BerandaTradisinesia
Sabtu, 24 Nov 2023 11:17

Suku Cia-Cia, Gunakan Aksara Hangul untuk Melestarikan Bahasa Ibu

Huruf Hangul dituliskan pada papan nama instansi sekolahan di Cia-Cia, Sulawesi Tenggara. (Redaksi Indonesia)

Nggak ingin bahasa otentik dari Suku Cia-Cia punah, masyarakat di sana menggunakan aksara Hangul dari Bahasa Korea. Dengan begitu, bahasa ibu dari Suku Cia-Cia tetap lestari karena nggak hanya diucapkan dengan lisan, tapi bisa juga dituangkan dalam tulisan.

Inibaru.id - Sejak demam Korea menerpa Indonesia, kita jadi tahu bahwa aksara yang digunakan oleh masyarakat Negeri Gingseng bernama Hangul atau Hangeol. Huruf-huruf yang sekilas mirip dengan aksara Hanzi dalam Bahasa Mandarin itu juga sering kita lihat di film, drama, produk makanan atau barang dari Korea. Tapi, ada sebuah fun fact yang perlu kamu tahu: di Indonesia ada satu suku yang menggunakan aksara Hangul dalam keseharian. Lo, kok bisa?

Inilah cerita tentang suku Cia-Cia yang sudah nggak asing lagi dengan Hangul sejak tahun 2009 silam. Cia-Cia adalah sebuah etnis suku yang bertempat di kawasan pegunungan di Kota Bau-Bau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.

Mereka mempunyai bahasa ibu tapi nggak punya sistem penulisan atau aksaranya. Nggak ingin bahasa otentik milik Suku Cia-Cia punah, Walikota Kota Buton kala itu MZ Amirul berpikir bagaimana caranya Suku Cia-Cia bisa mempunyai aksara yang menjadi pelengkap bahasa dan alat komunikasi.

FYI, masyarakat Cia Cia menggunakan bahasa Cia Cia Buton sebagai bahasa percakapan sehari-hari, dengan jumlah penutur sekitar 93 ribu jiwa. Bahasa daerah ini masuk ke dalam kategori Bahasa Austronesia atau sebuah bahasa tutur yang nggak punya aksara tulis.

Ketertarikan Profesor Chun

Siswa SD, SMP, SMA di Cia-Cia mempelajari Huruf Hangul untuk menunjang bahasa sehari-hari mereka. (Kompas TV)

Tahun 2008, Pemerintah Kota Bau-Bau menggelar "Simposium Internasional Penaskahan Nusantara". Dalam gelaran internasional tersebut, hadir para delegasi internasional, termasuk delegasi dari Korea Selatan, Prof Chun Thay Hyun.

Sempat mempelajari struktur bahasa yang digunakan oleh masyarakat Cia-Cia, Prof Chun dan para delegasi Korea Selatan siap membantu persoalan tentang aksara dari bahasa asli Suku Cia-Cia. Dalam penelitian yang dilakukannya, Prof Chun menemukan adanya kesamaan pelafalan dan struktur bahasa Cia-Cia dengan bahasa Korea. Profesor Chun pun mendatangkan Hunminjeongeum Research Institute ke Buton.

Hunminjeongeum Research Institute merupakan institut yang memang menyebarkan penggunaan abjad Korea ke kaum minoritas yang nggak memiliki sistem tulisan sendiri di seluruh Asia.

Karena memiliki kecocokan dengan Bahasa Korea, sejak saat itu Bahasa Cia-Cia menggunakan Hangul dalam sehari-sehari. Hunminjeongeum Research Institute juga menyusun bahan ajar kurikulum muatan lokal yang dapat dipelajari dari tingkat SD hingga SMA, bekerja sama dengan Pemerintah Kota Baubau.

Selain menyuntikkan dalam kurikulum muatan lokal, aksara Hangul untuk bahasa Cia-Cia juga didokumentasikan pada naskah budaya, penulisan nama jalan, nama sekolah, dan nama pemerintah, lo. Jadi, jika suatu saat kamu traveling ke kawasan ini, jangan heran kalau lingkungan di sana terasa seperti di Korea lantaran huruf hangul di mana-mana, ya? (Siti Khatijah/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: