BerandaFoto Esai
Senin, 27 Des 2020 13:45

Penitipan dan Jalan Sunyi Para Penarik Becak di Kota Semarang

Bertandang ke penampungan becak di Jalan Indragiri, Mlatibaru, Kota Semarang, saya bisa melihat mereka yang begitu bersemangat bekerja, menarik si kereta angin beroda tiga, meski keberadaan mereka mungkin sudah nggak lagi diinginkan di jalan raya. <br>

Inibaru.id - Suhadi terlambat hari itu, membuatnya terpaksa hanya kebagian becak yang lawas dan jelek. Yang lain sudah dipakai kawan-kawan yang datang lebih awal. Konsekuensinya, dia harus memompa ban dan membersihkan rontokan-rontokan daun yang "menimbun" becak usang itu, membuat waktu nariknya jadi terpotong.

Dori, penarik becak lain datang lebih awal merespons kemalangan Suhadi dengan berkelakar, alih-alih menyemangati. Dia bilang, mending menganggur daripada naik si becak usang.

Suhadi tersenyum. “Jangan begitu! Becak jelek, belum tentu rezekinya jelek juga,” timpal Suhadi.

Semangat Suhadi agaknya memang tengah menyala, sejalan dengan tulisan di kausnya yang berbunyi “Semangat Bekerja”.

Nggak hanya Suhadi, semangat itu juga bisa saya lihat pada sebagian besar orang di penitipan becak itu. Melihat mereka begitu giat bekerja, sedih rasanya. Di depan sana, saya yakin para penarik becak itu akan menempuh jalan yang sunyi, tergerus modernitas dan pilihan moda darat yang kian bervariasi.

Suhadi mengetahui medan berat yang akan dilaluinya jika terus menempuh jalur sunyi tersebut. Namun, dia memutuskan bertahan. Matanya sempat berbinar saat bercerita semasa becak menjadi primadona.

"Jalan di mana saja, pasti ada yang memanggil," kenangnya, lalu tersenyum. Namun, nggak lama binar di matanya memudar. "Sekarang berbeda. Semakin lesu," keluh lelaki yang sangat suka tersenyum itu.

Bekas Pabrik Senjata

Berlokasi di Jalan Indragiri, Kelurahan Mlatibaru, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, Jawa Tengah, penitipan ini ala kadarnya saja, berdiri di sepetak tanah bekas pabrik senjata milik TNI yang sudah terendam rob dan jadi rawa-rawa.

Di lokasi itu ada tiga penitipan, masing-masing dimiliki oleh Mulyadi, Mukibyanto, dan Bagong. Ketiganya mengelola "bisnis" becak itu dengan cara yang berbeda. Ada yang sekadar penitipan, ada yang juga menyewakan becak. Satu becak bertarif Rp 6.000.

Obrolan antara Suhadi dan Dori terjadi di penitipan milik Bagong, pemain baru di dunia penitipan becak. Dua tahun lalu, dia membeli tempat itu setelah mendapatkan dana hibah. Tempat Bagong sebetulnya lebih cocok disebut persewaan becak, karenanya para penarik harus adu cepat untuk memilih becak terbaik.

Lebih lama dari Bagong, ada Mukibyanto yang hanya menampung empat unit becak yang bukan kepunyaannya. Dia memang hanya menyediakan tempat untuk menampung becak, bukan menyewakannya.

Nama terakhir adalah Mulyadi. Nggak kurang dari 30 tahun dia menggeluti usaha penyewaan dan penitipan becak. Maka, nggak heran kalau jumlah becak kepunyaannya jauh lebih banyak ketimbang yang lainnya. Sebelum di Mlatibaru, dia juga sempat berpindah-pindah tempat.

Di tempat Mulyadi, setidaknya ada 30 becak yang siap pakai. Selebihnya hanya becak bekas yang sudah rusak, nggak terpakai, dan dimakan semak belukar.

Menjadi penyedia becak selama puluhan tahun dengan puluhan becak, Mulyadi tahu betul pasang-surut para pembecak. Jauh sebelum moda darat kian variatif, dia mengatakan, becak cukup populer. Para penarik nggak perlu cemas menanti pelanggan.

Seperti Suhadi, Mulyadi juga mengambinghitamkan kehadiran ojek online. Menurutnya, para penarik becak kini mulai menyerah dan beralih profesi karena pekerjaan menjadi tukang becak nggak lagi bisa diandalkan.

“Kalau nggak punya pelanggan tetap, bisa berat. Sehari dapat Rp 50 ribu saja sudah berat,” ucap Mulyadi.

Berangkat Sangat Pagi

Kebanyakan penarik becak di Mlatibaru berasal dari Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Harus saya akui, semangat mereka sungguh luar biasa. Lantaran berasal dari luar kota dan nggak semuanya punya kendaraan, tentu mereka harus memulai hari sangat pagi.

Saya? Ehm, saya yang berpikir datang ke tempat mereka pukul 06.00 WIB sudah sangat dini, harus menelan kekecewaan karena sebagian penarik becak sudah bertolak mencari penghidupan.

Harto, salah seorang penarik asal Demak mengatakan, dia biasa berangkat sangat pagi untuk mengais rezeki. Profesi itu dilakoninya sejak 1981.

“Saya niat mau kerja, jadi ya sudah biasa,” tutur lelaki yang mengaku bangga lantaran berhasil menyekolahkan anaknya sampai tuntas dan kini menjadi guru.

Para penarik becak di Kota Semarang didominasi angkatan lama yang mayoritas sudah paruh baya. Menyoal profesi ini, tentu saja nggak banyak celah untuk membahas regenerasi. Saya sedih. Barangkali dalam beberapa tahun jalan menjadi pembecak memang bakal benar-benar sunyi.

Bertamu ke penitipan becak di Mlatibaru ini, saya seperti menyaksikan senja yang biru dan temaram. Barangkali, becak memang sudah pada titik yang digambarkan Joko Pinurbo dalam puisi “Senandung Becak”-nya, yakni sebuah perahu yang sendirian melawan badai, ombak, dan malam. (Audrian F/E03)

Bercengkrama sebelum berangkat bekerja.<br>
Suhadi dan kaus "semangat bekerja".<br>
Berdiri di bekas pabrik senjata TNI.<br>
Mengecek kondisi ban.<br>
Mulyadi mencatat becak yang disewa.<br>
Merapikan becak pinjaman.<br>
Becak yang rusak dan ditumbuhi belukar.<br>
Menyiapkan becak sebelum berangkat.<br>
Keberadaan becak semakin tergerus zaman.<br>
Tetap bekerja dan menolak menyerah.<br>

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: