BerandaHits
Jumat, 8 Jan 2026 15:06

Tanah Longsor Jadi Ancaman Utama di Kota Semarang, 160 Kejadian Sepanjang 2025

Salah satu peristiwa bencana longsor di Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, belum lama ini. (Inibaru.id/ Sundara)

Tanah longsor menjadi bencana paling dominan di Kota Semarang sepanjang 2025, tapi korban jiwa terbesar didominasi peristiwa kebakaran, sebagaimana dipaparkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang.

Inibaru.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang mencatat, ada 160 kejadian tanah longsor sepanjang 2025, menjadikannya sebagai bencana alam paling dominan di Ibu Kota Jawa Tengah (Jateng).

Secara keseluruhan, BPBD mencatat ada 418 kejadian bencana di Semarang. Dari rentetan peristiwa tersebut, 9 orang meninggal dunia dan 3.056 warga terdampak, mulai dari kerusakan rumah, terganggunya aktivitas sehari-hari, hingga hilangnya mata pencaharian sementara.

Kepala BPBD Kota Semarang Endro Pudyo Martanto menyampaikan, sepanjang 2025, tanah longsor menjadi jenis bencana yang paling banyak terjadi di Kota Semarang. Hal itu lantaran karakter wilayah yang sebagian besar berbukit dan rawan pergerakan tanah.

"Sepanjang tahun lalu, tanah longsor masih mendominasi kejadian bencana di Kota Semarang," ujar Endro saat dihubungi Inibaru.id, Kamis (8/1/2026).

Rincian Kejadian Bencana

Berdasarkan data BPBD Kota Semarang, dari total 418 kejadian bencana, rinciannya sebagai berikut:

  • Tanah longsor: 160 kejadian
  • Rumah roboh: 79 kejadian
  • Kebakaran: 69 kejadian
  • Puting beliung: 47 kejadian
  • Banjir dan rob: 30 kejadian
  • Pohon tumbang: 27 kejadian. 

Endro menjelaskan, tanah longsor sebagian besar terjadi di wilayah yang termasuk Kawasan Rawan Bencana (KRB), terutama di kecamatan dengan kontur berbukit seperti Candisari, Ngaliyan, Gajahmungkur, Tembalang, dan Gunungpati.

"Kondisi topografi yang menanjak dipadukan dengan curah hujan tinggi membuat daerah ini rentan terhadap longsor," sebutnya.

Dia menambahkan, penyebab rumah roboh di Kota Semarang cukup beragam. Dari 79 kejadian, sekitar 40 rumah roboh akibat longsor, 27 rumah tertimpa pohon tumbang, dan sisanya dipicu bangunan yang sudah tua atau lapuk. Sebagian kecil rumah roboh juga disebabkan oleh puting beliung.

Korban Terbesar Justru dari Kebakaran

Meski tanah longsor menjadi peristiwa bencana terbanyak sepanjang 2025, korban jiwa terbesar justru disebabkan oleh peristiwa kebakaran. Salah satu peristiwa besar yang menyita perhatian terjadi di Kelurahan Mlatibaru, Kecamatan Semarang Timur, yang menewaskan satu keluarga beranggotakan lima orang.

Sementara itu, Endro mengatakan, satu korban meninggal dunia lainnya adalah lantaran tertimpa rumah roboh di Kecamatan Semarang Tengah. Dia menyebutkan, jumlah bencana di Kota Semarang mengalami penurunan tahun ini.

"Sekarang lebih kecil dibanding 2024 yang tercatat mencapai 488 kejadian. Sama seperti tahun ini, (bencana) tahun lalu juga didominasi tanah longsor," jelasnya. "Meski menurun, kami mengimbau agar warga tetap waspada, terutama saat hujan lebat dan angin kencang, mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi."

Saat hujan lebat atau angin kencang, Endro menyarankan masyarakat untuk sebisa mungkin menghindari berteduh di bawah pohon besar lantaran pohon rawan tumbang. Selain itu, warga yang tinggal di kawasan perbukitan juga perlu meningkatkan kewaspadaan karena potensi longsor tetap ada.

Saran yang masuk akal, kan? Kalau kamu tinggal di perbukitan, nggak ada salahnya meningkatkan kewaspadaan, ya! (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: