BerandaHits
Jumat, 24 Okt 2024 16:44

Mengenang Kejayaan Sritex, Perusahaan Tekstil Terbesar di Asia Tenggara

Sritex dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri (PN) Niaga Semarang. (Jatengpos)

Siapa sangka, sempat berstatus perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara, Sritex pada akhirnya dinyatakan pailit. Seperti apa ya cerita dari perusahaan yang cukup kondang di Indonesia ini?

Inibaru.id – Raksasa itu tumbang juga. Sempat berstatus sebagai perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara, PT Sri Rejeki Isman Tbk atau yang lebih dikenal sebagai Sritex pada Rabu (23/10/2024) kemarin dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri (PN) Niaga Semarang, Jawa Tengah.

Putusan PN Semarang mengabulkan permohonan PT Indo Bharat Rayon yang merupakan salah satu debitur PT Sritex yang meminta pembatalan perdamaian untuk kasus penundaan kewajiban pembayaran utang yang sebelumnya sudah disepakati. Akhirnya, perusahaan ini pun dianggap lalai memenuhi kewajiban pembayaran utang tersebut dan dinyatakan pailit, deh.

“Mengabulkan permohonan pemohon. Membatalkan rencana perdamaian PKPU pada Januari 2022. Selanjutnya, kurator yang akan mengatur rapat dengan para debitur,” ucap Juru Bicara PN Niaga Semarang Haruno Patriadi sebagaimana dinukil dari Antara, Rabu (23/10).

Meski begitu, kisah Sritex bermula puluhan tahun yang lalu, tepatnya tatkala pemerintahan Orde Lama Indonesia berganti menjadi Orde Baru. Pada 1966, H.M. Lukminto mendirikan perusahaan kecil yang fokus menjual kain di Pasar Klewer, Solo.

Nggak butuh waktu lama, pada 1968, usaha ini membuka pabrik cetak pertamanya. Di pabrik itulah, kain putih dan berwarna mulai diproduksi. Sepuluh tahun kemudian, Sritex sudah berstatus perseroan terbatas dan semakin berkembang. Pada 1982, mereka membuka pabrik tenun, Millens.

Bahkan pada 1992, Sritex mampu membuat pabrik yang mengombinasikan pemintalan, penenunan, sentuhan akhir, dan busana sekaligus. Bisa dikatakan, sejak saat itulah, Sritex sudah berstatus sebagai salah satu pelaku industri tekstil terbesar di Indonesia.

Sritex sempat berstatus sebagai perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara. (Sritex)

“Di dalam negeri, Sritex pada 1990-an itu mendapatkan orderan seragam batik Korpri, ABRI, dan Golkar,” tulis Tempo dalam Prahara Orde Baru yang terbit pada 2013 lalu.

Nggak hanya mulai menguasai pasar tekstil dalam negeri, pada 1994, Sritex melakukan ekspansi ke luar negeri. Mereka bahkan menjadi penyuplai seragam militer bagi tentara Jerman dan NATO (organisasi militer gabungan negara-negara Atlantik Utara). Bahkan, sejumlah jenama fesyen internasional seperti Guess dan H&M mendapatkan suplai kainnya dari Sritex!

Meski Indonesia dilanda krisis moneter parah pada 1998, nyatanya Sritex mampu bertahan dan bahkan terus berkembang. Tapi, pandemi Covid-19 dan banyaknya utang yang sudah eksis sebelum pandemi bikin perusahaan ini kalang kabut.

Pandemi bikin permintaan global atas produk tekstil anjlok. Penyebabnya tentu saja dari berkurangnya aktivitas ekonomi dan berbagai pembatasan perjalanan kala itu. Ditambah dengan sulitnya mencari pasokan bahan baku, proses produksi Sritex kala itu sangat terganggu. Per 2021 saja, perusahaan ini mencatat kerugian bersih mencapai Rp16,76 triliun!

Ditambah dengan adanya utang yang nilainya juga sampai triliunan Rupiah yang sudah ada sejak sebelum pandemi membuat perusahaan ini sulit bernapas. Meski pandemi sudah berakhir, mereka kesulitan membayar utang-utang tersebut dan akhirnya bikin Sritex yang sempat berstatus sebagai perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara ini akhirnya berstatus pailit.

Cukup mengejutkan ya kabar tentang keruntuhan Sritex. Jadi kepikiran ada berapa banyak karyawan yang akhirnya harus kehilangan pekerjaan akibat hal ini di tengah kondisi ekonomi Indonesia yang juga masih belum baik-baik saja. (Arie Widodo/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: