BerandaHits
Rabu, 22 Agu 2023 18:07

Kaya Sejarah, Bangunan SMA Sedes Sapientiae Semarang Eksis Sejak 1911

Bangunan SMA Sedes Sapientiae sudah eksis sejak 1911. (Rio Wibowo 227)

Bangunan SMA Sedes Sapientiae Semarang nampak berbeda dari bangunan di sekitarnya. Arsitektur Eropanya sangat kuat. Hal ini disebabkan oleh bangunan tersebut ternyata sudah ada sejak 1911.

Inibaru.id – Kalau kamu melewati Jalan MT Haryono 908, Peterongan, Kota Semarang, pasti bakal melihat gedung SMA Sedes Sapientiae. Soalnya, bangunan sekolah tersebut sangat mencolok dan berbeda dari bangunan di sekitarnya. Sentuhan arsitektur Eropa pada bangunan tersebut sangat kental. Hal ini wajar karena ternyata bangunan sekolah tersebut memang sudah eksis sejak zaman penjajahan Belanda, Millens.

Sekolah ini berada di bawah naungan Yayasan Marsudirini dan memiliki tiga jurusan, yaitu MIPA, IPS, dan Bahasa. Sekolah ini juga memiliki tiga nilai utama yang harus dihayati oleh semua warganya, yaitu ‘sapientiae’ yang berarti kebijaksanaan, ‘conseguemento’ yang berarti berprestasi, serta ‘fratellanza’ yang berarti persaudaraan.

Kalau menilik keterangan yang diunggah smasedes-smg.sch.id, sebelum populer jadi sekolah, bangunannya dikenal sebagai Biara Bangkong. Perancangnya adalah seorang laki-laki Belanda bernama Plaggen. Peletakan batu pertama bangunan ini dilakukan pada 9 Juni 1910. Setahun kemudian, tepatnya pada 27 Juni 1911, gedung ini selesai dibangun dan mendapatkan pemberkatan dari Pastur Hoevenaars SJ.

Murid-murid yang sebelumnya bersekolah di Bojong (Jalan Pemuda) kemudian dipindahkan ke Biara Bangkong. Setelah itu, bangunan tersebut semakin berkembang sebagai lokasi pendidikan. Bahkan, pada Januari 1940, pada kompleks biara terdapat Frobel School yang setara dengan TK, Lagere School yang setara dengan SD, Javaanse School yang merupakan SD untuk kaum pribumi, MULO (SMP), hingga tempat kursus mengetik serta kursus steno.

Aktivitas pendidikan sempat berhenti saat Perang Dunia II Pecah pada 1941 dan Jepang mulai menduduki Nusantara setahun setelahnya. Pada Juni 1943, bangunan Biara Bangkong bahkan dipakai tentara Jepang sebagai Kamp Interniran alias tempat menahan anak-anak dan perempuan Eropa, khususnya orang Belanda.

Bangunan SMA Sedes Sapientiae lengkap dengan penanda kapan bangunan tersebut berdiri. (Gemapelikan)

Terkait dengan sejarah tersebut, di depan Kapel Biara Bangkong terdapat plakat yang menunjukkan peristiwa yang terjadi antara 1943 sampai 1945 yang bertuliskan:

Ter herinnering aan de vrouwen – jongens en mannen. Die hier geinterneerd zijn geweest Bangkong. 1943-1945.”

Jika diartikan, maknanya adalah “Untuk mengenang perempuan dan laki-laki yang pernah ditahan di sini, Bangkong. 1943-1945”.

Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada 24 Agustus 1945, Kamp Interniran akhirnya dibubarkan. Orang-orang Eropa tersebut kemudian diungsikan ke Batavia pada November dan Desember 1945. Setelah itu, bangunan sekolah ditata ulang agar bisa kembali dipakai tempat belajar-mengajar.

Sayangnya, pada April 1950, kegiatan sekolah kembali dihentikan karena bangunan sekolah dikuasai TNI. Sekitar 19 bulan kemudian, berkat negosiasi yang dilakukan Pastor van Beek dan Moeder Overste, pihak TNI akhirnya mengembalikan fungsi bangunan seperti sedia kala dan meninggalkannya.

Pada tahun yang sama, kepengurusan sekolah yang ada di Bangkong ini masih menjadi bagian dari SMA Kolese Loyola. Namun, terbitnya Surat Keputusan Departemen P&K saat itu membuat SMA Kolese Loyola 1 yang ada di Jalan Karanganyar dan SMA Kolese Loyola 2 yang ada di Bangkong harus diurus secara terpisah. Sejak 1951, SMA Marsudirini Sedes Sapientiae pun resmi berdiri di bangunan bersejarah dengan sentuhan Eropa yang sangat kuat tersebut.

Keren banget ya, Millens, bangunan SMA Sedes Sapientiae Semarang masih terawat sampai sekarang meski aslinya dibangun pada 1911 lalu. Semoga saja tetap awet karena bangunan tersebut punya nilai sejarah tinggi. (Arie Widodo/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Cantiknya Pemandangan Pantai Dasun Lasem, Kabupaten Rembang

3 Mar 2026

Saat Takjil War, Waspada dengan Sejumlah Pembungkus Takjil Nggak Sehat Ini

3 Mar 2026

OTT Edisi Ramadan, KPK Bawa Bupati Pekalongan Fadia Arafiq ke Jakarta

3 Mar 2026

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Jemaah Maiyah yang Lantang Kritik Program MBG

3 Mar 2026

Tren 'Grading Card', Autentifikasi Kartu Koleksi agar Nilai Jual Lebih Tinggi

3 Mar 2026

Mulai Maret Ini, Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Main Medsos

3 Mar 2026

Kartu Mebel Jepara, 'Tiket Emas' biar UKM Ukir Naik Kelas

3 Mar 2026

Sejuk dan Alami, Begini Keindahan Air Terjun Kyai Buku Jepara

4 Mar 2026

Sepanjang 2025, Uang Hilang Setara Rp355 Miliar di Jepang Kembali ke Pemiliknya

4 Mar 2026

Opsi 'Sekolah Swasta Gratis' Akan Terintegrasi dengan SPMB 2026 di Kota Semarang

4 Mar 2026

Ponpes Raudhatul Qur'an; Cetak Ratusan Hafiz dengan Biaya Bulanan Murah Meriah

4 Mar 2026

Menguliti Asal Usul Nama Kurma

4 Mar 2026

Tragedi Cinta Mangir-Pembayun; Saat Asmara Jadi Senjata Penakluk Mataram

4 Mar 2026

Aneka Festival Musim Semi di Korea Selatan yang Bisa Kamu Datangi

5 Mar 2026

Benar Nggak Sih Sawit Bakal Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Energi Global?

5 Mar 2026

Wajibkan Pencairan Maksimal H-7 Lebaran, Jateng Aktifkan Posko THR untuk Pengaduan

5 Mar 2026

Uji Coba Bus Listrik untuk Transportasi Publik yang Inklusif dan Ramah Lingkungan

5 Mar 2026

Kekerasan Seksual vs Main Hakim Sendiri; Undip Tegaskan Nggak Ada Toleransi!

5 Mar 2026

Siap-Siap Gerah! Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

5 Mar 2026

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: