BerandaHits
Selasa, 19 Des 2022 12:51

Suarakan Perubahan Iklim di Kampus ala Seniman Semarang

Potret Ketua Panitia, Pujo Nugroho sedang memberi sambutan di atas panggung mini yang menggunakan motor roda tiga untuk mengkampanyekan acara Penta KLabs di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Untuk menyuarakan serta mengajak civitas akademika terlibat persoalan perubahan iklim melalui event Penta KLabs, para seniman Kota Semarang berkeliling kampus untuk menyosialisasikannya.

Inibaru.id - Suara lantunan musik menyambut kedatangan saya dengan seorang teman di selasar gedung kantin Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, belum lama ini. Sore itu, belasan orang terlihat menikmati alunan musik yang dimainkan grup band Semarang WOL dan Serambi.

Grup band indie tersebut menyanyikan beberapa lagu untuk mengisi "Ditampart", sebuah perhelatan yang menjadi bagian dari rangkaian pra-acara Penta KLabs yang diinisiasi oleh komunitas Grobak Hysteria yang berkolaborasi dengan berbagai pihak setiap dua tahun sekali sejak 2016.

Ketua Panitia Ditampart Pujo Nugroho menuturkan, acara Penta KLabs adalah sebuah ruang yang mempertemukan para seniman dari berbagai latar belakang untuk mendiskusikan serta merespons persoalan yang terjadi di suatu daerah.

Untuk menggaungkan acara Penta KLabs, Pujo sengaja berkeliling ke pelbagai kampus di Semarang. Lelaki asal Banyumanik ini mengatakan, kalangan akademisi perlu dilibatkan untuk mengaji bersama-sama soal perubahan iklim tersebut.

"Kami terdiri atas 29 seniman lintas bidang. Sejak 9 November, kami menyambangi lima kampus, yakni Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Semarang (Unnes), dan Unika Soegijapranata," ungkap Pujo.

Menyatukan Seniman Kota Semarang

Beberapa karya seniman Kota Semarang yang dipajang di samping kanan panggung. Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Pujo mengatakan, "Ditampart" adalah wadah untuk menyosialisasikan Penta Klabs IV. Untuk panggung dan stand pameran, mereka menggunakan motor beroda tiga yang bisa di-set. Dia berharap, Penta KLabs bisa menjadi momentum para seniman bersatu untuk memajukan seni di Semarang.

"Kami ingin mengajak teman-teman seniman untuk tumbuh dalam sebentuk ekosistem kesenian di Kota Semarang," kata lelaki kelahiran 1994 ini.

Oya, perlu kamu tahu, Penta Klabs IV saat ini tengah berlangsung dan berakhir 21 Desember mendatang. Untuk tahun ini, mereka mengambil tema tentang perubahan iklim yang terjadi di pesisir utara Kota Semarang, khususnya di daerah Tambakrejo. Tema ini merupakan hasil diskusi dan riset bersama.

"Kami sengaja menyuarakan perubahan iklim di pesisir utara Semarang karena melihat faktor-faktor penyebab terjadinya perubahan parsial sebagai dampak proses ekstraksi air tanah, pengerukan, dan pembangunan-pembangunan yang membebani tanah," kata dia.

So, buat kamu yang pengin datang ke Penta Klabs IV, belum terlambat kok. Pujo membeberkan, ada 42 seniman dari dalam dan luar negeri yang akan terlibat dalam gelaran ini. Mereka diminta merespons apa yang terjadi di Tambakrejo dengan memvisualisasikannya dalam bentuk karya.

Selain isu perubahan iklim, Pujo membeberkan bahwa para seniman diminta menggali apa pun yang bisa dijadikan karya di Tambakrejo; misalnya cara warga menyiasati hidup, kebudayaan yang diuri-uri di sana, dan mitos-mitos apa yang berkembang.

Acara yang menarik, bukan? Mumpung belum kelar, silakan datang ke Penta Klabs IV, ya! (Fitroh Nurikhsan/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: