BerandaHits
Senin, 22 Mar 2026 11:01

Ternyata, Kangkung Nggak Pernah Ada di Menu bagi Pasien Rumah Sakit

Sayur kangkung ternyata nggak ada di menu makanan di rumah sakit. (Royco)

Jika kangkung nggak ditemukan di menu makanan di rumah sakit, apakah sayuran ini berarti berbahaya untuk dikonsumsi?

Inibaru.id - Pernah nggak sih kamu sadar, dari sekian banyak menu makanan di rumah sakit, hampir nggak pernah ada tumis kangkung? Padahal di luar sana, kangkung itu primadona. Harganya ramah di kantong, gampang diolah, dan rasanya pun cocok di lidah orang Indonesia. Lalu, kenapa justru jarang muncul di nampan pasien?

Ternyata alasannya bukan sesederhana soal “sayuran kampung” atau isu kebersihan semata. Ada alasan lain yang bikin kangkung nggak ditemukan di menu makanan di rumah sakit, Gez.

Menurut penjelasan ahli gizi dari IPB University, pemilihan menu untuk pasien rumah sakit memang dilakukan dengan sangat hati-hati. Setiap bahan makanan harus lolos berbagai pertimbangan, mulai dari keamanan pangan, kandungan zat gizi, hingga kecocokannya dengan beragam kondisi medis pasien.

Bukan Sekadar Isu Kontaminasi

Banyak orang mengira kangkung dihindari karena rentan terkontaminasi, misalnya logam berat dari lingkungan perairan. Memang, kontaminan seperti logam berat bisa berbahaya jika dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang. Namun, risiko ini sebenarnya tidak hanya ada pada kangkung. Bahan pangan lain seperti beras atau seafood pun bisa terpapar jika berasal dari lingkungan tercemar.

Artinya, absennya kangkung di menu rumah sakit bukan semata-mata karena faktor tersebut.

Kandungan Purin Jadi Pertimbangan

Kangkung memiliki kandungan purin. (Morulaivf)

Alasan yang lebih kuat justru berkaitan dengan kandungan gizinya. Kangkung termasuk sayuran berdaun yang relatif tinggi purin. Nah, purin ini bisa meningkatkan kadar asam urat dalam tubuh.

Bagi pasien dengan gangguan ginjal, asam urat, atau masalah metabolik tertentu, asupan purin biasanya perlu dibatasi. Padahal rumah sakit melayani pasien dengan diagnosis yang sangat beragam, mulai dari gangguan hati, ginjal, hingga penyakit kronis lainnya. Jadi, menu yang dipilih harus “aman” untuk para pasien-pasien tersebut.

Selain purin, sayuran berdaun seperti kangkung juga mengandung oksalat dan nitrat. Pada kondisi tertentu, zat-zat ini bisa menjadi pertimbangan tambahan dalam pengaturan diet klinis.

Soal Kepraktisan Juga Berpengaruh

Bukan cuma kandungan gizinya, faktor teknis juga ikut menentukan. Sayuran berdaun cenderung tidak tahan lama dan harus segera diolah setelah diterima. Dalam skala dapur rumah sakit yang menyiapkan ratusan porsi sekaligus, ini tentu jadi tantangan tersendiri.

Belum lagi, kangkung mengalami penyusutan volume yang cukup signifikan setelah dimasak. Untuk mendapatkan satu porsi yang layak, dibutuhkan bahan mentah dalam jumlah lebih banyak. Dari sisi efisiensi dan penyajian massal, hal ini kurang ideal. Makanya, kangkung dianggap kurang praktis untuk diolah, deh.

Jadi, Haruskah Kita Menghindari Kangkung?

Tenang, buat kamu yang sehat dan tidak punya kondisi medis khusus, kangkung tetap sayuran yang bergizi dan aman dikonsumsi selama diolah dengan benar dan berasal dari sumber terpercaya.

Ketiadaan kangkung di menu rumah sakit bukan berarti sayuran ini berbahaya. Ini lebih soal prinsip kehati-hatian dan standar diet klinis yang dirancang untuk melindungi pasien dengan kondisi kesehatan yang sangat beragam.

Jadi, kalau di rumah sakit kamu nggak menemukan tumis kangkung, bukan karena sayuran ini “terlarang”. Melainkan karena rumah sakit harus memilih menu yang paling aman untuk semua. Sudah paham kan, Gez? (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Temuan Prasasti di Klaten Bukan yang Pertama, Diduga Terhubung dengan Dua Prasasti Era Kolonial

18 Jun 2026

AMSI Dorong Kolaborasi Media untuk Menghadirkan Informasi Iklim yang Lebih Kredibel

19 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: