BerandaHits
Senin, 15 Des 2024 08:32

Cerita Mereka yang Pindah ke Kota Semarang untuk Kehidupan yang Lebih Sehat

Ilustrasi: Taman Diponegoro, salah satu RTH di Kota Semarang yang masih hijau. (Google Street View)

Ternyata ada lo orang-orang yang sengaja pindah ke Semarang karena merasa kota ini bisa jadi opsi tempat tinggal lebih sehat. Seperti apa ya cerita mereka terkait dengan hal ini?

Inibaru.id – Tatkala saya mewawancarai Putri, seorang pekerja kantoran yang sudah beberapa tahun tinggal di Semarang setelah sebelumnya hidup di Jakarta, hal pertama yang saya prediksi tentang alasan mengapa dia mau pindah ke Semarang adalah pengin menikmati kehidupan yang lebih tenang atau yang istilah kerennya adalah slow living. Tapi, alasan yang dia beberkan ternyata melenceng dari anggapan saya sebelumnya.

“Aku pengin lingkungan dengan udara yang lebih sehat. Karena riwayat kesehatanku, sulit kalau terus hidup di Jakarta yang polusinya buruk. Apalagi di sana ada polusi dari PLTU Batubara. Keluar rumah sedikit juga banyak perokok jadi sulit buatku bernapas dengan lega. Di sini, setidaknya tempat kerjaku ada di kawasan yang rindang, jadi lebih baik buat aku,” ucap Putri, Jumat (13/12/2024).

Sebagai seseorang yang paling lama menetap di Jakarta adalah satu pekan, jawaban yang dibeberkan Putri nggak bisa langsung dicerna kepalaku. Apalagi, masih ingat betul di kepala, sekitar 10 tahun yang lalu, salah seorang rekan volunteer dari Swiss bernama Lucia sempat saya ajak nongkrong di pinggir jalan depan Pura Agung Giri Natha. Bukannya terkesima dengan pemandangan Kota Semarang dari atas, dia malah lebih memperhatikan polusi udara yang nggak pernah dia lihat di negaranya.

“Itu bukan kabut kan? Warna kabut nggak seperti itu. Aku jadi paham mengapa kalian selalu pakai jaket dan masker kalau naik motor ke mana-mana,” ucap perempuan yang sudah balik ke negaranya tersebut.

Tapi, Semarang sedekade yang lalu sepertinya memang berbeda dengan Semarang pada masa sekarang. Polusi udara memang masih jadi masalah besar bagi kota ini selain masalah banjir dan kemacetan yang belum bisa diselesaikan. Untungnya, sudah ada perbaikan di banyak sektor, khususnya dalam keseriusan mengelola ruang terbuka hijau (RTH).

Kita nggak membicarakan kawasan di mana kondisi alam masih hijau seperti di Kecamatan Mijen atau Gunungpati, ya, Millens. Yang kita bahas adalah sejumlah taman di Kota Semarang sudah banyak bersolek dan jadi ruang publik yang nyaman bagi banyak orang.

Taman Indonesia Kaya, salah satu RTH yang jadi tempat favorit banyak orang untuk menikmati ruang publik. (Googleuser/Yosefh Angga)

“Dulu pas kuliah di sini, taman di Semarang nggak ada yang menarik. Sekarang ada Taman Indonesia Kaya yang jadi lebih bagus. Ada Taman Pandanaran dan Taman Diponegoro dekat RS Elisabeth juga. Tapi yang bikin aku terkesan setelah balik lagi ke sini, Jalan S. Parman ternyata masih sehijau itu. Eye-catching banget buat dilewati,” ucap Adi Sardjono, pekerja IT yang pulang ke Semarang setelah lama bekerja di Kawasan Industri Cikarang, Sabtu (14/12).

Realitanya, dalam sepuluh tahun belakangan, Kota Semarang memang serius memperbaiki RTH-nya. Menurut keterangan Wali Kota Hevearita Rahayu pada 13 Januari 2024 lalu saja, kini di Semarang sudah ada 143 taman dan setidaknya 13 hutan kota. Jika menilik Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025-2045, terkuak rencana memastikan RTH di Semarang berada di angka 11.211 hektare.

Lebih dari itu, meski banyak armadanya yang justru bikin polusi udara karena gas buangnya yang mirip semburan tinta cumi-cumi, Trans Semarang terus diperbaiki layanannya oleh Pemkot Semarang dengan harapan semakin menarik pengguna. Hal ini membuahkan hasil karena jika pada 2010 lalu Trans Semarang hanya mampu mengangkut 369 ribuan penumpang, selama 2022, tercatat penumpangnya mencapai lebih dari 6,5 juta orang.

Meski belum benar-benar secara efektif mengatasi polusi udara dan kemacetan serta masih perlu perbaikan di sana-sini, peningkatan jumlah penumpang transportasi umum di Kota Semarang ini tentu patut dihargai. Jika dikombinasikan dengan semakin membaiknya kondisi RTH, saya akhirnya mengerti alasan mengapa Putri merasa Kota Semarang bisa jadi opsi tempat tinggal yang lebih sehat.

Menariknya, hal ini juga diamini oleh Adi yang mengaku merasa lebih nggak mudah stres setelah kembali ke Semarang jika dibandingkan dengan di tempat kerjanya dulu.

“Sekarang jadi jarang kena asam lambung atau kepala pusing. Apalagi pas akhir pekan, terkadang saya berolahraga jalan kaki dari Taman Indonesia Kaya sampai ke Stadion Tri Lomba Juang atau main ke BSB. Kalau malam bisa mencari tempat melihat city light untuk meredakan stres. Rasanya jadi punya opsi untuk hidup lebih sehat di sini,” lanjutnya.

Yap, siapa sangka, Semarang yang dulu hanya dikenal gara-gara banjir dan suhu panas, kini bisa jadi opsi untuk jadi tempat tinggal yang lebih sehat. Kalau menurut kamu sendiri, apakah Semarang dengan berbagai kekurangannya ini memang bisa jadi pilihan tempat tinggal yang ideal, Millens? (Arie Widodo/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: