Inibaru.id - Di ruang tamu rumahnya di Mangkang, Kota Semarang, Supriyatun tampak membuka-buka buku panduan haji sambil sesekali tersenyum. Tahun ini, dia dan suaminya, Sutarno, akhirnya mendapatkan kesempatan menunaikan perjalanan spiritual ke Tanah Suci setelah menunggu lebih dari satu dekade.
Perempuan 63 tahun ini menceritakan bahwa dia dan suaminya telah membulatkan tekad untuk pergi berhaji sejak 2012. Setelah berhasil mendaftarkan diri, mereka menabung sedikit demi sedikit dari hasil jualan nasi di Pasar Mangkang dan uang pensiunan suaminya.
"Saya berjualan nasi sudah 40 tahun. Menunya macam-macam. Ada soto, mangut, rames, gorengan. Harga murah, rames Rp5.000, soto Rp6.000," ucap Supriyatun saat ditemui Inibaru.id, Sabtu (4/4).
Setiap hari, Supriyatun bangun dini hari sekali untuk menyiapkan jualannya. Mulai pukul 05.30 WIB, dia sudah berjualan di Pasar Mangkang sampai pukul 11.00 WIB.
Selain dari usaha warung nasi, tabungan haji mereka juga ditopang dari pensiunan suami Supriyatun. Diketahui Sutarno merupakan ASN di Pemkot Semarang yang terakhir bertugas di Dinas Perdagangan, tapi tetap produktif setelah purna tugas dengan bertani dan berternak.
"Setiap hari saya titipkan uang ke bank keliling, kadang Rp10.000, kadang Rp20.000. Kalau ada kebutuhan mendesak, saya ambil sebagian dulu," paparnya.
Persiapan Fisik dan Mental
Dalam beberapa minggu terakhir, Supriyatun dan suaminya rutin melakukan aktivitas fisik seperti berjalan kaki setiap pagi. Hal tersebut sebagai upaya menjaga kebugaran dan menyiapkan diri menghadapi teriknya udara Mekkah nanti.
Pasangan ini akan berangkat ke Tanah Suci pada 29 April 2026, tergabung dalam kloter 27. Awalnya mereka dijadwalkan berangkat pada 2023, tapi terpaksa ditunda karena adanya wabah pandemi Covid-19.
"Setengah tahun terakhir saya ikut manasik haji setiap minggu di Islamic Center Semarang. Kesehatan saya dan suami juga dinyatakan baik oleh puskesmas," jelasnya.
Supriyatun juga menyiapkan beberapa makanan favoritnya untuk dibawa ke Tanah Suci. Tidak sekadar untuk dinikmati, tapi juga sebagai pengingat hangatnya rumah dan keluarga selama menunaikan ibadah haji di Mekkah.
"Ada serondeng, sambal pecel, abon, kering tempe, kering teri. Saya bawa dari rumah, jaga-jaga kalau di sana tidak cocok," imbuhnya seraya tersenyum.
Menjelang hari keberangkatan, detak jantung Supriyatun kian cepat. Haru dan bahagia bercampur, karena sebentar lagi mimpi mereka menunaikan Rukun Islam ke-5 akan segera terwujud.
Setibanya di Mekkah nanti, harapannya cukup sederhana, yakni bisa beribadah dengan khusyuk dan mendoakan orang-orang terdekat agar mereka pun bisa merasakan pengalaman menunaikan haji.
"Harapannya, saya bisa mendoakan semua, anak-anak, cucu, dan tetangga," ungkapnya. "Semoga diberi kesehatan dan rezeki yang lancar, sehingga mereka juga bisa menunaikan ibadah haji."
Ketekunan Supriyatun jadi inspirasi nyata, bukti bahwa kesabaran dan kerja keras dari jualan nasi selama bertahun-tahun bisa mewujudkan mimpi besar menunaikan ibadah haji. Kamu juga bisa, Gez! (Sundara/E10)
