BerandaFoto Esai
Minggu, 12 Des 2020 17:36

Menangkap Sinyal Kebangkitan Pariwisata Maumere

Media Indonesia/Sumaryanto Bronto.

Maumere pernah lumpuh karena diterjang tsunami di 1992. Namun sampai sekarang kota yang berada di Kabupaten Sikka ini terus bangkit. Di sini, pengunjung ditawari keindahan alam dan kebudayaannya yang kental. Semua itu tentu makin sempurna dengan dukungan infrastruktur sinyal telekomunikasi dan jaringan koneksi internet.<br>

Inibaru.id - Luluh lantak diterjang tsunami pada 1992, Sikka kembali bangkit. Semua potensi wisata yang dulu pernah menggaet wisatawan dihidupkan, termasuk Maumere. Untuk itu, pembangunan infrastruktur jaringan internet dan jaringan komunikasi sangat penting.

Lalu, bagaimana pembangunan jaringan internet dan telekomunikasi kabupaten ini? Untuk menjawab pertanyaan itu, Tim Ekspedisi menemui Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Kabupaten Sikka Kensius Didimus. Kalau kata Kensius, saat ini Sikka sudah mendapat bantuan dari Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) berupa 4 Base Transceiver Station (BTS).

BAKTI-Kominfo telah menyediakan 30 akses internet (AKSI) di Kabupaten Sikka dengan rincian lima di kantor desa, 12 di fasilitas kesehatan, dan 13 di sekolah-sekolah.

"Kami harapkan dengan melakukan rapat koordinasi melalui Zoom meeting pada Juli kemarin, bisa ditindaklanjuti untuk sesegera mungkin ada penambahan dari Bakti," kata Kensius Didimus.

Jadi, bisa disimpulkan ya, Millens jika pembangunan fasilitas ini sangat vital. Hal ini bisa dilihat ketika Tim Ekspedisi mengunjungi Kampung Adat Watublampi. Di kampung yang terkenal dengan rumah ada, tari-tarian, dan tenun ini bisa mendatangkan pengunjung berkat internet.

Di sini, masyarakat mendirikan Sanggar Bliransina pada 1988. Tujuannya nggak lain untuk mempromosikan dan melestarikan kain tenun ikat khas Sikka. Masyarakat juga berharap tradisi ini bisa membantu menunjang perekonomian.

Asal kamu tahu, kain tenun di sini mempunyai motif yang khas. Motif ini bahkan sudah ditemukan jauh sebelum kepercayaan beragama masuk ke Sikka. Pengolahannya pun dari bahan alami. Seluruh proses dilakukan secara manual.

Kapasnya saja hasil dari kebun desa yang kemudian dipintal. Pengerjaannya pun butuh waktu yang lama. Jadi, wajar jika harga kain tenun ini lumayan mahal. Bagi masyarakat, tenun bukan sekadar kain. Di dalamnya bersemayan sejarah yang hanya dimiliki oleh mereka.

Sebelum pandemi melanda, Kampung Watublapi jadi wisata favorit di Sikka. Kurang lebih 300 orang mengunjungi desa ini tiap bulan. Kebanyakan datang dari kapal pesiar asing yang singgah di Sikka. Dalam satu tahun, desa mendapat pemasukan hingga 700 juta. Wah, banyak juga ya?

Ketua Sanggar Watublapi Yosef Gervasius bercerita bagaimana kampungnya bisa setenar itu. Promosi yang gencar dilakukan sejak dulu, membuat desa ini dikenal. Jika dulu dari media cetak, sekarang serba online.

“Sekarang kita mulai dari Facebook dan Instagram. Baru-baru ini juga lewat Youtube,” ujarnya.

Promosi wisata ini penting dilakukan sebab menjadi salah satu pemasukan warga. Nah, promosi lewat kanal daring juga didukung dengan infrastruktur jaringan internet yang mumpuni. Di Kampung Watublampi, menurut Yosef nggak ada hambatan.

“Sinyalnya di sini sudah stabil. Pemuda banyak yang memanfaatkan,” pungkasnya.

Kampung Watublampi menurut Tim Ekspedisi punya potensi besar. Nilai budaya yang dapat menunjang perekonomian di sini akan lebih terdukung dengan infrastruktur internet yang memadai.

Sebelum menutup penjelajahan di Maumere, Tim Ekspedisi menyempatkan diving di Pantai Kajuwulu. Selama pandemi mendera, aktivitas menyelam di sini sempat lesu.

Maka dari itu, penggunaan media daring sosial media untuk promosi sangat dibutuhkan. Kalau kamu mau diving di sini bisa buka Instagram @maumeredivejourney.

“Kami sekarang pakai aplikasi juga sebelum menyelam. Ini fungsinya untuk mengetahui kapan air surut. Lalu juga arus dan waktunya,” ujar Jimmy Duma selaku Dive Center. Hm jadi tambah aman ya?

O ya, Maumere sempat jadi salah satu lokasi spot diving terbaik di tahun 80-an, lo. Badai tsunami kemudian menghancurkannya. Namun, pariwisata ini kembali ditata setelah spot-spot diving baru ditemukan.

Benar saja, meski hanya menyelam di kedalaman 10 meter, Tim bisa melihat pemandangan bawah laut yang cantik. Takjub rasanya berenang di atas acropora beraneka warna bersama ikan-ikan kecil.

Ah, nggak terasa sudah 45 menit, Tim Ekspedisi berada di dalam laut. Sayang rasanya jika tempat seindah ini nggak dikenalkan kepada dunia. Hal ini bisa mungkin tercapai jika pembangunan jaringan internet dan telekomunikasi di Maumere dan sekitarnya terus digalakkan.

Jadi kapan kamu mau ke sini, Millens? (IB28/E05)

Media Indonesia/Sumaryanto Bronto.
Media Indonesia/Sumaryanto Bronto.
Media Indonesia/Sumaryanto Bronto.
Media Indonesia/Sumaryanto Bronto.
Media Indonesia/Sumaryanto Bronto.
Media Indonesia/Sumaryanto Bronto.
Media Indonesia/Sumaryanto Bronto.
Media Indonesia/Sumaryanto Bronto.
Media Indonesia/Sumaryanto Bronto.
Media Indonesia/Sumaryanto Bronto.
Media Indonesia/Sumaryanto Bronto.

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: