BerandaKulinary
Selasa, 5 Mar 2018 11:13

Hangatkan Tubuhmu dengan Jamu Jun Khas Semarang

Jamu jun, minuman khas Semarang. (Inibaru.id/Ida Fitriyah)

Menjadi salah satu minuman khas Kota Semarang, keberadaan Jamu Jun mulai jarang dijumpai. Kendati punya banyak pelanggan tetap, minuman bertekstur kental yang punya rasa manis tersebut kini hanya dijajakan sejumlah penjual secara turun-temurun.

Inibaru.id – Jamu umumnya identik dengan rasa pahit ya, Millens. Sebab itu banyak yang nggak suka minum jamu. Namun, di Semarang ada lo jamu yang rasanya manis bahkan nggak ada rasa pahitnya sama sekali. Minuman ini juga termasuk salah satu minuman yang khas Semarang. Namanya Jamu Jun.

Minuman khas Semarang ini bisa memberikan kehangatan bagi tubuh usai meminumnya. Disebut jamu jun karena jamu ini dijajakan menggunakan jun, yaitu semacam wadah dari tanah liat yang zaman dahulu dipakai untuk mengisi air.

Perpaduan 21 rempah-rempah membuat minuman ini kaya khasiat. Yang membuat "ramuan" ini nggak pahit adalah lantaran jamu jun dicampur dengan gula jawa. Adapun tekstur kental pada jamu jun disebabkan karena ada campuran tepung beras dalam minuman hangat ini.

Baca juga:
Jajanan Masa Kecil yang Bertransformasi
Usaha Turun-temurun Minumuman Khas Kota Semarang

Jamu jun disajikan dalam mangkuk kecil dengan beberapa topping di atasnya. Topping itu di antaranya glindingan (gumpalan kecil dari kelapa, jahe, tepung, dan rempah-rempah), santan, dan bubuk merica. Minuman ini cocok diminum dalam keadaan hangat.

Jamu jun. (Inibaru.id/Ida Fitriyah)

Bukan dari Semarang

Kendati menjadi minuman yang diklaim khas Semarang, jamu jun sejatinya bukanlah minuman asli Kota Lunpia. Jamu ini berasal dari Demak, tapi waktu itu mayoritas pedagang menjualnya ke Semarang. Inilah yang membuat jamu jun lebih terkenal di Semarang.

“Di Demak minuman ini lebih dikenal sebagai Wedang Coro, kalau di Semarang jadi Jamu Jun,” ujar Mahmud, salah seorang penjual jamu jun di Semarang.

Konon, jamu jun mulai dibuat berdasarkan permintaan Raja Demak. Kala itu, raja menyuruh bawahannya yang sakti untuk menemukan satu daun di gunung guna menyembuhkan anaknya yang sakit. Namun, bawahannya itu lupa nama daun tersebut. Dia pun membawa pulang satu gunung. Rempah-rempah pada gunung itu kemudian diambil dan dicampur menjadi satu minuman yang sekarang disebut sebagai Jamu Jun.

Jamu itu kemudian banyak dibuat masyarakat dan dijual ke berbagai tempat, salah satunya ke Semarang. Mahmud dan istrinya, Lismiyati, merupakan generasi keempat penjual jamu jun di Semarang. Mereka mengaku masih mempertahankan resep asli yang diturunkan nenek moyangnya dalam membuat jamu jun.

“Resep ini masih asli dari dulu, turun temurun sampai sekarang,” kata Mahmud saat ditemui di belakang Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Mahmud mengaku, membuat jamu jun nggak semudah kelihatannya. Butuh proses panjang nan rumit untuk menghasilkan minuman kental tersebut. Rempah-rempah yang dikumpulkan harus dijemur hingga kering. Setelah kering, rempah ditumbuk dan disangrai. Setelah siap, rempah dicampur dengan tepung beras, dan gula jawa. Voila, jadilah Jamu Jun!

Mahmud dan Lis menjajakan dagangannya ke sejumlah tempat. Mereka berjualan di Pasar Prembaen, Semarang, pada Senin-Kamis. Kemudian, Jumat-Minggu malam mereka "pindah" jualan ke Kawasan Pasar Semawis. Sementara, Jumat dan Minggu pagi mereka membuka lapak di belakang Kantor Gubernur Jawa Tengah. 

Menurut pasangan yang sudah berjualan jamu jun selama 10 tahun itu, mereka bisa menjual 2,5 hingga 3 wadah jun setiap hari.

Langganan

Nggak sedikit masyarakat Semarang yang menjadi langganaan jamu jun milik Lis dan Mahmud. Para pembeli langganan itu bahkan bersedia memburu minuman menyehatkan tersebut di tempat-tempat keduanya mangkal, salah seorang di antaranya adalah Wahyu.

“Saya suka banget jamu jun. Waktu saya kecil, ibu Mbak Lis berkeliling kompleks rumah saya untuk jualan jamu jun. Jadi, ya, sudah terbiasa,” kata perempuan berjilbab asal Semarang tersebut.

Hal yang sama juga diungkapkan Ninik yang juga begitu menggemari jamu jun.

“(Saya) sering beli jamu jun di sini. Kalau pas nggak ada di sini ya saya cari di Pasar Prembaen. Enak soalnya,” ungkap perempuan yang bekerja di Universitas PGRI Semarang itu antusias.

Namun begitu, peminat jamu jun saat ini kebanyakan didominasi para orang tua. Bahkan, nggak banyak anak muda yang mengetahui keberadaan jamu legendaris khas Semarang tersebut.

Rahma, pelajar SMK Negeri 4 Semarang yang berlokasi nggak terlalu jauh dari Kantor Gubernur Jateng, mengaku dirinya nggak tahu kalau ada minuman tradisional yang dijual di dekat sekolahnya. Dia bahkan nggak pernah mendengar, terlebih mencicipi, jamu jun.

Baca juga:
Lontong Cap Go Meh, Keberuntungan dalam Perpaduan Aneka Rasa
Bukan Bakpia, Jajanan Khas Tegal Ini Bernama Latopia

“Nggak, aku tahu jamu jun. Emang dasarnya aku nggak suka jamu-jamuan sih,” tuturnya.

Selain karena dianggap kurang menarik atau nggak kekinian bagi anak muda, hal yang membuat jamu jun kurang terkenal adalah lantaran nggak banyak lagi penjual jamu jun yang bertahan, sehingga begitu sulit menemukan pejual jamu jun di Kota ATLAS.

Nah, buat kamu warga Semarang dan sekitarnya, tentu ini menjadi tugas kita bersama untuk melestarikan kekayaan kuliner tradisional di Ibukota Jawa Tengah tersebut. Kalau bukan anak muda yang melestarikannya, siapa lagi? (IF/GIL)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

'Bom Nuklir' dan 'Perdamaian' yang Viral di Tengah Eskalasi Konfik Timur Tengah

6 Mar 2026

Saking Bekunya Musim Dingin, Warga Laut Baltik Berseluncur dari Satu Pulau ke Pulau Lain

6 Mar 2026

Bukan Emas Lagi; MUI Jateng Ubah Patokan Nisab Zakat Profesi

6 Mar 2026

Duduk Perkara Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip versi Polrestabes Semarang

6 Mar 2026

Oksigen Banyak dari Laut, Terus Kenapa Masih Ribut Soal Hutan?

6 Mar 2026

Tiket Mudik Ludes 400 Ribu! Cek Tanggal Favorit dan Kereta Pilihan di Daop 4 Semarang Ini

6 Mar 2026

Wisata Alam Kalikesek Semakin Ramai, Warga Desa Sriwulan Dapat THR

7 Mar 2026

Masjid Fujikawaguchiko, Tempat Salat dengan Latar Spektakuler Gunung Fuji di Jepang

7 Mar 2026

Sahur Tanpa Nasi Cuma Makan Lauk, Beneran Bikin Kuat Puasa Seharian?

7 Mar 2026

Ikan Air Tawar vs Ikan Laut: Siapa yang Paling Tahan Lawan Pemanasan Global?

7 Mar 2026

Aman Nggak Ya Mudik dengan Mobil Listrik?

8 Mar 2026

Membedah Mitos Minum Air Hangat Bisa Turunkan Berat Badan

8 Mar 2026

Restorative Justice Akhiri Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip Semarang

8 Mar 2026

Berburu Baju Bekas sekaligus Bantu Korban Kekerasan di Bazar Preloved Sintas

8 Mar 2026

Sarung Tangan Karet Bekas Ternyata Bisa Jadi 'Penyedot' Polusi

8 Mar 2026

Srikandi Ojol Jateng Kini Punya Aplikasi Khusus Anti-Pelecehan

8 Mar 2026

Musim Mudik, Pengendara Diimbau Istirahat di Rest Area Maksimal 30 Menit

9 Mar 2026

Menilik Keseruan Momen Membeli Kebutuhan Lebaran

9 Mar 2026

PDAM Semarang Gelar 'Operasi Ketupat', 14 Ribu Penunggak Jadi Sasaran

9 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: