BerandaHits
Sabtu, 23 Sep 2022 16:21

Ajak Eks Napiter ke Sekolah sebagai Usaha Cegah Radikalisme di Kalangan Pelajar

Ilustrasi: Terorisme perlu dicegah dengan menamankan ideologi Pancasila pada pelajar. (Ist via Jawapos)

Sekolah menjadi tempat strategis untuk menanamkan ideologi. Karena itu, upaya Densus 88 Anti-Teror yang pengin mengedukasi pelajar mengenai bahaya terorisme dengan menggandeng eks napiter dinilai tepat.

Inibaru.id – Terorisme merupakan bahaya laten yang musti dilibas dan dicegah sedini mungkin. Karena itu, langkah Densus 88 Anti-Teror yang masuk ke sekolah-sekolah bersama eks napi terorisme (napiter) untuk mengedukasi para siswa dinilai sangat efektif.

"Ini kami anggap lebih efektif karena anak-anak sangat rentan, tapi ketika diceramahi oleh penyintas menjadi lebih efektif untuk sebagai narasumber," ungkap Direktur Indentifikasi dan Sosialisasi Densus 88 Anti-Teror Polri Brigjen Pol Arif Makhfudiharto.

Harus diakui bahwa Jawa Tengah menjadi episentrum dari radikalisme. Untuk itu, dukungan pemerintah provinsi menjadi sangat penting terutama dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat.

Berdasarkan data Densus 88 AT Polri, hingga awal September 2022, di Jawa Tengah ada 212 narapidana terorisme yang ditahan. Sementara, mantan napiter berjumlah 230 orang; 47 orang di antaranya dari Surakarta, 43 orang dari Sukoharjo, dan 20 orang di Semarang.

Sebagai orang nomor satu di Jawa Tengah, Gubernur Ganjar Pranowo menilai program Densus 88 Anti-Teror untuk masuk ke sekolah-sekolah dengan melibatkan eks Napiter sangat tepat. Selain sebagai upaya deradikalisasi eks napiter, langkah itu juga mampu memberikan pemahaman tentang bahaya radikalisme kepada anak-anak sekolah.

"Tentu saja kita harus mengajak banyak pihak untuk terlibat, umpama para aktor itu kita ajak menjadi juru bicara kita untuk menjelaskan deradikalisasi itu musti dilakukan seperti apa, terorisme itu bahayanya seperti apa, dan masuk ke sekolah," kata Ganjar usai menerima tim dari Densus 88 Anti-Teror Polri di kantornya, Rabu (21/9/2022).

Ada 212 narapidana terorisme di Jawa Tengah. (Ist via Liputan6)

Ganjar juga menyampaikan bahwa selama ini, Pemprov Jateng telah mencoba menggandeng eks napiter untuk bercerita mengenai bahaya radikalisme dan terorisme melalui program Gubernur Mengajar. Dalam kegiatan tersebut, disisipkan pula pendidikan karakter, bahaya narkoba, hingga pencegahan radikalisasi kepada para pelajar.

Teroris Hanya Korban

Arif berpendapat bahwa mereka yang terlibat dalam jaringan teroris sejatinya hanya korban. Ketika mereka ditangkap, ada keluarga yang terkena getahnya, terutama jika itu adalah kepala keluarga. Otomatis, mereka butuh penopang kehidupan.

Pada saat seperti inilah pemerintah diharapkan hadir untuk memberikan kepastian kebutuhan keluarga tercukupi. Jika tidak, dikhawatirkan keluarga yang ditinggalkan akan dipengaruhi jaringan teroris.

"Mereka yang ditangkap itu korban dan yang terdampak adalah keluarganya. Maka, kita coba berikan pemahaman kepada masyarakat bahwa mereka ini juga masyarakat, keluarga kita, dan berpikir yang kita perangi adalah perbuatannya, bukan orangnya. Kita harus selamatkan keluarganya agar terputus dengan jaringan mereka (radikal)," papar Arif.

Keluar dari jeratan terorisme memang nggak mudah. Karena itu tepat rasanya jika semua kalangan bekerja sama agar rantai itu terputus. Setuju deh kalau yang seharusnya kita musuhi adalah perbuatannya, bukan orangnya.

Betewe, kamu mendukung nggak dengan kolaborasi Densus 88 Anti-Teror dengan eks napiter ini, Millens? (Siti Zumrokhatun)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Blok GM, Surga Anak Skena, dan Wajah Baru Kota Semarang saat Malam

9 Apr 2026

Puting Beliung Terjang Banyumanik, Pemkot Semarang Akan Perbaiki Rumah Warga Terdampak

9 Apr 2026

Kembalikan Ruh, Tiket Masuk Resmi Ditiadakan dalam Tradisi Bulusan

9 Apr 2026

Pecinan Semarang Bakal Dikelilingi Arak-arakan 50 Kelenteng Akhir Pekan Ini!

10 Apr 2026

30 Persen Jemaah Haji asal Semarang Masuk Kategori Muda, Puluhan di Antaranya Gen Z

10 Apr 2026

Kolaborasi AMSI dan Meta untuk Dukung Jurnalisme Berkualitas

10 Apr 2026

Jaga Produksi, Pengusaha Tahu Semarang Putar Otak saat Harga Kedelai dan Plastik Naik

10 Apr 2026

Ogah Cuma Jadi Formalitas, Sumanto Pengin Bedah LKPJ 2025 Hasilkan Solusi Nyata buat Jateng

11 Apr 2026

Investasi buat Anak Cucu, Sumanto Ajak Relawan Jaga Kali-Rawat Bumi

12 Apr 2026

Kecelakaan (Lagi) di Silayur Semarang, Mau sampai Kapan?

12 Apr 2026

Bernuansa Spiritual, Tradisi Kirab Kelenteng di Pecinan Semarang

13 Apr 2026

Lansia Dominasi Calhaj Asal Semarang, Kesehatan jadi Tantangan Serius

13 Apr 2026

ASN Jateng WFH Tiap Jumat, Sumanto: Jangan Sampai Pelayanan Publik Malah Libur

13 Apr 2026

Dishub Perketat Akses Masuk ke Silayur, Dua Portal Disiapkan untuk Batasi Truk Tronton

14 Apr 2026

Forbasi Matangkan Struktur Organisasi via Rakernas dan Sertifikasi Juri-Pelatih

14 Apr 2026

Ikhtiar Warga Silayur, Kembalikan Tradisi Ruwatan untuk Keselamatan Pengguna Jalan

14 Apr 2026

Grup Cowok: Batas Tipis antara Bercanda dan Pelecehan Seksual

15 Apr 2026

Menanti Surpres, Nasib RUU PPRT Kini di Tangan Presiden

15 Apr 2026

Temuan Fosil Purba di Bumiayu, Diduga Lebih Tua dari Sangiran

16 Apr 2026

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: