BerandaAdventurial
Senin, 19 Okt 2025 15:01

Biar Nggak 'Zonk' saat Merencanakan Destinasi Wisata berdasarkan Testimoni di Media Sosial

Ilustrasi: Tempat wisata yang ada di konten influencer acapkali nggak menggambarkan situasi sebenarnya. (Gamintraveler)

Agar nggak 'zonk' saat memilih destinasi wisata berdasarkan review di media sosial, ada beberapa hal yang perlu kamu lakukan. Apa saja?

Inibaru.id - Sebuah studi tentang pengaruh media sosial terhadap keputusan yang diambil milenial dan gen-Z di Indonesia menyebutkan, sekitar 67 persen pelancong atau traveler menggunakan Instagram dan Tiktok untuk mendapatkan inspirasi sebelum memesan trip.

Alih-alih melihat ulasan dari platform pemesanan tiket online, mereka memilih konten dari pengguna (user-generated content) karena dianggap lebih autentik dan andal. Sementara, penelitian di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan responden gen-Z menunjukkan bahwa kredibilitas influencer juga penting.

Dalam penelitian tersebut, kredibilitas influencer saat mereview destinasi wisata punya pengaruh positif terhadap sikap pengguna media sosial, yang nantinya akan meningkatkan niat mereka mengunjungi destinasi wisata yang direkomendasikan.

Selanjutnya, laporan Phocuswright “Scroll, Heart, Fly: Social Media’s Impact on Travel 2024” mengungkap bahwa 62 persen pelancong yang menggunakan media sosial untuk merencanakan perjalanan kemudian membuat keputusan spesifik (destinasi, penginapan) berdasarkan konten yang mereka lihat di platform.

Penelitian-penelitian itu menunjukkan bahwa media sosial, khususnya influencer, begitu memengaruhi keputusan seseorang dalam melakukan perjalanan wisata atau tempat berlibur. Sebuah survei di Inggris bahkan menyebutkan, pengaruhnya bahkan lebih besar dari rekomendasi langsung dari keluarga atau teman.

Survei yang diikuti orang-orang dengan rentang usia 18-35 tahun itu menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi salah satu acuan utama yang sangat penting dalam perencanaan liburan, terutama di kalangan generasi muda.

Testimoni bagai Pisau Bermata Dua

Walau media sosial memudahkan kita untuk menemukan ide liburan, perlu diingat bahwa nggak semua testimoni dibuat untuk menjadi rekomendasi mutlak yang bebas dari tendensi apa pun. Bagai pisau bermata dua, kalau nggak cermat, bisa jadi testimoni yang kita percayai justru bikin "zonk" saat diikuti.

Mengapa bisa begitu? Pertama, ekspektasi dan realitas foto acapkali berbeda. Biar instagenik atau tiktokabel, foto atau video yang diunggah di medsos biasanya merupakan produk yang telah melalui editing. Pengambilan gambarnya juga sudah diperhitungkan.

Perlu kamu tahu, penempatan kamera, waktu pengambilan, dan pengolahan gambar bisa membuat hasil akhir yang diunggah di medsos seringkali nggak mencerminkan keseluruhan kondisi. Belum lagi jika konten itu disponsori atau berbayar.

Nggak jarang influencer atau kreator mendapat fee atau insentif dari destinasi, hotel, atau restoran untuk mempromosikan tempat mereka. Konten yang seharusnya diberi tanda khusus "iklan" pada caption-nya ini biasanya dibuat dengan narasi yang dilebih-lebihkan.

Selanjutnya, nggak sedikit kreator atau influencer yang punya kecenderungan untuk memposting sisi bagus dari pengalaman mereka, seperti saat cuaca cerah, pemandangan indah, hingga makanan enak; dan kurang menonjolkan hal yang kurang menyenangkan seperti antrean panjang, biaya tambahan, fasilitas buruk, atau kerusakan alamnya.

Belum lagi jika terjadi over-tourism akibat konten yang diunggah influencer ke medsos. Alih-alih menikmati liburan, kita justru sibuk melihat orang-orang FOMO yang berjubel di tempat wisata, penginapan, atau kuliner yang direkomendasikan sang pembuat konten itu.

Agar Piknik via Rekomendasi Medsos Nggak 'Zonk'

Ilustrasi: Selain jauh dari ekspektasi, testimoni dari kreator di medsos acap melahirkan over-tourism yang membuat kita 'zonk' dan nggak nyaman saat mengunjunginya. (Shutterstock/Thiago B Trevisan via Kompas)

Budaya FOMO kita memang berpotensi besar melahirkan over-tourism yang nggak jarang menimbulkan kerusakan lokal dan tekanan besar pada infrastruktur, lingkungan, dan kehidupan sosial di tempat itu. Dengan kondisi itu, kita sebagai pelancong pun jadi merasa nggak nyaman.

Nah, agar piknik nggak zonk karena terlalu percaya pada testimoni di media sosial, berikut beberapa tips yang bisa kamu pakai:

1. Bandingkan sumber konten

Jangan hanya melihat satu video atau POV dari satu influencer. Cek beberapa akun, terutama akun lokal atau yang memberi review panjang dan detail. Terkadang, sudut pandang dari orang biasa bisa lebih realistis. Maka, jadikan itu sebagai pembanding.

2. Perhatikan tanggal dan konteks postingan

Jika postingan sudah lama, situasi saat ini bisa jadi sudah jauh berubah. Misalnya, fasilitas mulai rusak, tarif masuk sudah naik, atau akses dan akomodasi telah diperbarui. Jadi, lebih baik kamu mencari konten terbaru dan menjadikan konten lama sebagai pembanding.

3. Baca review yang negatif juga

Kalau sudah cinta, kita cenderung lupa untuk melihat sisi negatifnya. Maka, sebelum ini terjadi, bacalah testimoni yang memberi kritik atau menunjukkan sisi kurang dari sebuah destinasi wisata juga. Kamu bisa memulainya dengan melihat komentar dari postingan influencer itu untuk memetakan ekspektasi.

4. Cek sumber resmi dan info lapangan

Situs resmi destinasi wisata, forum lokal, grup komunitas wisata lokal (Facebook, WhatsApp), atau review Google Maps bisa memberi gambaran kondisi saat ini.

5. Gunakan 'preview nyata'

Fitur seperti Google Street View, video walk-through, atau vlog yang nggak diedit berlebihan dapat membantu melihat kondisi fisik destinasi wisata secara lebih nyata. Namun, sekali lagi, carilah edisi terbarunya.

6. Gunakan anggaran realistis dan fleksibel

Banyak postingan estetik lupa menyebut biaya transport, pajak, biaya tambahan, dll. Jadi, untuk kamu yang mau melakukan blind-travel dengan hanya mengandalkan testimoni di medsos, pastikan untuk mempersiapkan anggaran cadangan untuk jaga-jaga.

7. Jangan tergesa-gesa

Coba ulik konten wisata dari influencer yang pernah kamu kunjungi di masa lalu. Apakah testimoninya sesuai dengan yang kamu rasakan? Jika iya, kamu bisa mulai mendatangi 1-3 destinasi rekomendasi mereka, tapi mulai dari yang "on budget" dulu.

Setelah itu, evaluasilah reputasi mereka apakah sudah sesuai dengan realitas sebelum mengambil keputusan besar. Lakukan hal yang sama terhadap konten-konten dari influencer lain agar referensi wisatamu semakin luas. Selamat mencoba ya, Gez! (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Blok GM, Surga Anak Skena, dan Wajah Baru Kota Semarang saat Malam

9 Apr 2026

Puting Beliung Terjang Banyumanik, Pemkot Semarang Akan Perbaiki Rumah Warga Terdampak

9 Apr 2026

Kembalikan Ruh, Tiket Masuk Resmi Ditiadakan dalam Tradisi Bulusan

9 Apr 2026

Pecinan Semarang Bakal Dikelilingi Arak-arakan 50 Kelenteng Akhir Pekan Ini!

10 Apr 2026

30 Persen Jemaah Haji asal Semarang Masuk Kategori Muda, Puluhan di Antaranya Gen Z

10 Apr 2026

Kolaborasi AMSI dan Meta untuk Dukung Jurnalisme Berkualitas

10 Apr 2026

Jaga Produksi, Pengusaha Tahu Semarang Putar Otak saat Harga Kedelai dan Plastik Naik

10 Apr 2026

Ogah Cuma Jadi Formalitas, Sumanto Pengin Bedah LKPJ 2025 Hasilkan Solusi Nyata buat Jateng

11 Apr 2026

Investasi buat Anak Cucu, Sumanto Ajak Relawan Jaga Kali-Rawat Bumi

12 Apr 2026

Kecelakaan (Lagi) di Silayur Semarang, Mau sampai Kapan?

12 Apr 2026

Bernuansa Spiritual, Tradisi Kirab Kelenteng di Pecinan Semarang

13 Apr 2026

Lansia Dominasi Calhaj Asal Semarang, Kesehatan jadi Tantangan Serius

13 Apr 2026

ASN Jateng WFH Tiap Jumat, Sumanto: Jangan Sampai Pelayanan Publik Malah Libur

13 Apr 2026

Dishub Perketat Akses Masuk ke Silayur, Dua Portal Disiapkan untuk Batasi Truk Tronton

14 Apr 2026

Forbasi Matangkan Struktur Organisasi via Rakernas dan Sertifikasi Juri-Pelatih

14 Apr 2026

Ikhtiar Warga Silayur, Kembalikan Tradisi Ruwatan untuk Keselamatan Pengguna Jalan

14 Apr 2026

Grup Cowok: Batas Tipis antara Bercanda dan Pelecehan Seksual

15 Apr 2026

Menanti Surpres, Nasib RUU PPRT Kini di Tangan Presiden

15 Apr 2026

Temuan Fosil Purba di Bumiayu, Diduga Lebih Tua dari Sangiran

16 Apr 2026

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: