BerandaTradisinesia
Minggu, 10 Mei 2025 14:19

Paes Ageng dan Pernikahan Luna Maya: Ketika Tradisi Menjadi Sorotan Publik

Pernikahan Luna Maya menjadi sorotan karena riasan Paes Ageng Yogyakarta-nya dianggap nggak sesuai dengan pakem. (Fimela)

Paes Ageng Yogyakarta menjadi sorotan publik setelah Luna Maya mengklaim menggunakan riasan tersebut saat menyanding Maxime Bouttier di pelaminan.

Inibaru.id - Pernikahan selebritas Luna Maya dengan Maxime Bouttier nggak hanya menjadi kabar bahagia bagi sebagian masyarakat Tanah Air, tetapi juga memicu diskusi budaya yang cukup serius.

Penampilan Luna Maya yang mengenakan busana pengantin adat Jawa gaya Yogyakarta, khususnya pada riasan khas Paes Ageng, mendapat sambutan luas, baik dalam bentuk pujian maupun kritik.

Dalam dokumentasi visual yang tersebar di media sosial dan pemberitaan, Luna tampil mengenakan kebaya putih berpotongan klasik, sanggul besar khas gaya keraton, dan paes hitam legam di dahi. Banyak yang menyebutnya menawan. Namun, ada pula yang menilai paes yang dikenakan nggak sesuai pakem.

Komentar bermunculan, mempertanyakan bentuk lengkungan paes yang dianggap kurang presisi, perpaduan aksesori yang terlalu modern, serta minimnya penerapan simbol-simbol sakral yang biasa muncul dalam tata rias Paes Ageng. Ada yang menganggapnya sebagai bentuk “pengaburan budaya,” bahkan komersialisasi adat.

Memahami Paes Ageng Yogyakarta

Paes Ageng adalah tata rias tradisional pengantin perempuan gaya keraton Yogyakarta yang sarat makna filosofis. Garis paes berwarna hitam legam yang dilukis di dahi bukan sekadar ornamen kosmetik, tetapi lambang spiritualitas seperti kerendahan hati, kesetiaan, dan kebesaran batin.

Perlu kamu tahu, ada beberapa jenis paes dalam budaya Jawa, antara lain Paes Solo Putri, Paes Solo Basahan, dan Paes Ageng Yogya. Yang terakhir inilah yang paling rumit dan sakral dalam adat keraton.

Paes dalam tradisi Kraton Yogyakarta mulanya hanya boleh dikenakan keluarga bangsawan. Namun, atas izin Sultan Hamengkubuwono IX, Paes Ageng dibuka untuk masyarakat umum untuk pelestarian budaya, dengan sejumlah penyesuaian, misalnya bahan yang semula lilin pidih diganti menjadi celak yang aman bagi kulit.

Pakar rias pengantin dan budaya pernikahan Mamie Hardo mengatakan, paes bukan sekadar estetika, tapi juga doa visual untuk kebahagiaan dan keteguhan keluarga baru.

"Filosofi di balik setiap garis mengajarkan introspeksi dan tanggung jawab,” terangnya dalam suatu kesempatan, belum lama ini. Seluruh ritual, termasuk puasa dan pembacaan doa, menguatkan nilai spiritual, menjadikan paes sebagai tradisi sekaligus seni."

Komponen Utama Paes Ageng

Pernikahan Erina Gundono dengan Kaesang Pangarep, putra bungsu mantan Presiden RI Joko Widodo juga diklaim memakai Paes Ageng Yogyakarta. (Instagram/erinagundono)

Paes

Lukisan hitam di dahi berupa lima lengkungan (gajahan, pengapit, penitis, pengapit nengen, dan pengapit kiwa). Lukisan ini masing-masing mewakili nilai-nilai luhur seperti ketabahan, kesetiaan, dan perlindungan. Lengkungan itu kemudian "dibingkai" dengan prodo berwarna emas.

Citak (Cithak)

Citak adalah Titik hitam bulat kecil di antara kedua alis. Titik ini merupakan perlambang mata ketiga, yang bermakna kewaspadaan batin. Dalam tradisi Jawa, titik kecil di antara alis menjadi simbol untuk menekankan fokus, kesetiaan, dan keteguhan hati pengantin.

Alis Menjangan Ranggah

Bentuk alis yang melengkung menyerupai tanduk rusa jantan melambangkan kecermatan dan ketangkasan dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Bentuknya yang indah merupakan perpaduan antara kecerdikan dan keanggunan.

Cunduk Mentul

Cunduk Mentul adalah aksesori berupa hiasan kepala (tusuk sanggul) berbentuk seperti bunga dan biasanya berwarna emas atau warna logam lain. Bentuknya menjulang ke atas dan biasanya dipasang dalam jumlah ganjil yang dipercaya sebagai penolak malapetaka.

Dalam paes ageng, cunduk mentul berjumlah lima buah, sebagai simbol Rukun Islam. Namun, sebelumnya berjumlah tiga, sebagai wujud kepercayaan pada Trimurti. Sementara, Gagrak Surakarta menggunakan cunduk mentul berjumlah 7 buah, sedangkan pengantin Solo Basahan 9 buah.

Aksesori Lain

Selain aksesori dan riasan tersebut, Paes Ageng biasanya juga identik dengan pelbagai aksesori lain seperti sanggul gajah ngoling, penunggul, sumping, sisir gunungan, centung, sempyok, kelat bahu, dan lain-lain

Riasan yang Cukup Kompleks

Nggak dimungkiri bahwa Paes Ageng termasuk riasan yang paling kompleks di antara berbagai riasan dalam tradisi Jawa. Hal itu pun diakui Luna Maya. Dia mengatakan, penggunaan Paes Ageng adalah penghormatan dirinya terhadap budaya lokal, bukan sekadar estetika.

"Dalam prosesnya mungkin ada penyesuaian, tapi tidak dimaksudkan untuk merendahkan adat," terangnya. “Saya ingin menunjukkan bahwa budaya kita itu indah. Kalau ada yang merasa kurang tepat, saya terima sebagai pembelajaran. Tapi niat saya adalah mengangkat budaya ini agar lebih dikenal.”

Menyikapi hal ini, kita mungkin bisa meminjam kata pengajar cum peneliti budaya Jawa dari Universitas Gadjah Mada Dr R Siti Nurhayati, yang selalu memandang perdebatan budaya dan tradisi sebagai momen edukasi.

“Tradisi itu bukan benda mati. Ia bisa menyesuaikan zaman, selama dijaga esensinya. Memang penting untuk memahami dulu, baru mengadaptasi. Yang menjadi masalah kalau orang hanya meniru bentuk tanpa tahu makna,” jelasnya.

Keterlibatan figur publik seperti Luna Maya seharusnya justru menjadi peluang untuk memperluas pemahaman masyarakat tentang nilai-nilai budaya yang selama ini hanya dikenal di lingkup terbatas, sekaligus membuka ruang diskusi tentang bagaimana seharusnya mempertahankan tradisi di tengah era modern.

Tanpa Luna Maya, mungkin perdebatan ini nggak pernah ada. Tanpa perdebatan, mungkin sebagian besar dari kita juga sudah lupa seperti apa bentuk Paes Ageng yang sesungguhnya. Bagaimana menurut kamu, Millens? (Siti Khatijah/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

'Bom Nuklir' dan 'Perdamaian' yang Viral di Tengah Eskalasi Konfik Timur Tengah

6 Mar 2026

Saking Bekunya Musim Dingin, Warga Laut Baltik Berseluncur dari Satu Pulau ke Pulau Lain

6 Mar 2026

Bukan Emas Lagi; MUI Jateng Ubah Patokan Nisab Zakat Profesi

6 Mar 2026

Duduk Perkara Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip versi Polrestabes Semarang

6 Mar 2026

Oksigen Banyak dari Laut, Terus Kenapa Masih Ribut Soal Hutan?

6 Mar 2026

Tiket Mudik Ludes 400 Ribu! Cek Tanggal Favorit dan Kereta Pilihan di Daop 4 Semarang Ini

6 Mar 2026

Wisata Alam Kalikesek Semakin Ramai, Warga Desa Sriwulan Dapat THR

7 Mar 2026

Masjid Fujikawaguchiko, Tempat Salat dengan Latar Spektakuler Gunung Fuji di Jepang

7 Mar 2026

Sahur Tanpa Nasi Cuma Makan Lauk, Beneran Bikin Kuat Puasa Seharian?

7 Mar 2026

Ikan Air Tawar vs Ikan Laut: Siapa yang Paling Tahan Lawan Pemanasan Global?

7 Mar 2026

Aman Nggak Ya Mudik dengan Mobil Listrik?

8 Mar 2026

Membedah Mitos Minum Air Hangat Bisa Turunkan Berat Badan

8 Mar 2026

Restorative Justice Akhiri Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip Semarang

8 Mar 2026

Berburu Baju Bekas sekaligus Bantu Korban Kekerasan di Bazar Preloved Sintas

8 Mar 2026

Sarung Tangan Karet Bekas Ternyata Bisa Jadi 'Penyedot' Polusi

8 Mar 2026

Srikandi Ojol Jateng Kini Punya Aplikasi Khusus Anti-Pelecehan

8 Mar 2026

Musim Mudik, Pengendara Diimbau Istirahat di Rest Area Maksimal 30 Menit

9 Mar 2026

Menilik Keseruan Momen Membeli Kebutuhan Lebaran

9 Mar 2026

PDAM Semarang Gelar 'Operasi Ketupat', 14 Ribu Penunggak Jadi Sasaran

9 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: