BerandaHits
Selasa, 24 Mar 2025 13:01

Mengapa Kepala Babi dan Bangkai Tikus Kerap Digunakan untuk Meneror?

Babi kerap digunakan sebagai simbol teror. (via Detik)

Kepala babi sering dianggap sebagai bentuk penghinaan religius dan alat provokasi, sementara tikus diasosiasikan dengan penyakit, pengkhianatan, dan kehancuran.

Inibaru.id - Baru-baru ini, beredar berita bahwa kantor salah satu media besar di Indonesia mendapat kiriman berupa kepala babi. Nggak berhenti di situ, beberapa hari kemudian kantor tersebut kembali menerima bangkai tikus.

Sebenarnya, penggunaan kepala babi sebagai simbol teror bukan kali pertama terjadi. Melansir Kompas (23/3/2025), jurnalis Rusia di Moskow, Alexei Venediktov juga pernah menerima teror kepala babi. Paket itu dikirim ke apartemennya pada Maret 2022 silam.

Pada kasus lain, seorang lelaki di Indianapolis, Amerika Serikat juga pernah mengirimkan tikus mati ke rumah mantan istrinya sebagai sebuah ancaman pada 2020.

Tapi, mengapa harus kepala babi dan tikus mati? Ternyata penggunaan kepala babi dan tikus sebagai simbol teror memiliki akar yang dalam dalam konteks sosial, budaya, dan agama. Berikut adalah penjelasan mengenai alasan di balik penggunaan simbol-simbol tersebut:

Kepala Babi sebagai Simbol Teror

1.  Pelanggaran Nilai Religius

Dalam ajaran Islam dan Yahudi, babi dianggap sebagai hewan haram dan najis. Menempatkan kepala babi di tempat ibadah atau lingkungan komunitas Muslim atau Yahudi nggak hanya merupakan penghinaan, tetapi juga bentuk provokasi yang mendalam terhadap keyakinan religius mereka.

2. Simbol Kebencian dan Intimidasi

Penggunaan kepala babi seringkali dimaksudkan untuk menebar ketakutan dan menunjukkan kebencian terhadap kelompok tertentu. Misalnya, insiden di mana kepala babi ditempatkan di depan masjid atau sekolah Islam di berbagai negara menunjukkan upaya untuk mengintimidasi komunitas Muslim.

3. Asosiasi dengan Sifat Negatif

Secara historis dan budaya, babi sering diasosiasikan dengan sifat-sifat negatif seperti kerakusan dan kekotoran. Dalam beberapa budaya, babi digunakan sebagai simbol untuk menggambarkan perilaku yang tidak bermoral atau menjijikkan.

Tikus sebagai Simbol Teror

1. Simbol Penyakit dan Kehancuran

Tikus dikenal sebagai hewan yang menyebarkan penyakit. (Shutterstok)

Tikus sering dikaitkan dengan penyebaran penyakit dan kondisi lingkungan yang nggak higienis. Dalam sejarah, tikus dikenal sebagai pembawa wabah, seperti wabah pes, yang menyebabkan kematian massal. Oleh karena itu, tikus menjadi simbol ketakutan terkait penyakit dan kematian.

2. Representasi Pengkhianatan dan Kerusakan

Dalam beberapa budaya, tikus dianggap sebagai simbol pengkhianatan, kelicikan, dan perusakan. Penggunaan tikus sebagai simbol teror dapat dimaksudkan untuk menggambarkan seseorang atau kelompok sebagai perusak atau pengkhianat yang bekerja di bawah permukaan untuk merusak tatanan sosial.

3. Efek Psikologis

Tikus sering menimbulkan rasa jijik dan takut pada banyak orang. Penggunaan tikus atau gambar tikus dalam tindakan teror dapat memanfaatkan respons emosional ini untuk menimbulkan ketidaknyamanan atau ketakutan pada targetnya.

Penggunaan kepala babi dan tikus sebagai simbol teror menunjukkan bagaimana elemen-elemen yang memiliki konotasi negatif dalam budaya dan agama dapat dimanfaatkan untuk menebar ketakutan, kebencian, dan intimidasi terhadap individu atau kelompok tertentu.

Kalau kamu dikirimi paket begini, apa yang bakal kamu lakukan, Millens? (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Asal-usul Warmindo, Warung Mi Instan yang Berawal dari Burjo

31 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: