BerandaFoto Esai
Senin, 10 Nov 2024 09:00

Lebih Dekat dengan Pabrik Rokok Legendaris di Semarang: Praoe Lajar

Lebih Dekat dengan Pabrik Rokok Legendaris di Semarang: Praoe Lajar

Meski produknya jarang ditemukan di Semarang, Praoe Lajar yang telah berdiri sejak 1945 menjadi pabrik rokok paling melegenda di kota ini. (Inibaru.id/ Murjangkung)

Kendati dikenal sebagai pabrik rokok legendaris di Semarang, Praoe Lajar sangat jarang ditemukan di kota ini. Lalu, di mana produk mereka dijual?

Inibaru.id - Siapa pun yang melintas di sekitar Kota Lama Semarang pasti melihat pabrik rokok satu ini. Yap, Pabrik Rokok Praoe Lajar namanya. Jenama pabrik tersebut tertulis besar-besar di dinding gedung. Namun begitu, nggak banyak yang tahu gimana aktivitas di dalamnya, termasuk saya.

Jangankan melongok ke dalam, menjumpai produknya pun saya belum pernah. Maka, saya merasa beruntung saat beberapa waktu lalu punya kesempatan menyambangi pabrik rokok legendaris di Kota Lunpia ini. Saya datang bersama agenda kunjungan tim Bea Cukai Jateng dan DIY.

Kesan pertama memasuki pabrik ini, bagian dalamnya ternyata nggak begitu luas, tapi aktivitasnya benar-benar padat. Kedatangan kami disambut Manajer Operasional Praoe Lajar Aditya Wibowo Setia Budhi, generasi keempat pemilik Praoe Layar.

Sebagai ujung tombak pengendali produksi rokok yang sudah berusia puluhan tahun, Aditya terbilang cukup muda. Lelaki 24 tahun ini mengaku, dirinya disuruh memegang tampuk kepemimpinan pabrik nggak lama setelah lulus kuliah.

"Habis kuliah di Jakarta selesai, saya disuruh pulang untuk megang pabrik," ungkapnya sembari mengajak kami berkeliling.

Berpindah-pindah

Aditya bercerita, pabrik ini telah berdiri sejak 5 Mei 1945. Pabrik pertama berdiri di Kampung Kledung, Semarang Timur; lalu pindah ke Jalan Pusponjolo di bilangan Siliwangi (Semarang Barat). Pada 7 Mei 1952, Praoe Lajar pindah ke Jalan Merak (Kota Lama) sampai sekarang.

"Pabrik yang sekarang ini tanahnya sudah beberapa kali ditinggikan karena sering kebanjiran. Sampai sekarang (setelah ditinggikan) juga masih terdampak (banjir)," terangnya begitu kami tiba di gudang penyimpanan tembakau.

Di gudang penyimpanan tersebut, ada sekitar 10 orang yang berbagi tugas, antara mengurai tembakau dengan mendistribusikannya ke gedung-gedung produksi. Aditya mengungkapkan, tembakau yang dipakainya diambil dari kota sekitar seperti Temanggung, Weleri, Mranggen (Demak).

"Yang paling jauh dari Madura," serunya sembari menunjuk tembakau yang tengah diurai. "Saya biasa turun tangan untuk mengetes cita rasa secara langsung, karena tiap tahun, tiap saat, dan tiap musim rasa tembakau bisa berbeda-beda."

Tergantung Tanah dan Cuaca

Menurut Aditya, cita rasa tembakau akan berbeda tergantung tanah dan cuaca. Karena musim kemarau cukup panjang, tahun ini dia mengaku bisa mendapatkan tembakau yang cukup bagus atau manis. Namun, mulai September lalu, pembelian sudah dia hentikan karena telah mulai hujan.

"Kalau (musim) hujan, rasa tembakau jadi pahit," paparnya.

Tembakau yang dibeli, dia melanjutkan, nggak serta merta diproses menjadi rokok, melainkan disimpan dulu selama dua tahun. Nah, di sinilah gudang diperlukan. Saat memasuki ruangan tersebut, saya bisa melihat gunungan tembakau yang disusun meninggi.

"Ya, kami memanfaatkan lahan (yang ada). Tempatnya cuma segitu ya penyimpanan sampai tinggi-tinggi," kelakarnya.

Punya Ratusan Karyawan

Bersisian dengan gudang penyimpanan terdapat tempat pembuatan rokok. Ruangan tersebut berisikan ratusan karyawan yang tengah bekerja; ada yang melinting, ada yang membatil (merapikan) rokok. Seluruh pekerjaan itu dilakukan secara manual, tenaga manusia tanpa bantuan mesin, kecuali mesin linting yang sudah kuno.

"Pelinting dan pembatil ini berjumlah 300 karyawan. Kami semua manual. Hand made, termasuk pengemasan. Bahkan, untuk perekat kami bikin lem sendiri dari tepung kanji," akunya.

Sementara, terkait kapasitas produksi, Aditya mengaku belum bisa memiliki angka pasti karena beberapa alasan, antara lain permintaan pasar, kualitas tembakau, dan kondisi cuaca, terutama banjir. Distribusinya juga lebih banyak di luar Semarang.

"Meski disebut rokok legendaris di Semarang, Praoe Lajar nggak banyak dijual di kota. Kami main di pantura seperti Pekalongan, Tegal, dan sekitarnya. Kalau di sini (Semarang), kami kalah sama (produk) yang paling maju," jelasnya.

Tanpa Saus Kimia

Aditya membeberkan, rokok Praoe Lajar hingga kini masih memegang teguh produksi rokok tradisional. Nggak hanya dari segi pembuatan, bahan yang dipakai juga setali tiga uang. Nggak seperti rokok kebanyakan yang memakai "saus kimia", rokok bikinannya masih memakai campuran rempah herbal alami.

"Rokok Praoe Lajar nggak ada yang pakai saus kimia; semua masih alami, pakai rempah-rempah herbal," tukasnya.

Konsistensi tersebut, diakui Aditya, membuat dirinya kesulitan menjaga kesamaan rasa dari tahun ke tahun. Dia nggak menyangkal jika ada yang bilang bahwa rasa dari rokok Praoe Lajar berubah-ubah. Selain alami, dirinya memang mengubahnya untuk mengikuti zaman.

"Rasa dari rokok Praoe Lajar 20 tahun lalu, 10 tahun lalu, dan sekarang memang beda karena nggak mudah bagi kami untuk menjaga konsistensi rasa itu," akunya. "Namun, perubahan ini juga kami lakukan untuk mengikuti perkembangan zaman; misalnya sekarang jadi lebih ringan karena anak muda sekarang maunya yang begitu."

Wah, nggak nyangka! Menurut saya, konsisten terhadap inkonsistensi rasa pada rokok Praoe Lajar ini sepertinya bisa menjadi ciri khas juga ya, Millens? (Murjangkung/E03)

Dari gudang penyimpanan, tembakau dipersiapkan untuk diproses menjadi rokok di Pabrik Praoe Lajar.
Proses pengeringan tembakau di Pabrik Rokok Praoe Lajar sebelum masuk tahap pelintingan.
Tembakau yang sudah kering dikumpulkan, lalu didistribusikan ke bagian pelintingan.
Karena masih menggunakan cara manual, proses pelintingan rokok Praoe Lajar membutuhkan ratusan tenaga manusia.
Butuh keterampilan tangan untuk menghasilkan rokok dengan ukuran presisi.
Untuk menjaga higienitas dan melindungi diri dari aroma tembakau yang menyengat, para karyawan di Pabrik Rokok Praoe Lajar dibekali masker dan alat pelindung diri lainnya.
Setelah dirapikan, rokok Praoe Lajar siap untuk dikemas dan diedarkan.
Berbagai tembakau dan produk rokok Praoe Lajar dalam kemasan yang siap diedarkan.
Menjajal rokok Praoe Lajar yang jarang diedarkan di Semarang.
Bangunan Pabrik Rokok Praoe Lajar tampak ikonik dengan tulisan besar-besar di dinding luarnya.

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Iri dan Dengki, Perasaan Manusiawi yang Harus Dikendalikan

27 Mar 2025

Respons Perubahan Iklim, Ilmuwan Berhasil Hitung Jumlah Pohon di Tiongkok

27 Mar 2025

Memahami Perasaan Robot yang Dikhianati Manusia dalam Film 'Companion'

27 Mar 2025

Roti Jala: Warisan Kuliner yang Mencerminkan Kehidupan Nelayan Melayu

27 Mar 2025

Jelang Lebaran 2025 Harga Mawar Belum Seharum Tahun Lalu, Petani Sumowono: Tetap Alhamdulillah

27 Mar 2025

Lestari Moerdijat: Literasi Masyarakat Meningkat, tapi Masih Perlu Dorongan Lebih

27 Mar 2025

Hitung-Hitung 'Angpao' Lebaran, Berapa Banyak THR Anak dan Keponakan?

28 Mar 2025

Setengah Abad Tahu Campur Pak Min Manjakan Lidah Warga Salatiga

28 Mar 2025

Asal Usul Dewi Sri, Putri Raja Kahyangan yang Diturunkan ke Bumi Menjadi Benih Padi

28 Mar 2025

Cara Menghentikan Notifikasi Pesan WhatsApp dari Nomor Nggak Dikenal

28 Mar 2025

Hindari Ketagihan Gula dengan Tips Berikut Ini!

28 Mar 2025

Cerita Gudang Seng, Lokasi Populer di Wonogiri yang Nggak Masuk Peta Administrasi

28 Mar 2025

Tren Busana Lebaran 2025: Kombinasi Elegan dan Nyaman

29 Mar 2025

AMSI Kecam Ekskalasi Kekerasan terhadap Media dan Jurnalis

29 Mar 2025

Berhubungan dengan Kentongan, Sejarah Nama Kecamatan Tuntang di Semarang

29 Mar 2025

Mengajari Anak Etika Bertamu; Bekal Penting Menjelang Lebaran

29 Mar 2025

Ramadan Tetap Puasa Penuh meski Harus Lakoni Mudik Lebaran

29 Mar 2025

Lebih dari Harum, Aroma Kopi Juga Bermanfaat untuk Kesehatan

29 Mar 2025

Disuguhi Keindahan Sakura, Berikut Jadwal Festival Musim Semi Korea

29 Mar 2025

Fix! Lebaran Jatuh pada Senin, 31 Maret 2025

29 Mar 2025