BerandaHits
Minggu, 10 Jan 2026 15:01

SOGIESC, Istilah yang Jarang Kita Bicarakan saat Membahas Keberagaman

Ilustrasi: Memahami SOGIESC akan membawa kita pada level keberagaman yang 'berbeda'. (Asiapathways)

Orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender, dan karakteristik seks merupakan aspek yang berbeda, meskipun keempatnya bisa saling berkaitan. Itulah SOGIESC, istilah yang acap luput kita bicarakan saat membahas keberagaman sosial, padahal sangat erat kaitannya.

Inibaru.id - Istilah SOGIESC semakin sering muncul dalam diskursus publik, terutama ketika isu hak asasi manusia dan kesetaraan, bahkan kesehatan. Namun, istilah ini justru jarang muncul saat kita membahas keberagman sosial; padahal ia erat kaitannya dengan hal tersebut.

Istilah tersebut acap dianggap tabu untuk dibahas lantaran pemahaman masyarakat terhadapnya masih kerap bercampur antara konsep ilmiah, pandangan moral, dan persepsi sosial.

SOGIESC merupakan akronim dari Sexual Orientation, Gender Identity, Gender Expression, and Sex Characteristics; yang acap digunakan sebagai kerangka konseptual untuk menjelaskan keragaman pengalaman manusia terkait seksualitas dan gender.

Perlu diketahui bahwa istilah tersebut nggak merujuk pada identitas atau ideologi tertentu, apalagi kategori gender baru. SOGIESC merupakan alat analisis yang membantu memisahkan aspek biologis, psikologis, dan sosial yang selama ini sering disatukan secara keliru.

Pengalaman yang Beragam

Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) menjelaskan bahwa SOGIESC digunakan untuk menggambarkan pengalaman manusia yang beragam secara lebih akurat serta membantu negara dan masyarakat memahami bentuk-bentuk diskriminasi yang terjadi.

Dengan kerangka ini, orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender, dan karakteristik seks dipahami sebagai aspek yang berbeda, meskipun keempatnya bisa saling berkaitan.

Pembahasan tentang "orientasi seksual", misalnya, sejatinya merujuk pada ketertarikan emosional atau romantis seseorang terhadap individu lain. Sementara itu, identitas gender berkaitan dengan bagaimana seseorang memaknai dirinya secara internal.

Perlu kamu tahu bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menegaskan bahwa variasi orientasi seksual bukan gangguan kejiwaan. Dalam pembaruan International Classification of Diseases (ICD-11), WHO menyatakan bahwa ia dengan sendirinya nggak dapat dianggap sebagai suatu gangguan.

Pernyataan ini sering dijadikan rujukan utama dalam diskusi kesehatan mental dan kebijakan publik di berbagai negara.

Mengapa SOGIESC Penting?

Dalam SOGIESC, orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender, dan karakteristik seks dipahami sebagai aspek yang berbeda, meskipun keempatnya bisa saling berkaitan. (Unsplash/Tim Mossholder)

Jika orientasi seksual merujuk pada ketertarikan emosional seseorang, "ekspresi gender" berhubungan dengan cara seseorang menampilkan identitasnya di ruang sosial; misalnya melalui pakaian, perilaku, atau peran sosial. Ekspresi ini sangat dipengaruhi oleh budaya dan norma masyarakat.

Sementara itu, "karakteristik seks" merujuk pada aspek biologis, termasuk kromosom, hormon, dan organ reproduksi. Dalam dunia medis, dikenal pula kondisi interseks, yaitu variasi karakteristik biologis yang nggak sepenuhnya sesuai dengan kategori laki-laki atau perempuan secara biner.

Menurut United Nations Development Programme (UNDP), karakteristik seks manusia secara alami bervariasi dan variasi ini merupakan bagian dari keragaman biologis manusia. Dari sini saja kita bisa melihat bahwa karakter ekspresi gender, karakter seks, dan orientasi seksual bukanlah sesuatu yang benar-benar sama.

Tanpa memahami perbedaan antara orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender, dan karakteristik seks, sejatinya kita akan sangat rentan memberi label atau melakukan generalisasi. Di sinilah pengetahuan tentang SOGIESC menjadi sangat penting.

Relevansi dalam Kebijakan Publik

Di pelbagai negara, isu SOGIESC kerap dibahas dalam konteks layanan kesehatan, pendidikan, dan ketenagakerjaan. Ini dilakukan karena sejumlah penelitian menunjukkan bahwa stigma dan diskriminasi berbasis identitas atau ekspresi dapat berdampak pada kesehatan mental dan partisipasi sosial seseorang.

Stigma sosial yang terus-menerus dapat berdampak serius pada kesejahteraan psikologis individu, apa pun latar belakangnya. Karena itu, pemahaman konseptual yang tepat menjadi penting, agar kebijakan publik nggak memperkuat diskriminasi yang nggak disadari.

Namun, meski digunakan secara global, pendekatan terhadap SOGIESC sangat dipengaruhi nilai budaya, agama, dan norma sosial masing-masing negara. Para ahli menilai bahwa perbedaan konteks ini perlu dihormati dalam diskusi publik, sebagaimana dikatakan sosiolog UGM Dr Zainal Abidin Bagir.

“Isu-isu sensitif seperti ini membutuhkan dialog yang berbasis pengetahuan, empati, dan penghormatan terhadap keragaman pandangan masyarakat,” sebutnya.

SOGIESC pada dasarnya adalah kerangka untuk memahami kompleksitas manusia secara lebih utuh. Istilah ini nggak dimaksudkan untuk mengubah keyakinan personal, melainkan membantu menjelaskan perbedaan antara aspek biologis, psikologis, dan sosial manusia.

Dengan rujukan ilmiah dan dialog yang proporsional, pembahasan SOGIESC sangat memungkinkan untuk berlangsung jernih dan informatif, tanpa terjebak dalam polarisasi. Semoga istilah ini nggak lagi dianggap tabu saat kita membahas tentang keberagaman di Indonesia ya, Gez! (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Lezatnya Kupat Tahu Hj Sapen di Kabupaten Cilacap

28 Des 2025

Kini, Kamu Bisa Cek CCTV Dulu Sebelum Wisata ke Wonosobo

28 Des 2025

Jadi Moda Darat Favorit Semarang, KAI Daop 4 Catat Ratusan Ribu Penumpang

28 Des 2025

Bukan Cuma Soal Cuaca Panas, Ahli Sebut Perubahan Iklim Langgar HAM!

28 Des 2025

Sanksi Menanti Pedagang yang Tolak Pembayaran Tunai!

28 Des 2025

Tenangnya Berwisata di Waduk Greneng Blora

29 Des 2025

Anak Muda Tokyo Hidup di Apartemen Super Kecil Demi Bertahan di Kota Besar

29 Des 2025

UMK Ditetapkan, Gubernur Jateng: Upah Minimum untuk Masa Kerja Kurang dari Satu Tahun

29 Des 2025

Gaya Hidup Ramah Lingkungan; Ide Sederhana untuk Resolusi 2026

29 Des 2025

Antara Banyu Panguripan dan Tempat Sampah Raksasa: Masihkah Orang Jawa Memuliakan Sungai?

29 Des 2025

Deadline 31 Desember, 5 Juta Orang Belum Aktivasi Akun Coretax, Kamu?

29 Des 2025

Pengin Wisata di Solo dengan Cara Berbeda? Naik Bus Werkudara Saja

30 Des 2025

Alasan Berkendara Saat Hujan Bikin Tubuh Lebih Lelah

30 Des 2025

No Drama; Poin Penting saat Menetapkan Batasan 'Screen Time' Anak!

30 Des 2025

Screen Time Terlalu Dini Bisa Pengaruhi Respons Anak terhadap Rangsangan Fisik

30 Des 2025

Nggak Butuh Nikel dan Lithium, Google Kenalkan Baterai Berbasis CO2

30 Des 2025

Gawat! 20 Juta Ton Sampah Serbu Laut Indonesia, Ternyata Ini Jalur Utamanya

30 Des 2025

Khusus Hadir pada Periode Tahun Baru 2026, Ini 4 Fitur Baru WhatsApp yang Seru!

31 Des 2025

Prakiraan Cuaca Malam Tahun Baru 2026; Hujan di Berbagai Tempat!

31 Des 2025

Perda Pesantren, Kado Akhir Tahun untuk Para Santri di Kota Semarang

31 Des 2025

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: