BerandaHits
Kamis, 6 Okt 2021 15:21

Ada Pabrik Nyamuk di Singapura, Buat Apa?

Pabrik nyamuk di Singapura hasilkan jutaan nyamuk tiap minggu. (Psd.gov.sg via Kaskus)

Bukannya dibasmi, Singapura justru membangun pabrik nyamuk. Lo, bukannya nyamuk itu penyebar penyakit, ya?

Inibaru.id - Normalnya, nyamuk yang merupakan salah satu serangga paling menjengkelkan dan berbahaya harus dibasmi. Jika nggak, wabah demam berdarah atau DBD dan malaria terus merenggut nyawa setiap tahun.

Tapi bagi Singapura, hewan yang nggak pernah diharapkan kehadirannya ini malah dikembangbiakkan. Bahkan, ada pabrik untuk memproduksinya. Dalam satu minggu, pabrik ini bisa menghasilkan jutaan nyamuk untuk dilepaskan. Duh, ngapain ya memproduksi nyamuk? Berikut ini fakta-faktanya!

Singapura Kucurkan Dana Besar untuk Kembangkan Pabrik Nyamuk

Kamu nggak salah baca, Millens. Negara tetangga yang satu ini membangun pabrik dengan fasilitas senilai USD 5 juta. Niat banget kan mau berternak nyamuk?

Di sini, jutaan nyamuk dikembangbiakkan. Setiap minggu, 5 juta nyamuk dihasilkan dan dilepas ke alam bebas.

Yang menarik, seluruh nyamuk yang diproduksi di sini berjenis kelamin jantan. Setelah dibebaskan, nyamuk-nyamuk ini bisa kawin dengan betina sehingga menghasilkan banyak telur. Sebenarnya, adanya pabrik nyamuk ini bukan untuk menambah populasi serangga ini kok, melainkan menurunkannya.

Pengembangan dari Project Wolbachia

Keberadaan pabrik nyamuk ini ternyata berhubungan dengan Project Wolbachia. Proyek ini bertujuan untuk menyebarkan nyamuk yang sudah diinfeksi oleh bakteri Wolbachia supaya populasi nyamuk menurun.

Demam berdarah merupakan masalah serius di Singapura. (Freepik via Sonora)

Dengan menciptakan nyamuk jantan yang telah diinfeksi, diharapkan bisa menularkannya pada nyamuk betina saat kawin. Nah, kemungkinan telur dari hasil kawin ini menetas sangat minim. Dengan begitu, jumlah nyamuk akan terkendali.

Teknik ini diklaim lebih efektif dibanding melakukan fogging dan upaya lain untuk menurunkan populasi nyamuk lainnya.

Nyamuk adalah Masalah Serius di Singapura

Pengembangan Project Wolbachia ini jelas punya dasar yang kuat. Sama dengan Indonesia, penyakit demam berdarah membuat banyak warga Singapura jadi korban. Layaknya kita, Singapura juga beriklim tropis sehingga nyamuk pembawa demam berdarah bisa berkembangbiak dengan bebas. Semakin tahun, jumlah korban DBD di sana terus meningkat lo.

Terlebih lagi pada saat pandemi, aktivitas manusia yang membasmi nyamuk cenderung berkurang. Nggak heran jika populasi nyamuk semakin bertambah. Hal itu sudah dibuktikan dari angka tahun lalu di Singapura. Tercatat ada 26.000 kasus dengan 20 orang meninggal dunia akibat penyakit DBD ini. Angka tersebut lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.

Di Indonesia Pernah Punya Proyek Serupa

Eh, tahu nggak kalau sebelum Singapura, Indonesia juga sempat punya ide serupa. Program tersebut sudah ada sejak 2011 silam dan dikembangkan di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM), tepatnya oleh Adi Utarini. Program ini diberi nama Eliminate Dengue Project (EDP) yang kemudian diganti nama menjadi World Mosquito Program.

Hasilnya cukup menggembirakan, lo. Dari 8.000 nyamuk yang dilepas dengan bakteri Wolbachia ini, ternyata dapat menurunkan sampai 77 persen kasus DBD yang ada di Yogyakarta. Hm, sepertinya program ini bisa diaplikasikan ke banyak daerah di Indonesia ya?

Semoga ada cukup dukungan untuk mengembangkan program ini, ya Millens? (Boo/IB21/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: