BerandaAdventurial
Jumat, 23 Mei 2024 17:00

Wisata 'Train Street' Semarang; Ramai-Ramai Menyapa Kereta yang Melintas

Seorang anak kecil sudah melabai-labaikan tangan dari jauh ketika melihat kereta akan melintas. (Inibaru.id/Fitroh Nurikhsan)

Menjelang senja, orang-orang biasanya telah duduk di tepi rel, lalu ramai-ramai menyapa kereta melintas. Begitulah gambaran wisata 'train street' Semarang saban sore.

Inibaru.id - Banyak yang bilang, ke Vietnam nggak akan lengkap kalau belum mampir ke salah satu kedai kopi di sepanjang Jalan Phung Hung, Hanoi. Bukan untuk ngopi, tapi merasakan sensasi menonton kereta api yang lewat dari jarak sangat dekat.

Berlokasi sekitar 50 meter dari pusat kota Hanoi, jalan tersebut memang bersisian dengan jalur rel kereta api, dengan jarak yang saat kereta melintas terlihat hampir menyentuh rumah warga. Keunikan inilah yang menjadikannya sebagai spot wisata "train street" paling autentik di Negeri Naga Biru.

Saat kereta mulai terlihat dari kejauhan, orang-orang akan melongok ke sisi rel, lalu menyodorkan kamera atau sekadar melambaikan tangan menyambut rangkaian kereta yang melintas. Situasi yang sama juga bisa kamu lihat di Jalan Hasanudin, Kota Semarang.

Di sekitar perlintasan kereta yang memotong Jalan Hasanudin, kamu juga akan melihat orang-orang yang berdiri di sisi rel saban sore. Begitu kereta mulai terlihat dari kejauhan, mereka yang semula duduk di tepian akan berdiri dan mendekat, lalu mengambil gambar atau sekadar melambaikan tangan.

Wisata train street di Jalan Hasanudin memang nggak sesensasional di Hanoi yang jarak keretanya begitu dekat dengan rumah warga. Namun, tetap saja berwisata di tempat ini mengasyikkan. Biasanya, menjelang sore, warga dari kecil hingga dewasa mulai berdatangan untuk menanti kereta lewat.

Lokasi perlintasan kereta di Jalan Hasanudin memang berdekatan dengan Stasiun Poncol sehingga kereta yang akan melintas, baik masuk atau keluar stasiun, akan terlihat jelas dari tempat tersebut. Karena itulah tempat ini menjadi salah satu spot terbaik untuk menonton kereta di Semarang.

Melambai ke Arah Masinis

Potret orang tua momong anak hingga cucu di perlintasan kereta api Jalan Hasanudin Semarang. (Inibaru.id/Fitroh Nurikhsan)

Saat palang pintu perlintasan kereta ditutup dan sirine dibunyikan, orang-orang yang semula menanti di pinggir rel akan segera berdiri, lalu menengok ke kanan-kiri untuk menebak arah kedatangan, kemudian berakhir dengan anak-anak melambaikan tangan ke arah masinis saat kereta melintas. Itulah yang setiap sore terjadi di lokawisata gratis tersebut.

Sensasi paling mengharukan di tempat ini adalah ketika lambaian tangan anak-anak disambut lambaian masinis. Anak-anak akan tersenyum lebar. Bahagia. Para orang tua yang mengantarkan mereka pun setali tiga uang.

Kebahagiaan serupa juga dirasakan Sudarsono. Datang bersama cucu dari anak pertamanya belum lama ini, lelaki paruh baya itu mengaku senang karena sempat melihat kereta melintas beberapa kali. Dia senang karena cucunya yang baru berusia setahun sudah mulai terbiasa dengan kereta.

"Awal-awal diajak ke sini, dia (cucu) sempat takut karena suara bising dari kereta, tapi sekarang sudah terbiasa," tutur kakek 60 tahun yang tinggal nggak jauh dari Stasiun Poncol tersebut.

Sudarsono mengungkapkan, menonton kereta adalah aktivitas yang dulu juga dia lakukan bersama ayahnya. Saking seringnya menghabiskan sore di pinggir jalur kereta tersebut, warga Kelurahan Panggung Lor tini sampai hafal nama-nama kereta api yang melintas saat senja.

"Ini (aktivitas menonton kereta) sudah lama sekali. Waktu kecil saya juga diajak lihat-lihat kereta api sama ayah; pas remaja malah suka naik kereta tanpa beli tiket dari Poncol ke Tegal," kelakarnya.

Menaiki Mesin Waktu

Perlintasan kereta api di dekat Stasiun Poncol jadi alternatif tempat untuk bersantai di waktu sore hari. (Inibaru.id/Fitroh Nurikhsan)

Bagi Sudarsono, menonton kereta di Jalan Hasanudin ibarat menaiki mesin waktu. Jadi, selain momong cucu, menyambangi tepian jalur kereta ini pada sore hari juga bentuk bernostalgia; hal serupa yang juga dirasakan Sukardi.

Lelaki yang berprofesi sebagai satpam ini bukanlah warga setempat. Namun, dia yang kini tinggal di Kecamatan Ngaliyan beberapa kali sengaja menempuh perjalanan belasan kilometer hanya untuk menghabiskan sore bersama buah hatinya di tempat tersebut.

"Dulu, saya ajak dia (anak) sekali nonton kereta di sini; eh, habis itu malah ketagihan. Jadi, begitu ada waktu luang, ya sudah, saya ajak dia ke sini lagi," ujar lelaki yang memang senang memperkenalkan berbagai alat transportasi umum kepada buah hatinya tersebut.

Menurut Sukardi, kecintaan anak-anaknya pada kereta api menurun dari dirinya yang juga punya ketertarikan yang sama terhadap si kuda besi ini. Terkait hal tersebut, dia mengaku punya banyak kenangan yang hingga kini masih diingat-ingatnya.

"Yang paling saya ingat adalah diajak bapak naik kereta barang (sembunyi-sembunyi) sekadar untuk menikmati perjalanan ke Jakarta," kenangnya dengan mata berbinar. "Nggak kehitung jari (naik kereta barang); kalau ketahuan tinggal bayar 300 perak ke petugas bagian rem."

Wah, banyak cerita juga, ya? Semoga wisata train street di Semarang ini nggak bernasib serupa dengan Hanoi yang sempat ditutup pemerintah setempat lantaran dianggap terlalu membahayakan, ya! (Fitroh Nurikhsan/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: