BerandaTradisinesia
Selasa, 3 Mar 2025 15:14

Mengakhiri Tradisi Dandangan, Menyambut Hari Pertama Ramadan di Kudus

Keramain Dandangan pada malam hari. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Ramadan telah tiba, menandakan berakhirnya tradisi Dandangan di Kudus. Puluhan ribu orang telah berkunjung, yang berarti pundi-pundi rupiah untuk para pedagang lokal.

Inibaru.id – Langit sudah berpendar oranye keemasan saat ribuan orang mulai berduyun-duyun mendekati kawasan Menara Kudus. Deretan lapak kaki lima masih mematut dagangannya. Ada jenang yang legit dan satai kerbau yang gurih khas kota ini, menyatu dengan lapak lain yang mulai penghabisan.

Malam itu, Jumat, 28 Februari 2025, adalah pengujung Perayaan Tradisi Dandangan di Kabupaten Kudus yang telah dimulai sejak 19 Februari. Berakhirnya festival dan pasar malam itu pun menandakan dimulainya Bulan Suci Ramadan yang jatuh sehari setelahnya, yakni pada 1 Maret.

Pedagang yang memamerkan dagangannya pada dandangan saat malam hari (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Bagi masyarakat Kudus, Dandangan bukan sekadar pasar malam, tapi juga peristiwa bersejarah yang telah berlangsung sejak zaman Sunan Kudus, ketika masyarakat berkumpul untuk menunggu pengumuman awal Ramadan dari sang wali.

Kini, meski pengumuman resmi sudah ditentukan oleh pemerintah, tradisi ini tetap lestari, bahkan semakin meriah dengan berbagai kegiatan budaya yang menyertainya; yang tahun ini mengusung tema "Dandangan Menara Kudus, Merawat Syariat Isbat, Menghidupkan Ekonomi Rakyat."

Menghidupkan dan Menghidupi

Suasana sore hari di sekitar Dandangan Kudus (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Dandangan menjadi salah satu tradisi di Kudus yang selalu dinantikan masyarakat setempat. Orang-orang sukarela datang dari pelbagai sudut untuk merayakannya, menikmati beragam sajian kuliner dan berbelanja pernak-pernik khas yang dijual. Nggak hanya menghidupkan, mereka juga menghidupi Kudus.

Sesepuh Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus Syaifudin Lutfi mengatakan, pada masa Sunan Kudus, warga berkumpul untuk menunggu keputusan awal Ramadan. Tradisi berkumpul dan menunggu pengumuman itu rupanya masih terjaga dengan baik hingga kini.

"Tabuh beduk adalah penanda waktu ibadah dan menjadi simbol awal Ramadan seperti yang dilakukan pada zaman Kanjeng Sunan Kudus," jelasnya.

Sedikit informasi, Dandangan berakar dari tradisi yang diajarkan Sunan Kudus sekitar abad ke-15. Tradisi ini bermula dari kebiasaan para santri berkumpul di depan Masjid Menara (Masjid Al Aqsha) untuk menanti tabuhan bedug yang menandai awal puasa dari Sunan Kudus. Suara "dang-dang" dari tabuhan bedug itulah ihwal mula sebutan Dandangan.

Berkumpul dan Menjajakan Makanan

Pedagang yang memamerkan dagangannya di tengah Danadangan. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Sunan Kudus, yang juga dikenal sebagai Dja’far Shodiq, adalah ulama besar dan anggota Walisongo, sekaligus Senopati Kerajaan Islam Demak. Dia juga dikenal sebagai pujangga dan pencipta gending terkenal seperti Maskumambang dan Mijil.

Dengan kemampuannya itu, dalam berdakwah dia selalu memadukan nilai Islam dengan kearifan lokal, salah satunya yang terserak dalam arsitektur Masjid Menara Kudus yang memadukan unsur Hindu dan Islam.

Dulu, konon ketika bedug ditabuh masyarakat sekitar yang sebagian besar masih beragama Hindu datang berkerumun, tertarik oleh lantunan kidung Islami yang dilantunkan Sunan Kudus. Lambat laun, Dandangan pun menjadi ajang berkumpulnya orang-orang.

Warga, santri, dan pedagang berbaur, berkumpul dan menjajakan makanan khas seperti lontong opor, nasi kuning, ketan kuning, hingga intip ketan. Sebagian makanan sudah nggak bisa dinikmati lagi sekarang, tapi sebagian lainnya masih acap tersaji dalam tradisi Dandangan saat ini.

Kisah Gadis Pingitan 

Pedagang yang memamerkan dagangannya di tengah Dandangan saat malam hari. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Tak hanya sebagai penanda Ramadan, Dandangan juga menyimpan cerita menarik tentang gadis pingitan. Konon, Dandangan menjadi waktu bagi para perempuan pingitan diperbolehkan keluar rumah.

Alkisah, di sekitar Menara Kudus, terutama di Desa Langgar Dalem, banyak gadis yang sebelumnya jarang terlihat karena tradisi pingitan. Namun, saat Dandangan tiba, para orang tua mengizinkan mereka keluar rumah, menjadi ajang bagi para perjaka mencari jodoh. Jika ada yang cocok, lamaran pun segera diajukan.

Festival Dandangan 2925 mengusung tagline "Belajar, Bekerja & Berkarya, Kudus Sehat. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Namun, agaknya cerita itu sudah nggak ada lagi sekarang, seiring dengan memudarnya tradisi pingitan. Saat ini, Dandangan telah berkembang menjadi festival rakyat. Jika Yogyakarta mempunyai Sekaten dan Semarang memiliki Dugderan, di Kudus ada Dandangan.

Wilayah penyelenggaraan Dandangan juga nggak terbatas di sekitar Masjid Menara, tapi meluas hingga Jalan Sunan Kudus, Jembatan Sungai Gelis, hingga Alun-Alun Simpang Tujuh. Selama festival, ribuan orang memadati area pasar malam, membeli aneka jajanan, hingga menyaksikan berbagai pertunjukan budaya.

Puluhan Ribu Pengunjung

Keramaian Dandangan pada malam hari. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Selain sebagai sarana hiburan, tradisi Dandangan juga dinantikan para pedagang lokal karena bisa menjadi ajang untuk meraup keuntungan lebih besar sebelum Ramadan tiba, terutama pada malam hari. Semakin malam, suasana pasar malam di sini memang semakin terasa.

Hujan yang acap turun pada malam hari selama Dandangan juga rupanya nggak mengendurkan minat masyarakat untuk datang, entah sendirian, bersama keluarga, sahabat, atau pasangan, menikmati keramaian sembari mengudap berbagai hidangan tradisional yang dibanderol dengan harga sewajarnya.

Gerabah warna-warni menjadi salah satu ciri khas Dandangan. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Hal itu sebagaimana dikatakan Revlisianto, salah seorang panitia penyelenggara selepas menutup acara Dandangan pada Jumat (27/2). Menurutnya, sebagai salah satu event tahunan yang paling dinanti, dia memperkirakan total jumlah pengunjung mencapai 50 ribu orang.

Sepanjang acara berlangsung, Dandangan setidaknya dikunjungi 50 ribu orang, baik dari dalam maupun luar Kudus," terangnya. "Kalau omzet, saya belum dapat laporan dari Dinas Perdagangan. Namun, saya pastikan antusiasme masyarakat tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu."

Semoga berakhirnya Dandangan menjadi awal yang baik untuk menjalankan ibadah Ramadan tahun ini ya. Sampai jumpa di dandangan-dandangan berikutnya! (Imam Khanafi/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: