BerandaHits
Jumat, 15 Jun 2023 08:00

Sampai Kapan Sepak Bola Perempuan di Indonesia Dianaktirikan?

Para pemain Persib Bandung Putri sedang latihan ringan sebelum bertanding di ajang Ratanika Cup II. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Sepak bola perempuan bertahun-tahun masih belum terlalu diperhatikan pihak federasi. Sampai kapan kaum hawa dianaktirikan dari permainan olah bola dari kaki ke kaki tersebut.

Inibaru.id - Dalam rentan waktu yang cukup lama sampai sekarang, sepak bola belum benar-benar ramah bagi perempuan. Diyakini salah satu akar permasalahan permainan olah bola dari kaki ke kaki di kalangan kaum hawa adalah streotip gender.

Hal itu diakui pelatih klub Putri Mataram Sleman, Sri Hastuti. Sebagai mantan pemain dan kini melatih salah satu klub legendaris, dia mengungkapkan, hingga kini perempuan masih dianggap kurang etis melakukan pekerjaan yang sangat mengandalkan fisik, termasuk sepak bola.

"Banyak yang beranggapan, perempuan main bola itu tabu. Perempuan kok nendang-nendang bola itu kayak kelihatan kasar," kata Itut, sapaan akrab Sri Hastuti kepada Inibaru.id di tengah turnamen Ratanika Cup II yang berlangsung di Lapangan Wonolopo, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, beberapa waktu yang lalu.

Belasan tahun mengembangkan sepak bola perempuan, Itut merasa Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) belum berlaku adil. Sepak bola perempuan seperti dianaktirikan.

"Kami (sepak bola perempuan) butuh kompetisi. Walaupun skala kecil, yang penting sebulan sekali ada turnamen. Biar masyarakat tahu; oh, ternyata sepak bola perempuan ada. Ditonton juga seru," ujarnya.

Perlu Gotong Royong

Perlu gotong royong bersama untuk mempopulerkan sepak bola perempuan. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Minimnya kompetisi dan apresiasi membuat sejumlah klub sepak bola perempuan pun kocar-kacir, lalu gulung tikar. Namun, nggak demikian dengan pelatih Persis Solo Women Alief Syahrizal. Kendati belum terlalu diperhatikan, Alief memilih tetap berjuang membina sepak bola perempuan.

"Saya rasa daripada tahun sebelumnya, (mulai) ada kesadaran dari komunitas maupun klub. Sepak bola perempuan harus disemarakkan bersama," ujarnya saat mendampingi klubnya di ajang Ratanika Cup II. "Saya yakin, suatu saat sepak bola perempuan jadi industri olahraga yang setara dengan laki-laki."

Menurutnya, turnamen Ratanika Cup II yang diikuti anak-anak asuhnya adalah contoh positif cara menyemarakkan sepak bola perempuan. Hal ini diperlukan, karena pihaknya nggak bisa hanya menunggu dan mengandalkan agenda PSSI.

Dia mengaku menyambut baik kerja sama antara PSSI dengan Federasi Sepak Bola Jepang untuk mengembangkan sepak bola perempuan. Namun, di mata Alief, yang dibutuhkan para pebola ini sejatinya adalah kompetisi.

"Kalau hanya latihan-latihan saja, kemampuan pemain kurang maksimal. Kompetisi harga mati untuk sebuah pembinaan," tegas Alief.

Butuh Pembinaan Berjenjang

Untuk membangun Garuda Pertiwi yang bisa bersaing di ajang Internasional, diperlukan pembinaan berjenjang. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Nggak ada perkembangan yang berarti di dunia sepak bola perempuan, tentu berpengaruh terhadap tim nasional. Garuda Pertiwi, sebutan untuk Timnas Sepak Bola Putri Indonesia, sejauh ini masih kesulitan bersaing di ajang internasional seperti Piala AFF, AFC, Olimpiade dan lain-lainnya.

Ketidakberdayaan Garuda Pertiwi di ajang internasional tersebut disoroti pelatih Persib Bandung Putri Iwan Bastian. Ibas, sapaan akrabnya mengungkapkan, untuk membangun Garuda Pertiwi syaratnya cuman satu; federasi nggak boleh membeda-bedakan sepak bola laki-laki dan perempuan.

"Pembinaan berjenjang sepak bola putra sudah berjalan, tapi untuk putri sama sekali nggak ada. Jadi, imbasnya ke timnas. Pas di tempat latihan bagus, tapi ketika pertandingan kayak nggak memiliki mentalitas," tutur Ibas.

Lelaki yang sudah kepala enam itu menanti gebrakan PSSI untuk sepak bola perempuan. Pasalnya, dari sumber daya manusia, menurut Ibas, banyak talenta putri di daerah yang tertarik menjadi seorang pesepak bola.

"Kalau kita latihan-latihan terus, para pemain mau dibawa ke mana? Keberadaan kompetisi kan jadi upaya untuk kita bisa mengeveluasi kekurangan pemain sejauh ini apa saja," tandasnya.

Sebagai catatan, informasi terakhir, Timnas Putri Indonesia keluar dari 100 Besar Ranking FIFA setelah turun enam tangga. Garuda Pertiwi yang sebelumnya menempati peringkat ke-99 terlempar di posisi ke-105 untuk Juni 2023. Posisi ini sekaligus menjadi peringkat terburuk timnas sejak 2003.

Banyak yang harus dibenahi. Namun, mendengar keluhan para pelatih klub sepak bola perempuan di Tanah Air ini, agaknya kita memang perlu menggelar lebih banyak kompetisi sebagai panggung sekaligus melakukan pembinaan yang lebih intens terhadap timnas putri. Sepakat, Millens? (Fitroh Nurikhsan/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: