BerandaHits
Kamis, 7 Jan 2026 15:02

Budaya Patriarki dan Fenomena 'Kesepian Kolektif' Kaum Lelaki

Ilustrasi: Fenomena male loneliness epidemic salah satunya muncul karena budaya patriarki yang begitu kuat di kalangan para lelaki. (Unsplash/Oleksii Piekhov)

Kian banyaknya kaum adam yang merasa kesepian memunculkan fenomena "male loneliness epidemic". Kesepian kolektif yang didominasi para paruh baya ini diyakini muncul salah satunya sebagai dampak dari budaya patriarki.

Inibaru.id - Andi, bukan nama sebenarnya, seorang karyawan swasta di sebuah perusahaan elit di Jakarta, mengaku nggak pernah lagi hangout dengan teman-temannya setelah menikah. Sepulang kerja, dia memilih langsung pulang. Sementara, saat akhir pekan lelaki 28 tahun ini memilih rehat di rumah.

"Sepi; tentu saja, karena saya sebetulnya sangat ekstrover. Tapi, mau bagaimana lagi? Semua teman sudah menikah. Nggak enak ganggu kesibukan mereka," sebutnya via pesan singkat, Rabu (7/1/2026).

Perasaan serupa juga dialami Rizal (juga bukan nama sebenarnya), pegawai negeri yang saat ini bertugas di Kota Semarang. Beberapa tahun terakhir, dia merasa seperti menarik diri dari kehidupan sosial dan memilih menekuni hobi-hobi soliter seperti memancing atau traveling.

"Bukan berarti aku nggak punya teman, lo! Aku juga sering ketemu orang baru, kenalan, dan mengobrol. Namun, entah kenapa nggak ada satu pun yang jadi teman dekat. Datang dan pergi begitu saja. Bahkan, sama pacar pun aku nggak bisa cerita banyak," tuturnya, Rabu (7/1/2026).

Kesepian Kolektif

Andi dan Rizal hanyalah dua dari begitu banyak lelaki yang belakangan mengeluhkan perasaan serupa. Mereka menarik diri dari kehidupan sosial, memilih mengurung diri di kamar, atau merasa kehilangan teman-teman yang dulu menyertai mereka.

Merasakan kesepian adalah pengalaman personal. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, para pakar kesehatan masyarakat di dunia mulai menggambarkan kesepian sebagai “epidemi sosial” yang sampai berdampak luas pada kesehatan mental dan fisik, terutama pada kaum adam.

Fenomena ini dikenal dengan istilah "male loneliness epidemic". Menurut American Institute for Boys and Men, istilah tersebut mengacu pada tren meningkatnya jumlah laki-laki yang merasa nggak memiliki hubungan sosial yang bermakna.

Para lelaki merasa terisolasi atau kurang mendapatkan dukungan emosional dalam kehidupan sehari-hari. Meski fenomena kesepian terjadi di semua kelompok masyarakat, data menunjukkan bahwa lelaki menghadapi tantangan yang unik dalam hal membentuk dan memelihara hubungan sosial yang mendalam.

Lelaki Lebih Rentan

Menurut penelitian, meskipun tantangan dalam dukungan sosial tersebut sebetulnya dialami kedua belah pihak, kaum lelaki rupanya lebih rentan mengalami isolasi sosial. Mereka lebih sering merasa bukan bagian dari lingkaran atau nggak punya peran berarti dalam komunitas atau kelompok.

Situasi tersebut yang membuat para lelaki acap merasa kurang mendapatkan hubungan emosional yang mendukung. Apa penyebabnya?

Yang menarik, salah satu pemicu utama epidemi kesepian di kalangan lelaki adalah norma maskulinitas tradisional. Budaya patriarki kerap menanamkan pemahaman bahwa mereka harus kuat dan sebaiknya nggak menunjukkan kerentanan secara emosional, dikutip dari Periskop.

Pemahaman semacam ini membuat banyak lelaki enggan membuka diri atau mencari dukungan saat menghadapi kesulitan emosional. Di Indonesia, sebuah studi menunjukkan bahwa sekitar 67 persen laki-laki cenderung menghadapi masalah kesehatan mental secara personal atau dalam kesendirian.

Alih-alih mencari bantuan profesional, budaya patriarki yang dianut justru "menjebak" mereka untuk berusaha kuat tanpa minta pertolongan. Ini memperlihatkan bagaimana norma sosial dapat memperburuk kesepian yang dialami laki-laki.

Didominasi Paruh Baya

Ilustrasi: Lelaki paruh baya paling rentan mengalami kesepian. (Unsplash/Amir Hosseini)

Beberapa penelitian empiris berusaha memperjelas bagaimana kesepian terjadi pada lelaki berdasarkan rentang usianya. Sebuah studi di Australia memperlihatkan bahwa sekitar 27,2 persen laki-laki mengalami kesepian sedang dan 15,8 persen mengalami kesepian parah.

Dikutip dari PubMed, penelitian yang dilakukan melalui data longitudinal di Australia itu mengungkapkan bahwa perasaan kesepian tersebut lebih tinggi pada lelaki lajang, berstatus sosial ekonomi rendah, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Faktor-faktor seperti isolasi sosial yang meningkat, putusnya hubungan romantis, disabilitas jangka panjang, hingga sikap tradisional tentang peran lelaki di masyarakat berkontribusi besar pada peningkatan tingkat kesepian di kalangan lelaki dewasa.

Perasaan kesepian ini nggak cuma terjadi pada usia lanjut. Kelompok usia paruh baya (35-49 tahun) justru menjadi kelompok dengan tingkat kesepian yang lebih tinggi daripada kelompok usia lain. Pergeseran itu tentu saja menjadi alarm penting dalam perkembangan mental para lelaki saat ini.

Dampak Kesepian pada Kesehatan

Perlu diketahui bahwa merasakan kesepian bukanlah perilaku yang normal. Dikutip dari DW, perasaan tersebut berpotensi mengakibatkan sejumlah masalah kesehatan serius seperti peningkatan risiko penyakit jantung, stroke, demensia, bahkan kematian dini.

"Kesepian tidak lagi semata soal perasaan, tetapi masalah kesehatan masyarakat yang nyata," sebut US Surgeon General.

Kesepian, mereka menyebutkan, berkaitan erat dengan risiko penyakit kardiovaskular yang meningkat sekitar 29 persen, risiko stroke 32 persen, dan risiko demensia meningkat hingga 50 persen. Secara keseluruhan, kesepian meningkatkan kemungkinan kematian dini lebih dari 60 persen.

Risiko itu lebih besar pada lelaki lantaran ketidaktahuan mereka tentang pengalaman emosional sendiri dan ketidakmauan untuk melaporkannya. Penelitian dari Inggris menyebutkan bahwa lelaki lansia cenderung enggan menyatakan bahwa mereka merasa kesepian.

"Meski dari aspek sosial mereka terisolasi, norma gender menghambat pengakuan kerentanan emosional ini," tulis laporan tersebut, dikutip dari Springer Link.

Apa yang Harus Dilakukan?

Mengatasi epidemi kesepian pada laki-laki memerlukan pendekatan multi-dimensi. Para ahli kesehatan masyarakat menyarankan pentingnya:

  1. Membangun ruang sosial yang aman bagi lelaki untuk berinteraksi tanpa tekanan norma maskulinitas tradisional.
  2. Meningkatkan literasi kesehatan emosional sehingga lelaki merasa lebih nyaman mencari dukungan profesional apabila diperlukan.
  3. Menyediakan program dukungan komunitas yang mendorong partisipasi, seperti kelompok diskusi, aktivitas bersama, atau interaksi sosial terstruktur.

Strategi semacam ini dapat membantu lelaki mengatasi isolasi sosial sebelum berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius, terutama di masyarakat yang semakin terfragmentasi. Namun, tentu saja semua itu hanya bisa dilakukan jika mereka bersedia menanggalkan budaya patriarkinya. (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Wisata Baru Tapi Lama di Ibu Kota; Planetarium Jakarta

26 Des 2025

Mengenal Stress Ball, Benda yang Selalu Dibawa Rose BLACKPINK dan Karina Aespa

26 Des 2025

Dari Jurnalistik ke Musik; Perjalanan Karier Maestro Akustik Jubing Kristianto

26 Des 2025

Menurut Sejarah, Secara Ilmiah Melahirkan Bisa Memperpendek Usia Ibu

26 Des 2025

Dosis Minimal Ngakak untuk Kesehatan Jantung

26 Des 2025

Bunglon Berubah Warna Bukan Cuma Buat Ngumpet, Lo!

26 Des 2025

Spot Mencari Sunrise Pertama Tahun Baru 2026 di Kota Semarang

27 Des 2025

Hasil Survei Tunjukkan Warga Korea Jadi Lebih Kaya, Tapi Semakin Nggak Bahagia

27 Des 2025

Rayakan Natal di Tengah Bencana, Uskup Agung Semarang Serukan 'Taubat Ekologis'

27 Des 2025

Festival Permainan Tradisional Jepara, Awali Libur Sekolah Tanpa Gawai

27 Des 2025

Nggak Cuma Cantik, Bulu Merak Ternyata Bisa Tembakkan Sinar Laser, Lo!

27 Des 2025

Kepala Udang Ternyata Punya Segudang Manfaat, Tapi Ada Syaratnya!

27 Des 2025

Lezatnya Kupat Tahu Hj Sapen di Kabupaten Cilacap

28 Des 2025

Kini, Kamu Bisa Cek CCTV Dulu Sebelum Wisata ke Wonosobo

28 Des 2025

Jadi Moda Darat Favorit Semarang, KAI Daop 4 Catat Ratusan Ribu Penumpang

28 Des 2025

Bukan Cuma Soal Cuaca Panas, Ahli Sebut Perubahan Iklim Langgar HAM!

28 Des 2025

Sanksi Menanti Pedagang yang Tolak Pembayaran Tunai!

28 Des 2025

Tenangnya Berwisata di Waduk Greneng Blora

29 Des 2025

Anak Muda Tokyo Hidup di Apartemen Super Kecil Demi Bertahan di Kota Besar

29 Des 2025

UMK Ditetapkan, Gubernur Jateng: Upah Minimum untuk Masa Kerja Kurang dari Satu Tahun

29 Des 2025

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: