BerandaTradisinesia
Sabtu, 16 Jun 2023 18:49

Rampogan Macan, Tradisi Ala Gladiator yang Dikenal Orang Jawa Zaman Dahulu

Tradisi Rampogan Macan pada zaman dahulu. (H Salzwedel via UGM.ac.id)

Tradisi Rampogan Macan dihentikan Pemerintah Hindia Belanda karena dianggap nggak etis. Soalnya, ribuan harimau tewas dibunuh demi tradisi ini.

Inibaru.id – Siapa sangka, masyarakat Jawa pada zaman dahulu juga mengenal tradisi yang mirip dengan gladiator khas Romawi kuno. Nama tradisi tersebut adalah Rampogan Macan, Millens.

Keberadaan tradisi yang seru sekaligus mengerikan ini diungkap oleh sejarawan Blitar Ferry Riyandika. Dia menyebut tradisi ini dicatat dalam buku berjudul Bakda Mawi Rampog yang ditulis oleh R. Kartawibawa dan terbit pada 1928. Konon, tradisi ini kerap diadakan keluarga ningrat dari Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta. Khusus untuk Surakarta, tradisi ini sudah dimulai sejak pemerintahan Amangkurat II atau sekitar abad ke-17.

Sementara itu, Paku Buwono X disebut-sebut sengaja memelihara harimau dan sejumlah hewan liar lain di kandang yang ada di dekat alun-alun. Hewan-hewan tersebut sengaja dipelihara untuk acara Rampogan Macan yang diadakan untuk menyambut tamu agung seperti gubernur jenderal Hindia Belanda.

Menariknya, di Blitar, tradisi Rampogan Macan justru dilakukan untuk menolak bala. Maklum, saat itu Gunung Kelud mengalami erupsi dan membuat harimau jadi turun gunung. Dampaknya, banyak ternak warga yang jadi mangsa harimau-harimau tersebut. Kondisi ini diperparah dengan didirikannya pabrik gula di kawasan Panggungrejo, Blitar, pada 1860. Habitat asli harimau pun semakin menciut.

“Hutan jati di kawasan Gunung Betet Lodoyo berubah jadi lahan tebu. Semakin banyak harimau yang memangsa ternak warga,” ungkap Ferry sebagaimana dilansir dari Detik, Minggu (14/3/2021).

Pemerintah Kesultanan Mataram yang saat itu menguasai Blitar pun mengadakan sayembara yang diperuntukkan bagi warga yang mampu menangkap harimau. Imbalannya sekitar 10-50 Gulden. Harimau yang tertangkap kemudian akan dijadikan bagian acara Rampogan Macan.

Rampogan Macan di Kediri, Jawa Timur. (Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures/Repronegatief. Een tijgergevecht, Kediri)

Betewe, tradisi ini dibagi menjadi dua babak, Millens. Pada babak pertama, yang diadu adalah harimau dan banteng atau lembu. Nah pada babak kedua, yang diadu adalah harimau dan sekelompok prajurit keraton. Mereka menghadapi kucing besar tersebut dengan tombak. Yang berhasil mengalahkan harimau ini bisa mendapatkan imbalan berupa hadiah atau kenaikan pangkat.

Demi mengamankan warga yang pengin menonton, ratusan prajurit juga disipakan di sisi alun-alun membentuk barikade dengan membawa senjata tombak panjang. Setelah warga dipastikan aman, harimau yang telah ditangkap kemudian dikeluarkan dari kandang.

Jika harimau itu kebingungan dan diam saja, biasanya akan dipancing dengan mercon atau senjata agar mengamuk. Saat itulah, warga yang menonton biasanya mulai bersorak. Karena kalah jumlah, harimau kemudian kalah setelah diterjang puluhan tombak.

Mengingat tradisi ini berlangsung cukup lama, yaitu dari abad ke-17 sampai abad ke-20, ribuan harimau pun tewas sia-sia. Sisa harimau yang masih selamat kemudian memilih untuk bersembunyi di hutan dan selalu menghindari manusia agar nggak ditangkap.

Pemerintah Hindia Belanda yang menganggap tradisi ini nggak etis karena seekor harimau bisa dibantai oleh puluhan manusia, akhirnya memutuskan untuk melarangnya sejak 1905.

Hm, jadi penasaran ya, jika nggak ada tradisi Rampogan Macan ini, apakah jumlah harimau di Jawa bakal tetap banyak pada zaman sekarang. Kalau menurutmu, gimana, Millens? (Arie Widodo/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Viral Buku 'Broken Strings, Begini Tanggapan Orang Tua yang Memiliki Anak Remaja

17 Jan 2026

Lebih dari Merajut Kerukunan, Tradisi Nyadran Perdamaian di Temanggung Digelar Demi Menjaga Alam

17 Jan 2026

Perselingkuhan dan Judol, Pemicu Ribuan Istri Gugat Cerai Suami di Semarang

17 Jan 2026

Perbarui Eksonim, Indonesia Revisi Penulisan Nama Sejumlah Negara Asing

17 Jan 2026

Begini Pola Pelaku Child Grooming di DIY Menguasai Korbannya

17 Jan 2026

Menyisir Jejak Pangeran Samudra, Bangsawan Majapahit yang Abadi di Puncak Kemukus

17 Jan 2026

Trik Menyimpan Pisang Biar Nggak Cepat Membusuk

18 Jan 2026

Enak dan Mengenyangkan, Begini Cerita Warung Pecel dan Brongkos Mbok Teguh Pakis, Magelang

18 Jan 2026

Ratusan Ribu Keluarga Belum Punya Rumah, Apa Rencana Pemkot Semarang?

18 Jan 2026

Ketika Wayang Klithik Menolak jadi 'Artefak' Budaya

18 Jan 2026

Gawat! Dijajah Spesies Asing, Jumlah Serangga Lokal Anjlok

18 Jan 2026

Parenting Tipe C, Gaya Asuh Fleksibel yang Bikin Anak dan Orang Tua Lebih Bahagia

18 Jan 2026

Di Korea Selatan, Siswa Pelaku Bullying Dipersulit Masuk Universitas

19 Jan 2026

Melegenda di Muntilan, Begini Kelezatan Bubur Mbah Gamping

19 Jan 2026

Terdampak Banjir, Warga Wonorejo Mulai Mengeluh Gatal dan Demam

19 Jan 2026

Antisipasi Doomscrolling, Atur Batas Waktu Youtube Shorts Anak dengan Fitur Ini!

19 Jan 2026

Opsi Layanan Kesehatan 'Jemput Bola' untuk Warga Terdampak Banjir Wonorejo

19 Jan 2026

Bijak Kenalkan Gawai dan Media Sosial pada Anak

19 Jan 2026

Bupati Pati Sudewo Kena OTT KPK! Terkait Kasus Apa?

19 Jan 2026

Jalur Pekalongan-Sragi Tergenang, Sebagian Perjalanan KA Daop 4 Semarang Masih Dibatalkan

19 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: