BerandaHits
Jumat, 7 Okt 2021 17:43

Kasus 'Tiga Anak Saya Diperkosa' Viral, Dilabeli Hoaks Oleh Polisi

Ilustrasi: Kasus Tiga Anak Saya Diperkosa viral di media sosial. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Project Multatuli merilis laporan berjudul "Tiga Anak saya Diperkosa" yang kemudian viral di media sosial. Namun, kasus ini dihentikan polisi dan sang ibu yang melaporkan disebut mengalami gangguan jiwa. Kok bisa?

Inibaru.id – Sejak Rabu (6/10/2021), artikel dengan judul Tiga Anak Saya Diperkosa yang dikeluarkan Project Multatuli viral di media sosial. Banyak yang geram dengan kasus mengerikan ini. Namun, menurut kepolisian setempat, kasus ini hanyalah hoaks belaka. Mana yang benar, sih?

Artikel di situs Project Multatuli beberapa kali menghilang dan sulit untuk diakses. Namun, sejumlah media lain seperti Vice mengunggahnya ulang sehingga banyak orang memiliki pilihan untuk membacanya. Satu hal yang pasti, kasus ini menceritakan ibu dari tiga anak yang semuanya berusia kurang dari 10 tahun mencari keadilan.

Yang bikin heboh, pelaku yang diduga melakukan pemerkosaan terhadap tiga anak yang masih kecil itu adalah sang suami dari ibu tersebut. Sang suami adalah seorang ASN dengan jabatan mentereng di Kantor Dinas Pemerintahan Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Namun, menurut keterangan kepolisian, sang ibu justru dianggap memiliki gangguan kesehatan mental.

Menurut Project Multatuli pula, disebutkan bahwa pemerkosaan terhadap anak-anak ini terjadi pada Oktober 2019. Semua bermula saat sang ibu mendengarkan keluhan sakit organ vital dari anak sulungnya. Usai ditanya lebih mendalam, dia mengaku sudah diperkosa ayahnya sendiri.

Sang ibu tambah terkejut saat tahu kedua anak lainnya yang lebih kecil juga pernah diperkosa oleh sang ayah. Pasangan ini memang sudah bercerai, namun sang ayah cukup sering bertemu dengan anak-anaknya. Hal inilah yang membuat sang ibu melaporkan kasus ini ke polisi.

(Sang Ibu) melaporkan mantan suaminya untuk dugaan pemerkosaan pada tiga anaknya yang masih di bawah usia 10 tahun. Mengad ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Luwu Timur, dan Polres Luwu Timur,” tulis Project Multatuli.

Polres Luwu Timur. (Project Multatuli/Eko Rusdianto)

Sang ibu justru dituding mengalami gangguan kesehatan mental dan diminta untuk menandatangani BAP tanpa pernah membacanya. Saat Eko Rusdianto dari Project Multatuli meminta salinan hasil psikiater sang ibu, polisi bilang nggak bisa karena data itu harus mereka yang pegang.

“Penyidik memaksa saya, dan saya ikut tanda tangan” terang sang ibu dalam laporan tersebut.

Polisi ternyata menghentikan proses penyelidikan kasus ini. Sang ibu nggak terima dan menemui LBH Makassar. Dari LBH Makassar ini, dia mendapatkan respons dari Komnas Perempuan.

Dilabeli Hoaks oleh Kepolisian

Polres Luwu Timur merespons laporan Project Multatuli ini. Lewat akun Instagram, mereka menyebut laporan itu kurang bukti dan hoaks belaka. Meski begitu, mereka mengakui pernah menangani kasus ini pada 9 Oktober 2019 lalu.

Menurut polisi, sang ayah sudah diperiksa. Anak-anak yang disebut sebagai korban juga sudah menjalani visum dua kali di Puskesmas Malili serta RS Bhayangkara Makassar bersama dengan sang ibu, ayah, sekaligus petugas dari P2TPA Luwu Timur. Dari hasil visum inilah, polisi yakin nggak ada trauma atau kelainan pada alat vital korban.

Selain itu, polisi juga mengklaim anak-anak ini tetap akrab dengan ayahnya saat pemeriksaan. Dari hal-hal inilah mereka memutuskan untuk menghentikan penyelidikan.

Yang jadi pertanyaan, mengapa sampai situs Project Multatuli sampai sulit diakses meski polisi menyebut kasusnya hanya hoaks belaka. Mungkinkah terjadi serangan atau peretasan? Hm, semoga saja segera terungkap kebenarannya, ya Millens? (Hop/Vic/Ini/IB09/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: