BerandaHits
Senin, 18 Jan 2026 19:25

Gawat! Dijajah Spesies Asing, Jumlah Serangga Lokal Anjlok

Tawon sangat bermanfaat untuk tanaman. Sayangnya, populasinya menurun. (Shutterstock)

Studi global terbaru mengungkap fakta miris. Diketahui bahwa populasi serangga darat dunia turun hingga 31% akibat invasi spesies asing. Sebagai pahlawan penyerbukan dan penjaga ekosistem, hilangnya serangga-serangga ini bisa jadi ancaman serius buat ketahanan pangan manusia ke depannya.

Inibaru.id - Selama ini kita mungkin cuma tahu kalau serangga itu adalah "pelaku" teror alias hama, seperti kutu kasur atau kumbang yang merusak tanaman. Tapi tahu nggak sih, Gez, ternyata serangga lokal kita justru lagi jadi korban "penjajahan" oleh spesies asing?

Kabar mengejutkan ini datang dari sebuah analisis global pertama yang dipimpin oleh UK Center for Ecology & Hydrology (UKCEH). Riset yang baru saja terbit di jurnal Nature Communications (18/1/2026) ini mengungkap kalau serangga darat di seluruh dunia sedang dalam kondisi terancam serius karena invasi spesies asing.

Spesies asing invasif, baik itu hewan, tumbuhan, maupun mikroba non-asli ternyata bukan cuma jadi pengganggu manusia, tapi juga predator maut buat serangga lokal. Berdasarkan data dari enam benua, kehadiran spesies "pendatang" ini bikin jumlah serangga darat turun drastis sampai 31 persen! Nggak cuma itu, keragaman jenisnya juga anjlok sekitar 21 persen.

Kenapa bisa begitu? Peneliti menyebutkan kalau hewan invasif sering banget memperebutkan makanan atau bahkan langsung memangsa serangga asli. Selain itu, tumbuhan invasif yang tumbuh liar seringkali menggeser tanaman asli yang selama ini jadi "kantin" bagi serangga lokal. Alhasil, mereka kelaparan dan kehilangan rumah.

Siapa yang Paling Menderita?

Populasi kepik berkurang hingga 58%. (Pixabay)

Meta-analisis terhadap 52 studi ini menunjukkan kalau nggak semua serangga punya nasib yang sama. Ada yang terkena dampak lebih parah, Gez:

  • Hemiptera (Kepik-kepikan): Paling menderita dengan penurunan populasi mencapai 58 persen.
  • Hymenoptera (Lebah, Semut, Tawon): Turun sekitar 37 persen. Padahal, kelompok ini adalah pahlawan penyerbukan tanaman kita, lho!
  • Orthoptera (Belalang & Jangkrik): Menurun sekitar 27 persen.
  • Coleoptera (Kumbang): Mengalami penurunan sekitar 12 persen.

Serangga Hilang, Kita yang Repot

Mungkin kamu mikir, "Ah, cuma serangga, biarin aja." Tapi tunggu dulu. Serangga itu punya peran vital buat perut kita. Mereka membantu penyerbukan tanaman pangan, jadi pengendali hama alami, dan menjaga rantai makanan tetap stabil. Kalau populasi mereka habis, produksi pangan manusia bisa ikut terancam!

"Sangat penting bagi kita untuk mengakui serangga tidak hanya sebagai penyerang, tapi juga sebagai korban invasi," ujar Grace Skinner, ilmuwan data di UKCEH yang memimpin studi ini sebagaimana dilansir dari Nature dan Phys.org.

Menurut Grace, kalau tren penurunan ini terus berlanjut, layanan ekosistem yang selama ini kita nikmati secara gratis bakal makin terancam. Solusinya? Kita harus lebih ketat mengelola habitat dan mengendalikan masuknya spesies asing yang bisa merusak keseimbangan alam.

Jadi, mulai sekarang jangan benci sama serangga ya, Gez. Mari kita lebih peduli pada kelestarian ekosistem di sekitar kita karena hewan sekecil itu besar pengaruhnya. (Siti Zumrokhatun/E05)




Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: