BerandaHits
Senin, 1 Nov 2020 16:00

Misteri Kapitan Sepanjang, Sosok Sentral dalam Geger Pecinan

Cuplikan dalam litografi Jakob van der Schley (1715–1779) berdasar lukisan karya Adolf van der Laan (1690 –1742) tentang Massacre des Chinois—pembantaian orang-orang Cina di Batavia pada 9 Oktober 1740. (National Geographic/Rijksmuseum Amsterdam)

Sebelum sentimen anti-Tionghoa muncul, orang Jawa-Tionghoa pernah bahu-membahu melawan kekejaman VOC. Pemimpin perang itu dikenal dengan Kapitan Sepanjang. Namun, sosoknya masih misterius hingga kini.

Inibaru.id – Dalam Perang Sepanjang (1740-1743), Kapitan Sepanjang menjadi tokoh yang cukup misterius. Dialah yang menjadi pemimpin pasukan Tionghoa saat pertempuran melawan VOC tersebut. Usai kekalahan pasukan aliansi dan tertangkapnya Sunan Kuning, dia terus bergerak ke arah timur pulau Jawa.

Selama itu pula Kapitan Sepanjang terus menyerang pos-pos VOC, sebelum akhirnya menyeberang ke pulau Bali. Konon, di Pulau Dewata tersebut dia mengabdi pada sebuah kerajaan. Sayangnya, bagaimana keadaan dan akhir hidupnya nggak ada yang tahu. Nama dan nasibnya terlupakan.

Menurut beberapa sumber, Kapitan Sepanjang memiliki nama asli Souw (Oey) Phan Ciang, Wang Tai Pan, atau Tay Wan Soey. Sebagai informasi, nama Tay Wan Soey kali pertama disebut sebagai pentolan pemberontak Tionghoa. Pada 5 Oktober 1740 silam, Belanda pengin mengajaknya berunding tapi ditolak oleh Tay Wan Soey (Didi Kwartanada dalam Pengantar “Geger Pacinan 1740-1743").

Beberapa ahli sejarah, antara lain Prof BJ Veth dan du Bois berpendapat Tay Wan Soey adalah saudara lain ibu dari Kaisar Tiongkok bernama Kin Lung atau Kian Liong (Mandarin: Qian Long).

Kin Lung merupakan salah satu kaisar terbesar dinasti Qing yang dikuasai bangsa Manchu. Tay Wan Soey dibuang ke luar Tiongkok karena dicurigai hendak memberontak.

Sejarah Perang Sepanjang

Monumen Laskar Tionghoa di TMII. (Tirto/Petrik Matanasi)

Jangan dikira hidup warga keturunan Tionghoa selalu enak. Mereka juga mengalami penindasan-penindasan ketika Belanda berkuasa. Karena terus menderita, orang-orang Tionghoa di Batavia melakukan perlawanan pada Oktober 1740. Mereka menyerang berbagai aset milik VOC.

Tentu saja Kompeni nggak diam saja. Mereka membalas dengan lebih kejam. Banyak penduduk Tionghoa yang dibantai. Jumlahnya pun nggak main-main. Diperkirakan ada 10.000 orang termasuk anak-anak yang harus meregang nyawa di tangan Kompeni atau pihak yang ditugasi melakukan eksekusi.

Peristiwa ini disebut sebagai De Chinezenmoord atau 1740 Batavia Massacre: Pembantaian Orang-orang Cina di Batavia.

Kejadian ini memicu gerakan berantai selama tiga tahun berikutnya di bawah pimpinan Kapten Sepanjang. Bersama orang-orang Tionghoa yang selamat, Kapten Sepanjang berjalan ke arah timur dan memperingatkan warga Tionghoa lain yang mereka temui. Mereka menghimpun kekuatan di setiap kota yang mereka lalui.

Usaha mereka nyatanya nggak hanya mengundang simpati warga keturunan. Para bupati di wilayan Mataram pun tergerak untuk ikut membantu. Kesewenang-wenangan Belanda memang sudah kelewatan pada masyarakat Jawa. Bahkan, Raja Mataram Pakubuwono II ikut dalam gerakan ini. Maka, lahirlah persekutuan pasukan Jawa-Tionghoa yang bikin Kompeni sangat kerepotan.

Hampir di seluruh pantai utara Jawa dari Batavia, Karawang, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Kudus, Rembang, Lasem, Tuban, Surabaya, hingga Pasuruan larut dalam peperangan. Perang juga pecah di pedalaman, di sekitar pusat Mataram, yang sekarang dikenal sebagai Yogyakarta, Surakarta, Banyumas hingga Pacitan, Madiun, Malang (Iwan Santosa, Catatan Editor dalam “Geger Pacinan”).

Pasukan Jawa Terpecah

Mungkin, sejarah akan berbeda jika Sunan Pakubuwono II nggak berbalik arah. Dia yang tadinya mendukung persekutuan Jawa-Tionghoa dan melawan VOC selama enam bulan menjadi pro VOC. Para bawahannya kaget dan bingung. Sebagian ada yang mengikuti Sunan, sebagian lagi tetap ikut melawan VOC.

Biar nggak oleng, Aliansi Jawa-Tionghoa kemudian mengangkat Raden Mas Garendi, cucu Amangkurat III, sebagai raja ‘tandingan’ dengan gelar Sunan Amangkurat V. Serangan-serangan pasukan ini akhirnya dapat merebut keraton Mataram di Kartasura pada pertengahan tahun 1742.

Sayang, enam bulan kemudian, pasukan Madura di bawah pimpinan Sunan Pakubuwono II merebut kembali tahtanya dengan bantuan sobat barunya, VOC.

Sunan Amangkurat V, yang juga dikenal sebagai Sunan Kuning, diusir dan meneruskan perlawanan secara gerilya. Nahas, pada 1743, Sunan Amangkurat V tertangkap di Surabaya dan dibuang ke Sri Lanka. Perang Sepanjang akhirnya padam pada 1743.

Perang ini barangkali menjadi salah satu pertempuran yang menyatukan Jawa dengan Tionghoa. Delapan puluh tahun setelah Perang Sepanjang, sentimen anti-Tionghoa muncul. Sentimen ini mewarnai Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Nyawa orang Tionghoa yang nggak bersalah kembali melayang sia-sia.

Duh, jangan sampai intoleransi seperti ini terulang kembali ya, Millens! (Ein/IB21/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: