BerandaHits
Selasa, 5 Mar 2018 19:01

Usaha Turun-temurun Minumuman Khas Kota Semarang

Penjual wedang tahu di salah satu sudut Kota Semarang. (Inibaru.id/Verawati Meidiana)

Kota Semarang punya sejumlah minuman khas yang bisa menghangatkan tubuh pada cuaca dingin. Di tengah kepungan kuliner kekinian di Kota Lunpia, popularitas kuliner tradisional ini meredup, meski nggak pernah benar-benar kehilangan penggemarnya. Apa saja?

Inibaru.id – Kota Semarang dikenal sebagai salah satu kota di Jawa Tengah yang kaya akan kuliner tradisional. Selain makanan, Kota ATLAS sempat familiar dengan minuman tradisionalnya yang khas. Sebutlah misalnya Jamu Jun, Wedang Kacang Tanah, dan Wedang Tahu.

Namun, keberadaan minuman tradisional yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu dan diwariskan secara turun-temurun itu kini bisa dibilang mengkhawatirkan. Zaman yang terus berkembang justru menenggelamkan popularitas minuman-minuman tradisional itu, Millens.

Dulu, minuman ini begitu mudah dicari. Namun, wedang-wedang itu kini kian sulit ditemui. Bahkan, sebagian masyarakat Semarang juga mulai melupakannya atau bahkan sama sekali nggak mengenalnya. 

Anissa Dyah Pertiwi, misalnya, mengaku nggak akrab dengan minuman-minuman tradisional tersebut. Ketika diminta menyebutkan nama-nama minuman khas dari Semarang, mahasiswa asal Kota Lunpia ini hanya bisa menggelengkan kepala. 

Baca juga:
Jajanan Masa Kecil yang Bertransformasi
Lunpia, Produk Akulturasi Tionghoa dan Jawa

“Nggak tahu! Tahunya ya wedang ronde, itu pun ragu asal Semarang atau bukan,” terang Anissa, lalu tertawa.

Setali tiga uang, Nur Laily yang lahir di Semarang juga nggak tahu banyak tentang minuman yang paling khas dari kota kelahirannya tersebut. Mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang itu hanya pernah sedikit mencecap Wedang Tahu, itupun nggak begitu sering.

“Paling-paling yang saya kenal ya Wedang Tahu. Pernah coba, tapi jarang beli karena yang jual sedikit,” kata dia.

Jauh sebelum mengalami kelangkaan, jamu jun, wedang kacang tanah, dan wedang tahu adalah pilihan terbaik masyarakat Semarang untuk menghangatkan diri saat cuaca dingin. Terbuat dari rempah-rempah dan bahan alami, ketiga minuman itu juga bagus untuk kesehatan.

Namun, seiring dengan peminat yang mulai berkurang dan kian banyaknya kuliner tandingan, penjual ketiga minuman itu pun turut surut, bahkan saat ini bisa dihitung jari. Meski begitu, mereka yang bertahan kini malah menjadikan minuman tradisional tersebut sebagai komoditas sumber penghasilan.

Lismiyati, penjual Jamu Jun asal Demak, mengaku menjadikan minuman tradisional tersebut sebagai mata pencaharian utamanya. Dibantu sang suami, Mahmud, perempuan yang sudah 10 tahun menjadi penjual jamu jun itu mengatakan, usaha itu merupakan "bisnis" turun-temurun.

"Ya, turun-temurun. Sekarang saya generasi keempat,” ujar Lis, panggilan akrabnya, saat ditemui di pasar pagi belakang Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Sebelum Lis, ibunya sudah berjualan selama 30 tahun. Namun, karena ibunya sudah nggak kuat berjualan akhirnya Lis yang menggantikan. Dia berjualan di beberapa tempat. Setiap Jumat dan Minggu dia berjualan di pasar pagi belakang Gubernuran, sedangkan pada Senin-Kamis perempuan berkerudung itu berjualan di Pasar Prembaen.

Menggantungkan hidup dari menjual minuman tradisional juga dilakukan Adi. Dia berjualan Wedang Tahu di sekitar patung Pangeran Diponegoro, Tembalang. Sejak 2010, dia mulai menyajikan mangkuk-mangkuk berisi kembang tahu yang disiram kuah gula dan jahe tersebut.

Sebelum dipercayakan ke tangannya, usaha wedang tahu itu merupakan kepunyaan mendiang bapaknya, Suparwo, yang berjualan di daerah Jalan Mataram sejak 15 tahun silam. Kini, warung wedang tahu itu dia teruskan bersama sang istri, Sri Lestari.

Kendati lokasi berjualan Adi dekat dengan kampus, nggak lantas membuat wedang tahu yang dijajakannya jadi akrab di kalangan mahasiswa. Pembelinya justru lebih banyak dari kalangan orang tua dan penduduk sekitar.

Baca juga:
Mengganjal Perut dengan Kue Ganjel rel
Hangatkan Tubuhmu dengan Jamu Jun Khas Semarang

“Kalau orang tahu khasiat jahe, pasti suka wedang tahu. Namun, sekarang banyaknya orang tua yang beli,” jelas pria lulusan salah satu SMK di Semarang itu.

Senasib dengan Adi, pemilik usaha wedang kacang tanah di daerah Banyumanik, Edi Handoko, juga mengaku sepi dari peminat anak muda. Pembelinya lebih banyak dari kalangan orang tua.

“Kebanyakan ya didominasi bapak-bapak dan ibu-ibu. Mungkin anak muda lebih suka pergi ke kafe,” tuturnya.

Usaha yang sudah ditekuninya selama lima tahun itu juga merupakan warisan dari orang tuanya, Sardi. Selain untuk mengais rezeki, Edi juga berkeinginan melestarikan dan mengenalkan wedang kacang tanah kepada masyarakat. (MEI,IF/GIL)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: