BerandaAdventurial
Senin, 20 Sep 2020 10:23

Konsep Rumah Panggung di Microlibrary Semarang, Tetap Terang dan Sejuk meski Tanpa Lampu dan AC

Microlibrary berada di dekat Taman Kasmaran dan Kampung Pelangi. (Inibaru.id/ Audrian F)

Meski tanpa penerang dan pendingin Microlibrary Semarang tetap menawarkan suasana yang nyaman untuk membaca buku karena menerapkan konsep rumah panggung terbuka yang teduh dan bertabur cahaya matahari. <br>

Inibaru.id - Kalau saat berada di pusat Kota Semarang pada siang hari, saya kadang kesulitan untuk menemukan tempat yang teduh dan nyaman untuk melepas lelah sejenak. Namun, belakangan saya menemukan tempat yang cocok, yakni di Microlibrary yang berlokasi sekitar sepelemparan baru dari Kampung Pelangi atau Taman Kasmaran.

Microlibrary sebetulnya direncanakan hadir pada awal tahun ini. Sebab, saat pembangunan, saya sempat berkunjung. Namun mungkin karena adanya pandemi, tempat itu baru dibuka dalam sebulan terakhir.

Awalnya saya kira Microlibrary sekadar tempat terbuka. Tapi, ternyata ada pengelola yang menjaganya sekaligus sebagai petugas perpustakaan.

Saat berkunjung pada Sabtu (12/9/2020), saya dites suhu terlebih dahulu, lalu diarahkan untuk menyimpan tas.

Nur Azizah sedang membacakan dongeng buat anaknya. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Saya bertemu dengan Nur Azizah. Ibu dua anak ini bukanlah warga Semarang, tapi dari Kudus. Kebetulan dia sedang berlibur ke Semarang dan menyempatkan diri untuk mampir. Saya mendengar dia sedang mendongengi untuk dua anaknya.

“Ini lo, Dek, lihat gambarnya. Kura-kuranya menolong harimau,” ucapnya, yang mengaku selalu berupaya menjadikan membaca sebagai budaya di keluarganya.

Dia dan keluarga memang tampak begitu girang di Microlibrary. Menurutnya, selain menyediakan banyak koleksi buku, tempatnya juga nyaman.

“Tempat yang enak, sayang bukan di dekat rumah saya,” celetuknya, lalu terkekeh.

Koleksi yang Lumayan

Seorang anak dan buku Isabel Allende. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Menyempatkan diri menilik pelbagai koleksi buku di sana, saya cukup keranjingan dibuatnya. Koleksinya lumayan dan cukup referensial. Kondisi bukunya juga masih tampak baru.

Beberapa karya penulis asing tampak berderet di sana. Pun demikian dengan buku-buku yang selama ini "disorot", di antaranya yang ditulis Wiji Thukul dan Pramoedya Ananta Toer. Ehm, tapi, secara keseluruhan, menurut saya, masih kurang banyak! Ha-ha. Ini terlihat dari sejumlah sudur di rak buku yang masih kosong.

Menurut Hadassah Gloria Purnama dari Harvey Center sebagai pengelola Microlibrary, ada beberapa fasilitas di tempat tersebut, salah satunya seating tribune yang bisa dipakai untuk duduk, aktivitas workshop, atau berkumpul. Ada ayunan kayu untuk anak-anak, serta di dalam perpustakaan, ada jaring atau net yang dapat digunakan untuk membaca.

“Pokoknya ramah lingkungan dan fungsional,” ujarnya.

Dia juga menambahkan kalau Microlibrary bisa menampung 20 orang di lantai atas. Namun, selama pandemi dibatasi hanya 10 orang.

Bebas Nongkrong Bareng Teman-Teman

Ada ayunan bersama yang bisa dinaiki bersama teman-teman. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Untuk Kota Semarang yang panas, Microlibrary adalah tempat yang lumayan nyaman untuk ngadem. Nggak hanya membaca buku, kamu juga bisa mengerjakan tugas, diskusi, atau sekadar kumpul bareng teman-teman. Hal ini seperti dilakukan Anisa Nur Safitiri.

Sekilas melihat mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu, saya bisa memastikan dia sedang mengerjakan tugas. Bersama temannya, sesekali dia mencari referensi atau sekadar melihat-lihat buku di rak.

“Iya, semula cari tempat baru buat nugas. Eh, enak juga. Buku-bukunya asyik dan ada wifinya. Jadi saya merasa nyaman,” tuturnya, mengonfirmasi tebakan saya.

Anisa, begitu dia biasa disapa, mengaku mengetahui Microlibrary dari temannya. Setelah mengetahui tempat ini, dia pun berjanji di kemudian hari dia mengaku bakal lebih sering berkunjung ke tempat tersebut.

Tanpoa penenrangan dan AC, Microlibrary sudah terang dan adem. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Sama seperti Anisah, saya juga betah berjam-jam di tempat ini. Fasilitasnya oke, lengkap dengan sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik. Jadi, meski tanpa pendingin ruangan dan lampu, Microlibrary tetap sejuk dan terang.

Apa yang saya rasakan memang sesuai dengan yang dikatakan oleh Daliana Suryawinata, direktur dari perusahaan yang menginisiasi konsep Microlibrary ini, yaitu Suryawinata Haizelman Architecture Urbanism (SHAU).

Daliana mengatakan, Microlibrary mengadopsi konsep rumah panggung tradisional Indonesia yang terbuka. Untuk inspirasinya, dia mengambil bentuk Warak Ngendog, simbol Kota Lunpia.

“Konsep rumah panggung mengatur alur ventilasi udara, pencahayaan, dan konsep multifungsi suatu ruangan," terangnya. "Ada ruang pada bagian bawah untuk berbagai kegiatan yang bisa dilakukan warga.”

Seperti saya yang jatuh cinta pada Microlibrary, agaknya kamu juga bakal menjadikan tempat cozy ini sebagai daftar kunjung favorit kalau ke Semarang, Millens! (Audrian F/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Cantiknya Pemandangan Pantai Dasun Lasem, Kabupaten Rembang

3 Mar 2026

Saat Takjil War, Waspada dengan Sejumlah Pembungkus Takjil Nggak Sehat Ini

3 Mar 2026

OTT Edisi Ramadan, KPK Bawa Bupati Pekalongan Fadia Arafiq ke Jakarta

3 Mar 2026

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Jemaah Maiyah yang Lantang Kritik Program MBG

3 Mar 2026

Tren 'Grading Card', Autentifikasi Kartu Koleksi agar Nilai Jual Lebih Tinggi

3 Mar 2026

Mulai Maret Ini, Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Main Medsos

3 Mar 2026

Kartu Mebel Jepara, 'Tiket Emas' biar UKM Ukir Naik Kelas

3 Mar 2026

Sejuk dan Alami, Begini Keindahan Air Terjun Kyai Buku Jepara

4 Mar 2026

Sepanjang 2025, Uang Hilang Setara Rp355 Miliar di Jepang Kembali ke Pemiliknya

4 Mar 2026

Opsi 'Sekolah Swasta Gratis' Akan Terintegrasi dengan SPMB 2026 di Kota Semarang

4 Mar 2026

Ponpes Raudhatul Qur'an; Cetak Ratusan Hafiz dengan Biaya Bulanan Murah Meriah

4 Mar 2026

Menguliti Asal Usul Nama Kurma

4 Mar 2026

Tragedi Cinta Mangir-Pembayun; Saat Asmara Jadi Senjata Penakluk Mataram

4 Mar 2026

Aneka Festival Musim Semi di Korea Selatan yang Bisa Kamu Datangi

5 Mar 2026

Benar Nggak Sih Sawit Bakal Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Energi Global?

5 Mar 2026

Wajibkan Pencairan Maksimal H-7 Lebaran, Jateng Aktifkan Posko THR untuk Pengaduan

5 Mar 2026

Uji Coba Bus Listrik untuk Transportasi Publik yang Inklusif dan Ramah Lingkungan

5 Mar 2026

Kekerasan Seksual vs Main Hakim Sendiri; Undip Tegaskan Nggak Ada Toleransi!

5 Mar 2026

Siap-Siap Gerah! Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

5 Mar 2026

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: