BerandaHits
Kamis, 24 Feb 2021 17:36

Pakai PLTMH, Desa di Kulonprogo ini Nggak Pernah Alami Mati Listrik

Rejo Handoyo dan listrik PTMH-nya. (HarianJogja)

Warga Dusun Kedungrong, Desa Purwoharjo, Samigaluh, Kulon Progo, DIY, menggunakan sumber listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Hal ini membuat mereka lebih hemat biaya listrik. Selain itu, mereka juga nggak perlu lagi khawatir dengan pemadaman.<br>

Inibaru.id - Warga Dusun Kedungrong, Desa Purwoharjo, Samigaluh, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta barangkali tidak pernah merasakan mati listrik. Sebab, selain dialiri listrik dari PLN, mereka juga mendapatkan pasokan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang sudah dibangun sejak 2012.

Karena punya dua sumber listrik, bahkan ketika musim hujan warga desa ini nggak bakal khawatir bakal ada pemadaman. Kalau listrik PLN padam, ya tinggal pindah saja ke sumber listrik dari PLTMH.

Listrik alternatif ini awalnya banyak diragukan masyarakat setempat. Hanya sedikit yang memakainya dengan alasan keamanan. Namun, setelah terbukti bermanfaat, orang-orang yang awalnya ragu akhirnya tertarik. Terkini, sudah ada 50 keluarga yang memakainya.

“Karena juga jauh lebih murah, satu selapan (35 hari) itu cuma bayar Rp 12 ribu. Selain murah juga andal,” kata Rejo Handoyo, pengelola PLTMH Kedungrong ketika ditemui, Rabu (3/2/2021).

Kistiyah, salah seorang warga yang menggunakan listrik PLTMH untuk usaha jahit. (Kumparan)<br>

Harga yang murah itu nggak mengurangi kualitas sumber listrik. Daya yang didapat warga pun hampir sama dengan listrik PLN. Hal itu pun bikin warga di Kedungrong bergelimang listrik.

“Saya pakai TV, speaker aktif, kulkas, pompa air, sama mesin las masih kuat,” ujar Rejo.

Sementara bagi Kistiyah, menggunakan PLTMH membuatnya lebih hemat dalam urusan membayar listrik. Kalau sebelumnya dia harus menyiapkan uang Rp 170 ribu per bulan, kini dia hanya mengeluarkan Rp 140 ribu untuk dua sumber listrik.

“Setelah ada PLTMH baru berani beli mesin jahit, soalnya sudah nggak mikirin lagi biaya listrik,” kata Kistiyah.

Ada Kendala di Balik Berbagai Kemudahan

Meski sangat membantu, ternyata ada kendala yang dialami warga dalam mengelola PLTMH, yakni adanya sampah yang terkadang menghalangi gerak kincir sehingga putarannya jadi terhambat. Kumpulan sampah itu berasal dari sungai Progo yang masuk ke saluran irigasi.

“Itu tidak bisa lepas sendiri, jadi harus diambilin sampah-sampahnya, dibersihkan supaya putarannya normal lagi,” ujar Rejo Handoyo.

Saat melakukan pembersihan, mau nggak mau kincir harus dimatikan. Otomatis listrik harus dipadamkan. Biasanya, kegiatan bersih-bersih ini dilakukan sekitar pukul 16.00 sampai 17.00 sore.

Rejo Handoyo ingin warganya menggunakan PLTMH untuk usaha. (Harian Jogja)<br>

Kala musim hujan, aktivitas pembersihan ini harus lebih sering dilakukan jika nggak ingin kincir macet. Sementara saat musim kemarau, pembersihan cukup dilakukan dua hari sekali.

Selain sampah, kendala lain dalam mengelola PLTMH adalah jika ada pembangunan di atasnya. Tahun lalu, PLTMH ini sempat nggak beroperasi 3 bulan karena pembangunan tebing irigasi.

“Biasanya setiap tanggal 1 itu, di atas dikuras, sampahnya dibuang, jadi alirannya kan di sini berhenti. Selain itu, jarang sekali ada masalah,” kata Rejo Handoyo.

Dimanfaatkan untuk Usaha

Hal lain yang jadi perhatian warga adalah belum adanya sistem penyimpanan energi listrik. Meski hasil listrik PLTMH melimpah, banyak yang akhirnya hanya dibuang ke ballast karena nggak dipakai. Jika sampai ada penyimpanan, bisa saja listrik tersebut dipakai untuk mesin pengering gabah atau hal-hal lainnya.

Sayangnya, ada biaya yang nggak sedikit untuk mengurus penyimpanan energi listrik yang nggak terpakai ini. Apalagi, ada sejumlah peralatan penunjang lain yang juga harus disediakan.

“Kalau punya duit, sudah saya bikin," pungkas Rejo.

Sejauh ini, warga banyak yang mulai memaksimalkan listrik dari PLTMH untuk membuka usaha seperti bengkel, produksi kue, menjahit, hingga kerajinan. Hanya, jumlahnya memang masih sedikit.

Wah, ide penggunaan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) seperti ini mungkin bisa diaplikasikan di banyak daerah lain, ya, Millens? Banyak manfaatnya! (Kum/IB28/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Di Korea Selatan, Siswa Pelaku Bullying Dipersulit Masuk Universitas

19 Jan 2026

Melegenda di Muntilan, Begini Kelezatan Bubur Mbah Gamping

19 Jan 2026

Terdampak Banjir, Warga Wonorejo Mulai Mengeluh Gatal dan Demam

19 Jan 2026

Antisipasi Doomscrolling, Atur Batas Waktu Youtube Shorts Anak dengan Fitur Ini!

19 Jan 2026

Opsi Layanan Kesehatan 'Jemput Bola' untuk Warga Terdampak Banjir Wonorejo

19 Jan 2026

Bijak Kenalkan Gawai dan Media Sosial pada Anak

19 Jan 2026

Bupati Pati Sudewo Kena OTT KPK! Terkait Kasus Apa?

19 Jan 2026

Jalur Pekalongan-Sragi Tergenang, Sebagian Perjalanan KA Daop 4 Semarang Masih Dibatalkan

19 Jan 2026

Cantiknya Pemandangan Air Terjun Penawangan Srunggo di Bantul

20 Jan 2026

Cara Unik Menikmati Musim Dingin di Korea; Berkemah di Atas Es!

20 Jan 2026

Kunjungan Wisatawan ke Kota Semarang sepanjang 2025 Tunjukkan Tren Positif

20 Jan 2026

Belasan Kasus dalam Dua Tahun, Bagaimana Nasib Bayi yang Ditemukan di Semarang?

20 Jan 2026

Ratusan Perjalanan Batal karena Banjir Pekalongan, Stasiun Tawang Jadi Saksi Kekecewaan

20 Jan 2026

Viral 'Color Walking', Tren Jalan Kaki Receh yang Ampuh Bikin Mental Anti-Tumbang

20 Jan 2026

Nggak Suka Dengerin Musik? Bukan Aneh, Bisa Jadi Kamu Mengalami Hal Ini!

20 Jan 2026

Duh, Kata Menkes, Diperkirakan 28 Juta Warga Indonesia Punya Masalah Kejiwaan!

21 Jan 2026

Jika Perang Dunia III Pecah, Apakah Indonesia Akan Aman?

21 Jan 2026

Ki Sutikno; Dalang yang Tiada Putus Memantik Wayang Klithik Kudus

21 Jan 2026

Statistik Pernikahan Dini di Semarang; Turun, tapi Masih Mengkhawatirkan

21 Jan 2026

Kabar Gembira! Tanah Sitaan Koruptor Bakal Disulap Jadi Perumahan Rakyat

21 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: