BerandaPasar Kreatif
Senin, 22 Mar 2026 07:01

Seni, Tradisi, dan Ekspresi Keislaman di Festival Takjil Piji Wetan

Beberapa orang sedang berburu takjil di Festival Takjil Kampung Budaya Piji Wetan (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Di penghujung Ramadan, menjelang waktu berbuka, Kampung Budaya Piji Wetan menggelar Festival Takjil, rangkaian kegiatan yang mempertemukan seni, tradisi, dan ekspresi keislaman.

Inibaru.id – Waktu menjelang Magrib menjadi momentum yang selalu di tunggu-tunggu oleh umat muslim selama Ramadan. Momen yang dikenal sebagai ngabuburit itu acap dimanfaatkan dengan berburu takjil atau hidangan berbuka.

Selain mempersiapkan takjil seperti kolak atau kudapan pembuka, ngabuburit juga sering dimanfaatkan dengan membuat kegiatan seru, sebagaimana dilakukan oleh warga Piji Wetan, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, belum lama ini.

Memadukan deretan tenant penjual hidangan berbuka dan panggung hiburan, mereka menggelar Festival Takjil. Di Panggung Ngepringan, sore itu mendadak riuh, tawa saling bersahutan di antara deretan menu kuliner hingga ragam pertunjukan.

Suasana festival tetap meriah meski digelar di penghujung Ramadan. Hari itu, para pegiat seni, pelajar, hingga komunitas, turut serta memeriahkan festival.

Ber-Islam melalui Seni

Anak-anak sedang memeragakan Fashion show di depan panggung Ngepringan (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Warga juga tampak antusias mengikuti beragam perlombaan, mulai dari fashion show anak, menggambar, kaligrafi, hingga azan dan ikamah.

Koordinator Kampung Budaya Piji Wetan, Muhammad Zaini mengatakan bahwa Ramadan bukan alasan untuk menjeda dalam berkarya.

"Bulan suci justru menjadi waktu yang tepat untuk memupuk semangat menyeimbangkan antara urusan dunia dan ukharawi," sebutnya.

Dia mengatakan, festival ini merupakan kegiatan rutin yang selalu dinantikan masyarakat tiap tahun, karena menghadirkan pelbagai kegiatan menarik.

"Untuk tahun ini, festival sengaja digelar pada pekan terakhir Ramadan," jelasnya.

Ekspresi Keislaman

Seorang dalang cilik sedang mementaskan wayang di Panggung Ngepringan (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Zaini mengatakan, masyarakat Piji Wetan selalu menyambut festival ini dengan meriah karena selain bisa berburu takjil, mereka juga bisa ikut berkarya dan berkreasi.

"Masyarakat diberi ruang ekspresi keislaman. Inilah yang menjadi salah satu alasan mereka menyambut dengan antusias," terangnya.

Antusiasme masyarakat, dia menambahkan, sangat terlihat dari banyaknya pengunjung yang datang serta keseriusan peserta untuk mengikuti lomba.

"Mereka terlihat ekspresif," paparnya. "Ini bagus untuk memunculkan bibit-bibit baru, khususnya dalam kesenian bernuansa islami."

Antara Seni dan Dakwah

Salah satu penampilan penyanyi religi di Festival Takjil Kampung Budaya Piji Wetan (Inibaru.Id/Alfia Ainun Nikmah)

Zaini mengungkapkan, Festival Takjil sengaja dikonsep dengan nuansa islami yang begitu kental, khususnya dalam lomba-lomba, karena tujuan utamanya memang untuk syiar agama Islam lewat jalur seni.

"Kami syiar, tapi melalui kesenian. Memadukan kesenian dengan dakwah," paparnya.

Melalui rangkaian acara menarik, mulai dari lomba, santunan yatama (anak-anak yatim), hingga demo memasak, dia berharap akan tercipta regenerasi kesenian untuk masa depan.

"Momen Ramadan ini menjadi waktu yang sangat tepat untuk mengakomodasi para pegiat,” ujar lelaki yang juga akrab disapa Jessy tersebut.

Hidupkan Tradisi Lama

Aksi Demo Masak dengan menghadirkan chef lokal (Inibaru.Id/Alfia Ainun Nikmah)

Nggak hanya berisikan kuliner dan lomba-lomba islami, Jessy menjelaskan bahwa festival tersebut juga sarat tradisi dan budaya. Dia menyebut, salah satu misi mereka memang untuk memperkenalkan ulang budaya yang pernah ada.

Bentuk tradisi yang disisipkan di antaranya adalah budaya Lingsiran. Setelah menyelesaikan berbagai ragam lomba dan pertunjukan, mereka duduk berdampingan membentuk lingkaran besar di atas tikar atau alas yang digelar di Panggung Ngepringan.

"Tidak ada kursi atau meja di situ. Semua orang duduk bersila di tikar seperti tradisi tempo dulu," ucapnya.

Di tengah lingkaran, tersaji takjil dan hidangan berbuka sederhana. Suasana hening sesaat di tengah azan Magrib yang berkumandang, lalu kembali riuh begitu mereka mulai berbuka secara serentak dalam "formasi" melingkar.

"Tradisi lengseran pernah ada, tapi mulai di ditinggalkan orang-orang. Nah, di Festival Takjil ini kami ingin hidupkan kembali," ucap Jessy.

Filosofi Pager Mangkok

Beberapa UMKM juga berjejeran memeriahkan Festival Takjil (Inibaru.Id/Alfia Ainun Nikmah)

Jessy mengatakan bahwa Tradisi Lengeseran ini sejalan dengan filosofi “Pager Mangkok”; sebuah hasil olah pikir untuk menanamkan kesadaran bahwa sedekah di bulan Ramadan bukan hanya tentang memberi materi.

"Sedekah juga tentang membangun 'pagar' pelindung bagi komunitas; pagar berupa solidaritas, kerukunan, dan cinta kasih antarsesama, termasuk berbagi takjil dan sembako kepada anak yatim piatu.

Dia berharap, Ramadan bisa menjadi salah satu momentum untuk mengangkat nilai-nilai luhur, salah satunya lewat tradisi yang disematkan dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Hm, acara yang menarik ya? Sayang sekali Ramadan sudah selesai. Kalau mau ikut juga, harus tunggu tahun depan, nih! (Alfia Ainun Nikmah)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Aman Nggak Ya Mudik dengan Mobil Listrik?

8 Mar 2026

Membedah Mitos Minum Air Hangat Bisa Turunkan Berat Badan

8 Mar 2026

Restorative Justice Akhiri Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip Semarang

8 Mar 2026

Berburu Baju Bekas sekaligus Bantu Korban Kekerasan di Bazar Preloved Sintas

8 Mar 2026

Sarung Tangan Karet Bekas Ternyata Bisa Jadi 'Penyedot' Polusi

8 Mar 2026

Srikandi Ojol Jateng Kini Punya Aplikasi Khusus Anti-Pelecehan

8 Mar 2026

Musim Mudik, Pengendara Diimbau Istirahat di Rest Area Maksimal 30 Menit

9 Mar 2026

Menilik Keseruan Momen Membeli Kebutuhan Lebaran

9 Mar 2026

PDAM Semarang Gelar 'Operasi Ketupat', 14 Ribu Penunggak Jadi Sasaran

9 Mar 2026

Setop Buang Air Mendidih ke Wastafel!

9 Mar 2026

Dari Bazar hingga Iktikaf; Ramadan 24 Jam di Masjid Al-Muhajirin Palebon

9 Mar 2026

Jateng Bakal Diserbu 17 Juta Pemudik, Siapkan Ini biar Kamu Nyaman di Jalan!

9 Mar 2026

Alasan Mengapa Mudik Lebaran dengan Sepeda Motor Nggak Dianjurkan Banyak Pihak

10 Mar 2026

Menikmati Kesejukan Air Terjun Sewawar Sedinding di Karanganyar

10 Mar 2026

Ramadan dalam Kepedulian, Ibu Profesional Semarang Gelar Program 'Berbagi Tanpa Sekat'

10 Mar 2026

Jangan Dimakan! Ikan Kakatua Itu 'Pabrik' Pasir Putih dan Penjaga Karang Karimunjawa

10 Mar 2026

Terinspirasi dari Hobi Nonton Anime, Hendra Kumbara Lahirkan Lagu Jepang-Jawa

10 Mar 2026

Exit Tol Bawen Bakal Punya Jalur Khusus Motor dan Rekayasa Lampu Merah

10 Mar 2026

Skjolden, Desa Tepi Pantai di Norwegia yang Berjarak 200 Kilometer dari Samudra

11 Mar 2026

Mencicipi Kehangatan Wedang Ronde Jago di Salatiga

11 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: