BerandaHits
Jumat, 27 Nov 2025 09:01

Ada yang Semakin Ramai, Tapi Banyak Mal Semakin Sepi, Apa Penyebabnya, Ya?

Salah satu mal sepi di Kota Semarang. (Rumah123)

Di Kota Semarang, ada mal di pusat kota yang terlihat semakin sepi. Tapi nggak jauh dari situ, ada mal yang selalu ramai setiap hari dan bahkan berekspansi. Mengapa bisa sampai terjadi dua hal yang sangat kontras pada mal-mal di Indonesia, ya?

Inibaru.id - Kalau kamu main ke beberapa mal di kota-kota besar belakangan ini, mungkin terasa suasananya semakin lengang. Bahkan ada mal yang lantainya dipenuhi papan “for rent” dan cuma menyisakan beberapa toko yang masih bertahan.

Contohnya di kawasan Simpang Lima, Semarang. Sekitar satu dekade lalu, mal-mal di sana dikenal ramai dan jadi jujugan anak muda. Tapi, dalam beberapa tahun belakangan mulai sepi pengunjung. Kenapa bisa begitu?

"Terakhir ke sana sekitar 3 minggu lalu, sepi banget. Banyak toko yang tutup. Padahal aku datang pas akhir pekan," ungkap warga Semarang bernama Hasan pada Senin (24/11/2025).

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APBI), Alphonzus Widjaja, ada dua penyebab utama kenapa banyak mal di Indonesia mulai kehilangan pengunjung, yaitu masalah fundamental dan masalah eksternal. Dua-duanya saling berkaitan dan sama-sama menentukan masa depan pusat perbelanjaan kita. Berikut penjelasannya, Gez.

Gaya hidup berubah, mal harus ikut berubah

Dulu, mal identik dengan tempat belanja. Mau beli baju? Ke mal. Mau cari elektronik? Ke mal. Mau sekadar lihat-lihat? Ya ke mal lagi. Tapi pola ini berubah drastis, terutama setelah pandemi Covid-19. Selama PPKM dari 2020 sampai 2022, orang makin terbiasa belanja online. Apa pun bisa diantar tanpa perlu keluar rumah.

Nah, ketika pandemi selesai, yang orang cari pertama justru bukan belanja, tapi interaksi tatap muka. Setelah sekian lama hanya ngobrol lewat chat dan video call, manusia kembali butuh suasana yang lebih hangat dan nyata. Sayangnya tempat untuk mendapatkan hal-hal tersebut nggak banyak.

Nggak semua mal mau mengikuti perubahan zaman. (Kompas/Raditya Mahendra Yasa)

Di sinilah mal sebenarnya punya peluang. Tapi sayangnya, nggak semua mal siap. Banyak mal yang masih berfungsi sebagai tempat transaksi semata, bukan ruang yang menawarkan pengalaman atau menjadi ruang publik. Padahal sekarang pengunjung penginnya bisa duduk sambil ngobrol, nongkrong di kafe yang nyaman, atau menikmati ruang terbuka dalam ruangan yang bikin betah lama-lama.

"Fungsi pusat perbelanjaan nggak lagi cuma jadi tempat belanja karena juga harus mampu memberikan pengalaman ke pengunjung," ungkap Alphonzus sebagaimana dinukil dari Kompas, Sabtu (22/11).

Mal yang gagal menyediakan ruang sosial berupa kursi yang cukup, area berkumpul, atau tempat makan yang ramah nongkrong, akhirnya kalah saing. Sementara mal-mal yang paham kebutuhan baru pengunjung justru ramai luar biasa. Intinya, kalau nggak bisa mengikuti perubahan gaya hidup, ya siap-siap ditinggal.

Daya beli merosot

Masalah kedua datang dari luar, yakni daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya. Setelah pandemi, banyak orang masih hati-hati soal pengeluaran. Ditambah lagi maraknya PHK belakangan membuat sebagian masyarakat harus menahan diri buat belanja yang sifatnya nggak perlu-perlu banget.

Ini jelas berpengaruh ke mal. Kalau orang lagi irit, kunjungan ke mal pun ikut menurun. Pemerintah sebenarnya bisa membantu lewat program-program yang meningkatkan daya beli, tapi untuk urusan perubahan gaya hidup, masing-masing mal juga harus berinovasi sendiri demi menarik perhatian pengunjung.

Jadi, mal harus bagaimana?

Di tengah persaingan ketat dengan e-commerce dan perubahan perilaku masyarakat, mal perlu berbenah. Bukan cuma soal mempercantik interior, tapi menyediakan ruang yang relevan dengan kebutuhan orang sekarang: tempat untuk berinteraksi, bukan sekadar tempat jual-beli.

Toh, mal yang cepat adaptasi terbukti tetap ramai. Nggak percaya, coba deh cek mall yang ada di Kawasan Jalan Pemuda Kota Semarang yang sangat kontras kondisinya dengan yang ada di Simpang Lima. Intinya sih, dunia retail sudah berubah, dan mal pun harus ikut bergerak kalau nggak mau semakin sepi. Setuju kan, Gez? (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: