BerandaHits
Jumat, 9 Apr 2026 15:57

Masuk Usia Dewasa tapi Merasa Gagal Mandiri, Mengapa Bisa Terjadi?

Ilustrasi: Merasa gagal mandiri saat usia dewasa acap dikenal dengan istilah failure to launch syndrome. (Gamequitters)

Transisi menuju dewasa selalu penuh tantangan. Nggak semuanya berjalan mulus, hingga muncullah istilah failure to launch syndrome. Apakah itu dan gimana cara mengatasinya?

Inibaru.id - Andri, bukan nama sebenarnya, tahun ini akan berstatus kepala tiga. Namun, hingga kini dia nggak juga beranjak dari kediaman orang tuanya. Pekerjaannya serabutan, penghasilan pas-pasan, dan belum berpikir untuk segera menikah, meski sudah dua tahun berpacaran.

"Aku bukannya nggak punya keinginan untuk menikah atau punya rumah sendiri. Hanya belum jalannya saja," sebut lelaki penyandang gelar sarjana pendidikan dari sebuah kampus swasta di Yogyakarta tersebut, Sabtu (4/4/2026).

Andri bukanlah satu-satunya lelaki dewasa yang dianggap "gagal mandiri". Di sekitar kita, banyak anak muda yang juga bernasib serupa. Orang-orang melabeli sosok seperti Andri dengan istilah failure to launch syndrome.

Istilah itu merujuk pada situasi ketika seorang dewasa muda gagal melakukan transisi menuju kemandirian penuh, baik secara ekonomi maupun sosial. Meski sudah melewati usia yang diharapkan bisa mandiri, mereka tetap bergantung pada orang tua untuk tinggal, membiayai hidup, bahkan mengambil keputusan.

Bukan Diagnosis Medis

Meski sering disebut “sindrom”, penting untuk dicatat bahwa failure to launch bukanlah diagnosis medis resmi yang termuat dalam buku diagnosis gangguan mental seperti DSM-5. Jadi, istilah ini lebih bersifat deskriptif untuk menggambarkan pola perilaku alih-alih kondisi klinis seseorang.

Pola perilaku failure to launch secara umum disematkan untuk para dewasa muda berusia 18-30 tahun yang mengalami kesulitan menuju dewasa, yang dilegitimasi dengan kemampuan mencari dan mempertahankan pekerjaan stabil, tinggal mandiri, mengatur hidup secara finansial, atau melanjutkan pendidikan.

Individu dalam keadaan ini acapkali digambarkan sebagai sosok yang tinggal bersama orang tua lebih lama dari ekspektasi sosial, mengalami kesulitan menetapkan tujuan hidup yang jelas, nggak punya strategi untuk karier atau hubungan, dan bergantung pada orang tua secara ekonomi atau emosional.

Dalam banyak budaya modern, fenomena ini semakin banyak dibicarakan karena statistik menunjukkan peningkatan angka dewasa muda yang tinggal bersama orang tua dalam usia pertengahan dua puluhan ke atas, sesuatu yang dulu sangat jarang terjadi.

Bukan Sekadar Malas

Stigma masyarakat cenderung menganggap orang seperti Andri sebagai sosok yang gagal. Ketidakmampuan untuk mandiri adalah aib keluarga, sehingga secara serampangan acap dipersempit oleh orang-orang sebagai bentuk kemalasan atau kegagalan karakter.

Padahal, label ini nggak sepenuhnya tepat, karena berbagai riset dan pendapat pakar psikologi telah menegaskan bahwa penyebab fail to launch syndrome bisa bermacam-macam. Apa saja faktor penyebabnya?

1. Tekanan ekonomi modern

Tekanan ekonomi modern yang disebabkan oleh biaya pendidikan tinggi yang tinggi, pasar kerja yang kompetitif, dan harga rumah yang melonjak membuat kemandirian finansial menjadi lebih sulit dicapai daripada generasi sebelumnya, especially in this economy!

2. Rasa cemas dan takut gagal

Perasaan takut menghadapi tantangan pekerjaan, hubungan, atau kehidupan mandiri bisa membuat seseorang merasa lebih aman tetap berada di zona nyaman. Inilah yang kadang membuat anak muda yang mulai beranjak dewasa enggan untuk melangkah.

3. Dinamika keluarga

Gaya asuh yang sangat protektif (helicopter parenting atau snowplow parenting) bisa membuat keterampilan mengambil risiko dan menyelesaikan masalah nggak berkembang optimal.

4. Perkembangan psikologis yang belum siap

Banyak anak muda mengalami apa yang disebut profesor psikologi Jeffrey Arnett sebagai emerging adulthood, fase antara remaja dan dewasa penuh yang acap melibatkan eksplorasi, ketidakpastian, dan ketidakseimbangan dalam mengatur identitas hidup.

Tantangan menuju Dewasa

Ilustrasi: Failure to launch syndrome adalah kesulitan seseorang mencapai dan mempertahankan kemandirian dari keluarga asal atau menyelesaikan tugas perkembangan yang umum pada usia dewasa awal. (Getty Images vis Verywellmind)

Menurut Alyssa Frers, psikolog sekaligus konselor profesional berlisensi asal Texas, failure to launch syndrome adalah kesulitan seseorang mencapai dan mempertahankan kemandirian dari keluarga asal, serta kesulitan menyelesaikan tugas perkembangan yang umum pada usia dewasa awal.

"Masalah yang dihadapi lebih dari sekadar tinggal bersama orang tua atau tidak. Ini adalah tantangan dalam transisi menuju dewasa, dengan motivasi dan kecakapan hidup yang kurang berkembang secara optimal," sebutnya.

Sementara, penulis cum psikolog Dr Randy Paterson menegaskan, ketidakmampuan mandiri atau ketergantungan terhadap orang tua itu acapkali bukanlah keinginan yang bersangkutan untuk hidup pasif, tapi berkaitan erat dengan faktor psikologis seperti kecemasan atau depresi.

Perlu digarisbahwai bahwa nggak semua dewasa muda yang tinggal bersama orang tua berarti mengalami failure to launch, karena model keluarga multigenerasi adalah hal yang normal di banyak budaya. Jadi, tinggal bersama orang tua nggak bisa menjadi tolok ukur.

"Namun, ketika seseorang tidak memiliki arah hidup, fungsi sosial yang minim, dan ketidakmampuan untuk mengambil peran dewasa secara konsisten, masalah ini bisa menjadi sumber stres besar baik untuk individu maupun keluarga," sebut Dr Peterson.

Gimana Mengatasi Failure to Launch?

Individu yang dianggap nggak punya pencapaian secara karier, hubungan jangka panjang, atau kemandirian finansial seringkali menghadapi kondisi rendah diri, malu, bahkan menghadapi tekanan sosial. Lalu, gimana cara menghadapinya?

Meskipun terkesan membingungkan, sejatinya ada cara-cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi atau keluar dari pola tersebut.

1. Konsultasi atau terapi psikologi

Kegagalan untuk mandiri acapkali muncul karena perasaan takut, minder, atau trauma masa lalu yang sulit teridentifikasi tanpa bantuan psikolog. Maka, konsultasi dan terapi mungkin dapat membantu mengidentifikasi kecemasan, pola-pola menghindar, atau isu kesehatan mental yang membuat kemajuan terasa sulit.

2. Mulai dengan target kecil dan realistis

Alih-alih memandang jauh ke depan, fokuslah pada pencapaian yang bertahap. Buat target kecil yang realistis seperti mengambil pekerjaan sambilan, paruh waktu, atau memulai kursus keterampilan tertentu sebagai pijakan untuk membantu membangun momentum.

3. Bangun rasa tanggung jawab

Merasa nggak harus bertanggung jawab terhadap hidup sendiri lantaran masih memiliki "penjamin" acap membuat kita bertahan di zona nyaman. Maka, mulailah dengan membangun rasa tanggung jawab, misalnya dengan berkontribusi untuk pekerjaan domestik.

Setelah pekerjaan domestik, secara bertahap mulai ambil peran, misalnya berkomitmen membayar tagihan listrik atau air di rumah, yang otomatis akan mendorong kita memutar otak untuk mencari pekerjaan atau berkreasi untuk menghasilkan uang.

4. Mengontrak atau ngekos

Setelah memiliki cukup uang untuk bertahan hidup, mulailah mengontrak atau mengekos di tempat yang lebih dekat dengan tempat kerja. Tujuannya adalah untuk mendorong rasa tanggung jawab yang jauh lebih besar saat jauh dari orang tua.

Tolok ukur kemandirian tiap orang memang berbeda-beda. Namun, hidup berjalan dalam stigma yang berlaku di masyarakat. Transisi menuju dewasa memang penuh tekanan dan nggak semuanya berjalan mulus. Maka, hadapilah dan bikin strategimu sendiri ya, Gez! Selamat mencoba! (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Tips Mendapatkan Spot Hanami untuk Melihat Bunga Sakura di Jepang

26 Mar 2026

Menilik Keindahan Puncak Gunung Mundri di Kecamatan Jepon, Blora

26 Mar 2026

Stevanus Ming, Juru Bahasa Isyarat yang Selalu Suarakan Teman-Teman Tuli

26 Mar 2026

Festival Balon Udara Kembaran, Daya Tarik Wonosobo Sepekan setelah Lebaran

26 Mar 2026

Raksasa Ritel Pangan Asia Disorot: Jago Jualan Daging, tapi Loyo Tekan Emisi Metana!

26 Mar 2026

Kunjungan Wisata Jateng Naik 5,25 Persen, Kota Lama Semarang Jadi Juara

26 Mar 2026

Mudik Lebaran, Me-refresh Pikiran

27 Mar 2026

Jika Memasang Dashcam Mobil, Apakah Aki Bisa Tekor?

27 Mar 2026

Kesederhanaan Mendiang Bos Djarum yang Terpatri di Dinding Kedai Tahu Pong Karangsaru Semarang

27 Mar 2026

Akhiri Libur Lebaran di Semarang dengan Rangkaian Mahakarya Goa Kreo dan Prosesi Sesaji Rewanda!

27 Mar 2026

Kemarau Panjang 2026; Saat Daratan Kering, Laut Indonesia Justru Panen Raya Ikan!

27 Mar 2026

Besok Gubernur Ahmad Luthfi Lepas Ribuan Perantau Balik Gratis ke Jakarta & Bandung

27 Mar 2026

Manisnya Kecap Kentjana Kebanggaan Kebumen

28 Mar 2026

Apa Saja yang Perlu Dipersiakan Traveler Muslim Sebelum Liburan ke Jepang?

28 Mar 2026

Hati-Hati, 56 Persen Konten Mental Health di Medsos Ternyata Ngawur!

28 Mar 2026

Balik Rantau Gratis Pemprov Jateng Panen Jempol

28 Mar 2026

Penyebab Tubuh Cepat Lelah saat Cuaca Panas

29 Mar 2026

Kuliner Malam Legendaris Yogyakarta; Bubur Pawon Mbah Sadiyo

29 Mar 2026

Waspada El Nino 'Godzilla'! Ini 7 Penyakit yang Mengintai saat Kemarau Panjang 2026

29 Mar 2026

Studi Temukan Kandungan Timbal pada Baju Fast Fashion Anak, Warna Cerah Paling Rawan

29 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: