BerandaHits
Selasa, 25 Jul 2022 15:05

Latah 'Citayam Fashion Week' di Daerah dan Klaim Lahirnya Harajuku Indonesia

Citayam Fashion Week mulai banyak diadopsi di banyak daerah di Indonesia. (Sindonews/Yulianto)

Sejumlah daerah ikut-ikutan menggelar 'Citayam Fashion Week'-nya sendiri. Latah tren ini pun dikritik banyak pihak karena dianggap tidak akan bertahan lama.

Inibaru.id – Tren Citayam Fashion Week muncul seperti oase menyegarkan di tengah isu-isu yang biasanya bikin warga Indonesia merasa terlahir di negara yang salah. Tren ini seperti "berhasil" menutupi masih belum beresnya harga minyak goreng, bahan makanan, dan Bahan Bakar Minyak (BBM). Keberadaan tren ini pun disambut semua kalangan, mulai kalangan ekonomi rendah, hingga mereka yang berasal dari kelas atas dan para selebritas.

Kawasan Sudirman yang dilengkapi dengan sarana transportasi umum dan area pedestrian yang nyaman memungkinkan siapa saja berkumpul dan mengekspresikan diri. Di sana, kelas sosial seperti melebur.

Kamu bisa saja datang dengan style pakaian terbaikmu, membawa pakaian adat tradisional dari daerah yang kamu banggakan, hingga memakai kostum anime, tokoh pewayangan, superhero, atau game favoritmu. Kamu bisa memakai kostum hantu, atau membawa hewan peliharaan kesayanganmu. Kamu juga bisa datang hanya dengan membawa kamera atau sekadar ingin melihat-lihat.

Saking serunya Citayam Fashion Week, sejumlah daerah mulai mengadopsi fashion week-nya sendiri. Di Bandung yang sejak dulu dikenal sebagai pusat fesyen Tanah Air, muncul Braga Fashion Week. Memang, acara yang digelar di Jalan Asia Afrika yang ikonik ini diinisiasi oleh jenama baju lokal. Tapi, tetap saja acara ini sukses mengundang anak muda untuk ikut-ikutan mengekspresikan diri di catwalk jalanan Bandung.

Sementara itu, pada Sabtu (23/7/2022) lalu di Yogyakarta, diadakan Hamzah Batik Fashion Street atau Malioboro Fashion Week. Beda dengan konsep Citayam Fashion Week dan Braga Fashion Week yang cenderung memamerkan busana modern, acara ini lebih menonjolkan kostum-kostum tradisional seperti kostum wayang. Wajar mengingat Yogyakarta selama ini identik dengan tradisi Jawa yang kuat.

Latah Citayam Fashion Week di daerah. Diprediksi banyak orang hanya bakal jadi tren sesaat. (Suaramerdeka/Maulana Fahmi)

Menawarkan Beragam Keuntungan

Sebagaimana acara-acara keramaian pada umumnya, fashion week ini tentu bisa memberikan berkah bagi para pedagang makanan dan minuman dan para tukang parkir. Mereka bisa meraup untung lebih besar dari biasanya.

Sementara itu, bagi mereka yang ikut mengekspresikan diri, keuntungan yang didapat bisa bermacam-macam. Lebih dari sekadar mempelajari tren-tren terbaru, mereka juga bisa membentuk komunitas dengan orang-orang yang punya selera sama. Bahkan, ada kabar kalau banyak pemandu bakat yang sengaja mencari calon model di tempat tersebut.

Tapi, sebagaimana tren-tren yang muncul pada umumnya di Indonesia, banyak yang memprediksi tren latah Citayam Fashion Week ini hanya berlangsung sesaat, persis seperti tren tanaman hias, batu akik, dan lain-lain. Hebohnya tren ini dianggap lebih dipengaruhi oleh banyaknya orang yang FOMO alias nggak pengin ketinggalan tren demi bisa ikut-ikutan mengunggahnya di media sosial. Setelah puas, mereka pun lambat laun meninggalkannya.

Butuh Public Space

Selain itu, di Indonesia belum banyak public space yang nyaman digunakan masyarakat untuk melakukan kegiatan komunal seperti kawasan Sudirman di Jakarta, Malioboro di Yogyakarta, atau Kota Lama di Semarang. Padahal, keberadaan public space yang memungkinkan semua lapisan masyarakat datang, berkumpul, dan mengekspresikan diri menjadi syarat mutlak bagi masyarakat untuk secara alami membuat acara fesyen jalanan.

Jadi, jika ada pertanyaan apakah tren ini hanya akan berlangsung sesaat atau bisa berkembang sebagaimana Harajuku di Jepang, jawabannya bisa ya dan tidak. Jika pemerintah pusat atau daerah bisa menyediakan public space, apalagi yang mudah diakses transportasi umum, bisa jadi tren ini bakal terus berkembang. Apalagi jika pelaku fesyen nasional, termasuk dari kalangan atas mau ikut berkontribusi pada fesyen jalanan ini.

Jika dukungan tersebut tidak ada, jangan kaget jika dalam beberapa tahun ke depan, tren ini pun akan menguap dan tergantikan dengan tren-tren lainnya. (Arie Widodo/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

'Bom Nuklir' dan 'Perdamaian' yang Viral di Tengah Eskalasi Konfik Timur Tengah

6 Mar 2026

Saking Bekunya Musim Dingin, Warga Laut Baltik Berseluncur dari Satu Pulau ke Pulau Lain

6 Mar 2026

Bukan Emas Lagi; MUI Jateng Ubah Patokan Nisab Zakat Profesi

6 Mar 2026

Duduk Perkara Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip versi Polrestabes Semarang

6 Mar 2026

Oksigen Banyak dari Laut, Terus Kenapa Masih Ribut Soal Hutan?

6 Mar 2026

Tiket Mudik Ludes 400 Ribu! Cek Tanggal Favorit dan Kereta Pilihan di Daop 4 Semarang Ini

6 Mar 2026

Wisata Alam Kalikesek Semakin Ramai, Warga Desa Sriwulan Dapat THR

7 Mar 2026

Masjid Fujikawaguchiko, Tempat Salat dengan Latar Spektakuler Gunung Fuji di Jepang

7 Mar 2026

Sahur Tanpa Nasi Cuma Makan Lauk, Beneran Bikin Kuat Puasa Seharian?

7 Mar 2026

Ikan Air Tawar vs Ikan Laut: Siapa yang Paling Tahan Lawan Pemanasan Global?

7 Mar 2026

Aman Nggak Ya Mudik dengan Mobil Listrik?

8 Mar 2026

Membedah Mitos Minum Air Hangat Bisa Turunkan Berat Badan

8 Mar 2026

Restorative Justice Akhiri Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip Semarang

8 Mar 2026

Berburu Baju Bekas sekaligus Bantu Korban Kekerasan di Bazar Preloved Sintas

8 Mar 2026

Sarung Tangan Karet Bekas Ternyata Bisa Jadi 'Penyedot' Polusi

8 Mar 2026

Srikandi Ojol Jateng Kini Punya Aplikasi Khusus Anti-Pelecehan

8 Mar 2026

Musim Mudik, Pengendara Diimbau Istirahat di Rest Area Maksimal 30 Menit

9 Mar 2026

Menilik Keseruan Momen Membeli Kebutuhan Lebaran

9 Mar 2026

PDAM Semarang Gelar 'Operasi Ketupat', 14 Ribu Penunggak Jadi Sasaran

9 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: