BerandaTradisinesia
Minggu, 2 Apr 2022 18:28

Tradisi Menyalakan Petasan saat Ramadan, Sejak Kapan?

Tradisi menyalakan petasan saat Ramadan masih bertahan hingga sekarang. (Medcom/Antara/Marifka Wahyu)

Bunyi petasan seperti identik dengan bulan puasa. Letusannya membuat suasana Ramadan terasa semakin meriah. Sebenarnya, sejak kapan sih tradisi menyalakan petasan saat Ramadan ini dimulai?

Inibaru.id – Kamu sadar, nggak, jelang Ramadan, sudah banyak orang yang bermain petasan? Suara dentumannya bahkan bisa kamu dengar sejak pagi buta hingga tengah malam. Sebenarnya, tradisi menyalakan petasan saat Ramadan ini dimulai sejak kapan, ya?

Meski keberadaannya sering dirazia oleh aparat kepolisian, realitanya petasan mudah didapatkan di mana-mana, mulai dari pasar tradisional, toko mainan, hingga penjual di pinggir jalan. Jenisnya pun bermacam-macam, dari petasan bantingan, petasan berukuran kecil, hingga yang berukuran besar. Ada juga petasan yang dibuat sendiri dari gulungan kertas dan karbit.

Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra membahas soal tradisi petasan yang seperti identik dengan bulan puasa. Dia menyebut sejak abad ke-17, masyarakat Batavia (Jakarta) sudah biasa menyalakannya.

“Petasan itu, kalau menurut buku-buku lama, dikatakan bahwa di abad 17 itu sudah umum masyarakat Batavia masang petasan,” ungkap Yahya, Selasa (20/4/2021).

Menariknya, kebiasaan menyalakan petasan ini ternyata dipengaruhi oleh masyarakat Tionghoa di Batavia. Bukan di bulan Ramadan ya, Millens, mereka menyalakannya saat Hari Raya Imlek.

Bunyi petasan dianggap bikin suasana Ramadan jadi semakin meriah. (Twitter.com/tiwiAKM)

Suara petasan yang meriah dianggap cocok untuk menggambarkan suka cita dan kegembiraan. Nah, masyarakat Betawi ternyata juga ikut merasakan hal serupa. Mereka pun mengadopsi kebiasaan ini untuk merayakan hari spesial selain Tahun Baru Imlek.

“Maka, orang-orang Betawi itu terutama mengadopsi bakar petasan itu untuk memeriahkan hari-hari mereka, bentuk ekspresi kegembiraan mereka,” terang Yahya.

Sayangnya, nggak ada catatan sejarah yang menunjukkan mulai kapan orang Nusantara, termasuk orang Betawi, menyalakan petasan di bulan Ramadan. Selain itu, tradisi ini sebenarnya sempat dilarang pada 1970-an karena dianggap berbahaya bagi anak-anak.

“Kalau bulan Ramadan (pada 1970-an) itu biasanya anak-anak dilarang main petasan, kecuali malam takbiran. Mereka lebih dianjurkan ada di musala atau langgar,” lanjutnya.

Meski begitu, tetap saja ada anak-anak yang bandel. Mereka pun menyalakan petasan di malam hari saat nggak banyak orang dewasa mengawasi. Maklum, di bulan Ramadan, stok petasan melimpah sehingga bisa dibeli dengan mudah dan harganya murah. Pada akhirnya, kebiasaan ‘anak-anak bandel’ inilah yang terus berlanjut hingga sekarang dan bunyi ledakan petasan membuat bulan puasa makin ramai.

Sebenarnya, nggak hanya dinyalakan di bulan Ramadan, petasan juga dinyalakan di acara-acara lain di budaya Betawi seperti saat pernikahan, ada orang yang akan berangkat haji, atau bahkan ziarah kubur. Namun, menurut Yahya, tradisi ini semakin menghilang sejak 1990-an.

Di tempatmu, apakah tradisi menyalakan petasan saat Ramadan masih dilakukan, Millens? (Idn/IB09/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: