BerandaAdventurial
Sabtu, 29 Mei 2020 15:52

Melihat dari Dekat Kampung Pemulung Bambankerep

Suasana di kampung pemulung. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Berjalan dari rumah ke rumah semipermanen yang tampak sama di kampung pemulung Bambankerep membuat saya menyelami hidup para pemulung. Gimana cerita lengkapnya?

Inibaru.id - Nggak jauh dari TPA, kamu bakal menemui permukiman dengan rumah-rumah semipermanen yang terbuat dari sisa kayu, triplek, bahkan banner yang sudah nggak terpakai. Sering juga saya mendapati rumah yang menggunakan karung sebagai dinding, sekadar menghalau angin dan hujan. Ya, rumah yang saling berdempetan ini membentuk kampung kecil yang terlihat memprihatinkan dari luar. Namanya, Bambankerep atau yang umum dikenal dengan kampung pemulung.

Menurut satu warga kampung pemulung bernama Muhlisin, desa di Bambankerep, Kelurahan Kedungpane Kecamatan Mijen ini sudah ada sejak bertahun-tahun lalu. Penghuninya adalah pemulung yang kebanyakan merantau dari Boyolali atau Purwodadi.

“Yang di sini rumah pemulung semua. Di bawah atas di sana. Kebanyakan dari Boyolali dan Purwodadi,” tutur lelaki ini.

Rumah cuma terbuat dari beberapa barang bekas. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Lelaki yang sudah bercucu ini mengaku sudah enam tahun tinggal di kampung yang terletak beberapa langkah dari TPA Jatibarang ini. Di sini, para pemulung yang hendak tinggal nggak perlu membeli tanah. Cukup menyewa dan bangunan siap didirikan. Nggak banyak bahan bangunan yang mereka harus beli. Kebanyakan dari mereka biasa mencari barang bekas di tumpukan sampah.

Tarif sewa per tahunnya pun terbilang cukup murah. Besarannya pun tergantung luas petaknya. Menurut informasi yang saya dapat, sepetak tanah paling murah dihargai Rp 200 ribu per tahun. Sedangkan petak yang cukup luas dihargai Rp 350 ribu. Lebih murah dari biaya beli kuota internet bulanan ya?

“Saya sewa dua kapling, setahunnya Rp 700 ribu untuk ditinggali bersama anak cucu,” tutur Muhlisin.

Hidup Seadanya

Menurut saya, hidup di sini sungguh nggak bisa dibayangkan. Jalan setapak untuk lalu lalang dijamin becek sehabis hujan, nggak ada halaman, cuma ada teras yang dijadikan tempat menjemur atau bersantai. Beberapa penghuni yang hidup lebih beruntung biasanya punya televisi bahkan sound system sebagai hiburan di dalam rumah semipermanen mereka.

Markisah, perempuan yang baru dua tahun menghuni rumah kecilnya mengaku datang ke Semarang bersama suaminya dari Purwodadi. Bersama kedua anaknya, Markisah melewati berbagai kisah termasuk kerempongan ketika pindah rumah ke kampung ini.

Bicara soal fasilitas memang nggak selayak di daerah lain, contohnya akses air bersih yang sempat bermasalah. Beda dengan aliran listrik yang bisa mereka dapat dengan mudah.

“Nggak pakai PAM, beberapa waktu lalu sempat mati, jadi cari sumber air baru lagi,” tutur perempuan muda ini.

Nggak punya halaman! (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Ada satu keunikan dari kelurahan ini yang saya temukan. Menurut informasi, warga Bambankerep terbagi dua "kelompok" yaitu kampung pemulung dan kampung pengepul. Seperti beda kasta ya?

Beberapa warga membangun rumah semipermanen ini di dekat TPA. Ada pula yang memilih mendirikan bangunan di sekitar sungai di bawah Tempat Pembuangan Akhir. Sayangnya, mereka harus rela tergusur akibat perluasan TPA. Karena itu mereka sering berpindah-pindah.

O ya, meskipun saya nggak melihat sistem drainase yang bagus, warga kampung mengaku nggak pernah mengalami banjir selama musim hujan. Keluhan mereka selama musim hujan adalah genteng dan dinding yang bocor.

Kalau di daerahmu ada kampung kayak gini juga nggak, Millens? (Zulfa Anisah/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: