BerandaHits
Minggu, 18 Apr 2020 16:20

Paceklik (Lain) di Terminal Agribisnis Jetis dan Orang-Orang Arif

Petani hingga pedagang di Terminal Agribisnis Jetis, Kabupaten Semarang sama-sama mengalami kerugian. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Pandemi corona yang memaksa seluruh masyarakat untuk mengurangi kegiatan di luar rumah juga mempengaruhi kegiatan jual beli sayur. Sedikitnya pasokan hingga berkurangnya penghasilan sama-sama terjadi pada petani hingga pedagang atau pengepul. Meski begitu mereka tetap bijak menanggapi situasi sulit ini.

Inibaru.id - Seperti biasanya, Terminal Agribisnis Jetis ramai oleh pengepul, pedagang dan petani. Berbagai sayuran segar memenuhi pasar itu setiap hari. Sebagai pasar agribisnis yang diklaim terbesar se-Jawa Tengah, pasar yang juga disebut dengan Pasar Ngasem tersebut menjadi pusat jual beli sayuran dari berbagai daerah Jawa Tengah. Namun ada yang berbeda, pasar yang selalu ramai dari pagi hingga sore hari itu terlihat lumayan sepi.

Kala itu saya menemui seorang perempuan yang berjaga lapak. Bersama suaminya, Ny Wahyudi tampak menyuwir tali rafia. Dia sempat sambat terkait nilai jual daun bawang yang menjadi dagangan andalannya.

“Musim kayak gini (pandemi corona), harganya turun. Yang mau beli di sana nggak ada,” keluhnya.

Hal ini diamini oleh Zaenal Arifin yang kala itu menjual daun bawang pada istri Wahyudi. Dia menyebut bahwa daya beli dari pedagang dan pengepul cenderung menurun.

“Masalah daya beli ada penurunan, karena minat pembeli kurang. Yang mengecerkan juga kurang,” pungkas lelaki yang setiap harinya menyambangi pasar tersebut.

Pendapatan Menurun

Merugi bukan hal yang baru bagi mereka. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Perputaran yang lesu menyebabkan pendapatan para petani dan pegadang ikut seret. Meski nggak banyak, tetap saja bikin kelabakan. Zaenal mengaku merugi.

“Karena corona harganya jadi turun, daun bawang sekarang harganya Rp 600. Kalau dibilang rugi ya rugi,” tuturnya.

Keluhan senada juga saya dengar dari Ny Wahyudi. Dia mengaku petani yang memasok nggak banyak. Meskipun begitu, kondisi naik turunnya pendapatan ini sudah biasa mereka alami, Millens. Nggak heran mereka bisa menghadapi masa sulit ini secara arif.

"Kalau dibilang pendapatan turun ya turun, tapi masalah rezeki itu nggak usah dibahas. Semoga ndang mari (cepat selesai) coronanya," kata Hartini yang juga saya amini.

Nasib Sayuran yang Tak Laku

Tips sayuran yang nggak laku dijual. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Selain mengkhawatirkan harga yang menurun, para petani juga mengkhawatirkan barang dagangan yang nggak laku dijual. Namun bukan berarti sayuran yang nggak laku ini bakal dibiarkan begitu saja lo. Para petani dan pengepul yang sering kali nggak bisa menjual seluruh dagangannya ini mengaku melakukan trik khusus.

Hartini, misalnya. Dia setiap harinya mendatangkan sayuran dari Dieng. Perempuan asli Kabupaten Semarang ini mengaku dagangannya nggak selalu habis dalam sehari.

“Kalau nggak habis ya dikupas besoknya dijual lagi, ini berlaku untuk kubis,” tutur perempuan ini.

Berbeda dengan Hartini, Zaenal yang juga merupakan petani mengaku harus memanen sayurannya menjadi beberapa kloter agar dalam sekali angkatan, semua sayurannya bisa habis terjual.

“Kalau barang banyak ya panennya dikurangi saja. Dilansir jadi beberapa kloter, tapi nggak sampai dibuang,” tutur lelaki yang bisa menjual 3-4 kwintal sayuran dalam sehari ini.

Semoga pandemi ini segera berakhir ya, Millens! (Zulfa Anisah/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: