya.

Satrio Sudibyo punya pendapat kalau grafiti bisa jadi sarana kritik terselubung. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Menurut Dibyo, meskipun kadang dianggap sepele, namun grafiti adalah passion mahal yang nggak berwujud. Bayangkan, satu kaleng cat semprot saja harganya berkisar Rp 25 sampai ratusan ribu. Terlebih lagi, setiap grafiti nggak cukup dengan satu atau dua warna saja. Pasti butuh banyak warna.

“Sekali paling tidak bisa sampai Rp 200 ribu lebih. Passion paling mahal sih saya kira. Kalau seneng musik beli gitar kan ada wujudnya gitar. Kalau ini kan nggak. Hanya gambar yang setiap waktu bisa dihapus atau digambar oleh grafiti lain,” tandasnya.

Kalau kamu tertarik jadi writer grafiti juga nggak, Millens? (Audrian F/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: