BerandaHits
Sabtu, 31 Jan 2025 19:22

Khilaf atau Kebiasaan? Ketika Kejahatan Terjadi Berulang Kali

Jika kejahatan dilakukan berulang, apa iya masih disebut khilaf? (via Kawan Hukum)

Dalam perspektif hukum dan psikologi, kejahatan yang terus berulang menunjukkan pola perilaku yang disengaja, bukan sekadar khilaf.

Inibaru.id - Sering kali, pelaku kejahatan mengaku khilaf setelah melakukan tindakan melanggar hukum. Kata “khilaf” sendiri bermakna kekeliruan yang terjadi tanpa disengaja, sebuah kesalahan sesaat yang nggak direncanakan. Namun, bagaimana jika perbuatan yang sama dilakukan berulang kali? Masih bisakah disebut sebagai kekhilafan, atau justru sudah menjadi pola kebiasaan?

Dalam kasus kejahatan, terutama yang melibatkan kekerasan, pencurian, atau pelanggaran hukum lainnya, pengakuan “khilaf” sering digunakan sebagai bentuk pembelaan diri. Namun, hukum dan masyarakat perlu melihat lebih dalam: apakah tindakan tersebut benar-benar suatu kekhilafan atau ada unsur kesengajaan dan pola yang terus berulang?

Secara psikologis, seseorang yang benar-benar merasa bersalah karena khilaf cenderung berusaha untuk tidak mengulangi perbuatannya. Sebaliknya, jika seseorang terus melakukan tindakan yang sama, ini menunjukkan kurangnya rasa penyesalan dan justru adanya kecenderungan untuk mengulangi perilaku tersebut. Dengan kata lain, kejahatan yang berulang kali bukan lagi sekadar kekhilafan, tetapi bisa dikategorikan sebagai tindakan sadar yang memiliki motif tertentu.

Dari sudut pandang hukum, pengulangan kejahatan bisa menjadi indikasi bahwa pelaku memiliki niat dan kesengajaan dalam bertindak. Dalam sistem peradilan, ada istilah residivis, yaitu seseorang yang kembali melakukan kejahatan setelah sebelumnya menjalani hukuman atas tindakan serupa. Dalam kasus residivisme, pengakuan “khilaf” nggak lagi relevan, karena sudah jelas ada unsur kesengajaan dan kelalaian dalam mengontrol diri.

Jika kejahatan dilakukan semakin sering, maka ia nggak bisa mengaku khilaf. (Freepik)

Di masyarakat, pengampunan bagi orang yang mengaku khilaf sering kali diberikan sebagai bentuk empati. Namun, ada batasan yang harus diperhatikan. Jika kejahatan yang dilakukan semakin sering, tanpa ada perubahan sikap, maka seharusnya individu tersebut bertanggung jawab atas perbuatannya secara penuh, tanpa berlindung di balik alasan kekhilafan.

Oleh karena itu, penting bagi penegak hukum dan masyarakat untuk lebih kritis dalam menilai klaim “khilaf” dalam suatu kejahatan. Kekeliruan yang dilakukan sesekali bisa jadi memang sebuah kesalahan yang nggak disengaja. Namun, jika terjadi berulang kali, nggak ada lagi alasan untuk menganggapnya sekadar khilaf—melainkan sebagai pilihan yang harus ditindak sesuai hukum yang berlaku.

Kalau kamu percaya nggak motif para penjahat hanya khilaf, Millens? (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: