BerandaTradisinesia
Kamis, 2 Jul 2025 09:01

Eksis Sejak 1965, Begini Cerita Maganol, Toko Layangan Tertua di Semarang

Toko Maganol, toko layangan tertua di Kota Semarang yang sudah eksis sejak 1965. (Mradipto Notosapoetro)

Zaman berganti, tapi Toko Maganol yang dikenal sebagai toko layangan tertua di Kota Semarang terus bertahan. Seperti apa ya kisah dari toko yang legendaris ini?

Inibaru.id – Di antara deretan toko di Jalan MT Haryono, Kota Semarang, ada satu yang tampil mencolok karena meski nggak dilengkapi dengan papan nama yang besar atau desain modern, justru dijejali pelanggan. Toko itu bernama Maganol, yang ternyata sudah berdiri sejak tahun 1965 dan disebut-sebut sebagai toko layangan tertua di Kota Semarang.

Nama Maganol sendiri diambil dari alamat tokonya, MT Haryono nomor 530 yang angkanya disingkat menjadi Ma-Ga-Nol. Sebuah nama yang sederhana tapi menyimpan sejarah panjang tentang ketekunan, ketahanan, dan tentu saja kecintaan pada dolanan tradisional Indonesia, layangan.

Kini, toko legendaris tersebut dikelola oleh Mulyono Sentoso (68), generasi kedua yang meneruskan usaha keluarganya sejak awal 1980-an. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan modernisasi, Mulyono tetap setia menjual aneka layangan dari jenis aduan hingga hias, serta benang-benang layangan legendaris seperti Cap Hiu, Cobra, dan Cat Blue.

“Kalau musim kemarau datang, toko ini pasti ramai. Mulai dari anak-anak sampai bapak-bapak datang cari layangan atau benang gelasan,” kata Mulyono sambil tersenyum di sela-sela membungkus pesanan kliennya dari luar kota, sebagaimana dinukil dari Radarsemarang, Minggu (29/6/2025).

Yap, pembeli toko Maganol tak hanya datang dari Semarang, melainkan juga dari daerah lain seperti Magelang, Kendal, hingga Yogyakarta. Banyak dari mereka yang bertandang ternyata adalah pedagang eceran yang kulakan layangan untuk dijual kembali. Mengapa mereka memilih untuk membeli layangan di situ? Karena harga yang ditawarkan sangat terjangkau, mulai dari Rp1.000–Rp2.000 per layangan, tergantung ukuran dan kualitas.

Pembeli berdatangan dari berbagai wilayah ke Toko Maganol. (Arief Widyatmoko)

Menariknya, awalnya Maganol berdiri bukanlah sebagai toko layangan. Ceritanya, ayah Mulyono dulunya adalah seorang guru di sekolah Tionghoa. Setelah peristiwa G30S/PKI pada 1965, banyak sekolah etnis Tionghoa ditutup. Untuk bertahan hidup, orang tuanya mulai berjualan apa saja dari tembakau, roti kering, onderdil sepeda, hingga mainan seperti layangan.

Lambat laun, layangan justru menjadi primadona dan paling dicari pembeli, apalagi saat musim kemarau. Layangan aduan seperti Sukhoi dan Seot selalu laku keras. Belum lagi layangan hias seperti Pegon atau layangan khas Bali yang juga banyak diburu. Sejak saat itulah, toko Maganol lebih dikenal sebagai toko layangan.

Sayangnya, bertahan di bisnis mainan tradisional tidaklah mudah. Mulyono menyebut benang dan layangan yang dia jual sebagai barang musiman yang nggak mudah dicari bahannya. Barang-barang tersebut juga cenderung rentan karena sangat sensitif terhadap kelembapan serta serangan kutu bambu.

“Pernah setahun nggak ada musim layangan. Tapi kami tetap buka dengan sabar. Nanti kalau sudah mulai ramai lagi, toko ini akan hidup kembali,” ungkapnya.

Kini, Mulyono berharap ada generasi berikutnya yang mau meneruskan kepengurusan Toko Maganol. “Anak saya dua, yang sulung sudah meninggal. Kalau yang satu nanti mau nerusin, ya alhamdulillah. Tapi semua tidak bisa dipaksakan,” pungkasnya lirih.

Yang pasti, dengan keterampilan tangan Mulyono yang masih cekatan mengurus layangan dan benang, Maganol akan terus jadi jujugan pencari layangan, khususnya di musim kemarau seperti sekarang. Kalau kamu sendiri, apakah juga beli layangan di sana Millnes? (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: