BerandaHits
Jumat, 18 Des 2025 09:01

Sulit Cari Kerja Formal, Banyak Lulusan S1 Jadi Pengemudi Ojol

Ilustrasi: Sebanyak 25 persen pengemudi ojol adalah lulusan S1. (Inibaru.id/Audrian F)

Menurut mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, 25 persen pengemudi ojol lulusan S1. Dia pun menyebut hal ini disebabkan oleh lapangan kerja di Indonesia yang nggak mampu menyerap lulusan S1 dengan baik.

Inibaru.id – Wakil Presiden di di masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo, Jusuf Kalla, baru-baru ini mengeluarkan informasi yang cukup mengejutkan. Katanya, 25 persen dari pengemudi ojek online (ojol) adalah lulusan S1 alias sarjana.

Laki-laki yang kerap disapa JK ini mengungkapnya saat hadir dalam acara Sarasehan Ekonomi Universitas Hasanuddin Makassar pada Senin (15/12/2025) lalu. Menurutnya, fakta ini menandakan bahwa lulusan perguruan tinggi nggak terserap sepenuhnya oleh lapangan kerja di Tanah Air.

“Sebanyak 25 persen pengemudi ojol lulusan sarjana. Ini menandakan adanya ketidakseimbangan antara lapangan kerja dengan jumlah orang yang lulus perguruan tinggi,” ungkap JK sebagaimana dikutip dari Cnn.

Asal kamu tahu saja, 25 persen ini sangatlah banyak karena jika kita menilik data yang dibeberkan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub dalam acara Focus Grup Discussion (FGD) Transportasi Online yang Adil dan Berkelanjutan pada Jumat (25/7), diungkap bahwa jumlah mitra ojol di Tanah Air mencapai 7 juta orang. Artinya, ada jutaan lulusan S1 yang kini menjadi pengemudi ojol, Gez.

Salah satunya adalah Antono, lulusan S1 Sastra Indonesia dari salah satu perguruan tinggi negeri populer di Kota Semarang. Dia mengaku sudah melakoni profesi ini hampir 5 tahun.

“Nggak mudah memang buat lulusan dari jurusan saya pas kuliah mendapatkan pekerjaan formal yang sesuai dengan ilmu yang dipelajari dulu. Karena tuntutan ekonomi, akhirnya dulu saya putuskan jadi pengemudi ojol. Ternyata masih saya lakoni sampai sekarang,” ucapnya pada Rabu (17/12).

Idealnya, profesi pengemudi ojol menjadi batu loncatan sebelum mendapatkan pekerjaan formal. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Dia pun mengenang masa di mana pendapatan menjadi pengemudi ojol masih menjanjikan. Kala itu, dia bisa mendapatkan Rp150 ribu – Rp200 ribu sehari. Kini, pendapatan kotor hariannya hanya berkisar separuh dari itu.

“Kadang nggak sampai Rp100 ribu sehari. Mungkin karena pengemudinya semakin banyak makanya persaingannya jadi semakin ketat,” ungkapnya.

Pengakuan Antono sesuai dengan data yang diungkap Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) pada 2024 lalu. Sejak 2023, pendapatan mitra ojol memang cenderung menurun dari kisaran Rp174 ribuan jadi rata-rata Rp50 ribu – Rp100 ribuan saja, Gez. Padahal, untuk mendapatkan uang tersebut, mereka harus menyelesaikan rata-rata 10 orderan per hari.

Lantas, apakah berarti menjadi pengemudi ojol nggak menjanjikan, khususnya bagi lulusan S1? Kalau menurut guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Imamudin Yuliadi, idealnya sih lulusan S1 menjadikan mitra ojol sebagai batu loncatan karier saja.

“Jadi aktivitas antara atau batu loncatan sembari menunggu pekerjaan formal,” ucapnya di situs UMY pada Minggu (23/11/2025).

Sayangnya, di lapangan, yang terjadi berbeda. Bukan hal aneh bagi Antono bertemu dengan kawan-kawan sesama mitra ojol yang juga lulusan S1 dan sudah bertahun-tahun melakoni profesi ini.

“Kayaknya memang semakin susah mencari pekerjaan formal. Tapi saya masih berharap bisa mendapatkannya kok, meski tentu saja, kayaknya fresh graduate peluangnya lebih besar mendapatkannya dari saya yang sudah di usia sekarang,” pungkasnya.

Yap, di tengah banyaknya informasi tentang PHK massal di mana-mana, masih memiliki profesi seperti menjadi pengemudi ojol memang dianggap sebagai hal yang lebih baik. Tapi, tetap saja, semoga saja kondisi lapangan kerja di Indonesia bisa semakin baik sehingga jumlah pengangguran bisa semakin berkurang, ya, Gez? (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: