BerandaHits
Rabu, 2 Jan 2024 16:16

Selamatkan Banyak Orang, Begini Kinerja Sistem Deteksi Dini Gempa Jepang

Seorang streamer di Jepang menunjukkan notifikasi sistem peringatan dini gempa sebelum guncangannya datang. (Twitter/LSF_Forwarder)

Ada sistem deteksi dini gempa Jepang yang mampu memberikan peringatan kalau bakal ada guncangan yang datang dalam waktu 18 detik. Waktu itu dianggap cukup bagi warga untuk bersiap atau menyelamatkan diri.

Inibaru.id – Sebuah video unggahan akun Twitter @LSF_Forwarder yang menunjukkan seorang streamer dari Jepang tiba-tiba mendapatkan notifikasi Early Warning System (EWS) alias sistem peringatan dini sesaat sebelum gempa Jepang pada Selasa (1/1/2024) viral di media sosial. Bagaimana nggak, dari video tersebut, terungkap kalau sistem ini mampu memberikan peringatan kepada warga Jepang untuk segera menyelamatkan diri sebelum guncangan gempa menerjang tempat mereka berada.

Sejumlah unggahan dari pemilik akun lain @fschiko_ yang juga sedang berada di Jepang saat gempa berlangsung kemarin juga mengungkap bahwa sudah ada aplikasi seperti NERV yang mampu memberikan peringatan sampai 18 detik sebelum guncangan gempa datang.

Iya gede banget lagi (suaranya) semua orang bunyi HP-nya,” ujar pemilik akun Twitter @JVLEHA yang kemarin juga berada di Jepang menceritakan tentang bagaimana notifikasi peringatan dini ini membuat banyak orang bisa segera bersiap sebelum guncangan datang.

Sistem peringatan dini ini diberi nama Early Warning Area Mail atau Emergency Rapid Mail dan dibuat oleh NTT Docomo serta Japan Meteorological Agency (JMA). Sistem ini bisa memberikan peringatan dalam bentuk pesan lengkap dengan notifikasi dengan suara yang sangat kencang ke ponsel, televisi, telepon kabel, hingga radio.

Sistem peringatan dini gempa Jepang mampu memprediksi kapan guncangan segera datang. (Twitter/fschiko)

Memangnya, seperti apa cara kerja dari sistem deteksi dini ini sampai bisa memberikan peringatan sampai belasan detik sebelum guncangan gempa datang? Kalau soal ini, kita perlu mengetahui dua jenis gelombang yang muncul saat gempa dulu, yaitu gelombang P dan gelombang S.

Gelombang P menyebabkan guncangan kecil yang nantinya diikuti dengan gelombang S dengan guncangan besar yang mampu menyebabkan kerusakan pada bangunan. Kecepatan rambatan gelombang P rata-rata adalah 7 kilometer per detik, sementara kecepatan gelombang S rata-rata adalah 4 kilometer per detik.

Otoritas Jepang sengaja menempatkan banyak seismograf di berbagai titik di negaranya karena tahu jika negara tersebut rawan gempa. Nah, seismograf-seismograf ini berperan besar dalam mendeteksi gelombang P terdekat tatkala gempa muncul.

Seismograf ini kemudian langsung mengirimkan sinyal ke JMA terkait dengan informasi tentang adanya gelombang P yang merambat lebih cepat dari gelombang S ini. Sistem yang ada di JMA pun langsung menyebarkan peringatan dini secara otomatis ke ponsel-ponsel, radio, hingga televisi agar warga bisa segera menyelamatkan diri sebelum gelombang S tiba.

Sistem peringatan dini yang sudah terbentuk dengan baik, ditambah dengan jaringan internet yang kencang, lancar, dan nggak mudah hilang sinyal meski ada bencana juga jadi faktor penentu suksesnya sistem ini bekerja.

Cara kerja sistem deteksi dini gempa di Jepang. (Nippon.com)

Karena sama-sama berada di negara rawan gempa, mungkin nggak sih sistem ini bisa diterapkan di Indonesia? Seharusnya sih bisa.

EWS serupa dipakai di Indonesia bisa. Tapi akan telat sekian detik, atau sama sampainya (dengan guncangan gempa) karena proses push alertnya masih dari service terpusat. EWS mereka (di Jepang) sudah running dalam ‘mesh network by 5G technology’. BTS-nya langsung yang proses push alert dan relay ke BTS selanjutnya,” tulis akun yang sering membahas tentang teknologi @leksa, Selasa (2/1).

Berdasarkan cuitan tersebut, pemerintah harus benar-benar memperbaiki sistem jaringan di Indonesia dulu untuk memastikan sistemnya bisa memberikan informasi peringatan dini secepat mungkin ke masyarakat. Sayangnya, sejauh ini, di Indonesia masih banyak area yang bahkan susah sinyal atau sama sekali nggak tersentuh jaringan internet. Tentunya kekurangan ini menghambat bekerjanya sistem. Duh!

Selain itu, jumlah seismograf atau alat-alat pendeteksi gempa di Indonesia juga masih minim. Belum lagi kasus pencurian seismograf yang beberapa kali terjadi.

Hm, sepertinya kita masih harus bersabar untuk punya sistem peringatan bencana secanggih Jepang ya? Nah, sambil menunggu kita bisa kok belajar mitigasi bencana dengan benar agar dapat selamat ketika bencana datang. (Arie Widodo/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Wali Kota Agustina Akui Sempat Kewalahan Menangani Banjir Semarang

21 Feb 2026

Bukan Cantik Berwarna-warni, Anggrek Misterius di Hutan Merapi Ini Justru Beraroma Ikan Busuk!

21 Feb 2026

Statistik Catat Hanya Ada 2.591 Tunawisma di Seluruh Jepang

22 Feb 2026

Boleh Nggak Sih Pulang Setelah Tarawih 8 Rakaat di Masjid Lalu Witir di Rumah?

22 Feb 2026

Bersiap Sambut Pemudik, Jateng Akan Kebut Perbaikan Jalan

22 Feb 2026

Arus Mudik Lebaran 2026 dalam Bayang-Bayang Cuaca Ekstrem di Jateng

22 Feb 2026

Deretan Poster Humor Ramadan di Mijen; Viral dan Jadi Spot Ngabuburit Dadakan

22 Feb 2026

Manisnya Buah Tanpa Biji dan Perampokan Kemandirian

22 Feb 2026

Meriung Teater Ketiga 'Tengul' melalui Ruang Diskusi Pasca-pentas

22 Feb 2026

Ini Dokumen Wajib dan Cara Tukar Uang Baru Lebaran 2026 yang Perlu Kamu Tahu!

22 Feb 2026

Mengapa Orang Korea Suka Minum Alkohol dan Mabuk?

23 Feb 2026

Tren Makanan Kukusan Makin Populer, Sehat bagi Tubuh?

23 Feb 2026

Ratusan Jemaah Tiap Hari, Tradisi Semaan di Masjid Agung Kauman selama Ramadan

23 Feb 2026

Bukan Perlu atau Tidak, tapi Untuk Kepentingan Apa Perusahaan Media Adopsi AI

23 Feb 2026

Menelusuri Jejak Sejarah Intip Ketan, Camilan Warisan Sunan Kudus

23 Feb 2026

Akhir Penantian 8 Tahun Petani Geblog Temanggung Berbuah Embung Manis

23 Feb 2026

Viral, Harga Boneka Monyet Punch Naik Gila-gilaan di Internet!

24 Feb 2026

Negara Mana dengan Durasi Puasa 2026 yang Terlama dan Tersingkat?

24 Feb 2026

Menyusuri Peran Para Tionghoa di Kudus via Walking Tour 'Jejak Naga di Timur Kota'

24 Feb 2026

Antisipasi Banjir, Pemkot Semarang akan Rutin Bersihkan Sedimentasi Sungai

24 Feb 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: