BerandaHits
Minggu, 17 Des 2022 08:00

Keseruan Ngaji Kebangsaan di Santrendelik Kampung Tobat

Potret Wakil Ketua MPR Lestari Moerdjiat, CEO Media Grup Mohammad Mirdal Akib dan Dosen Universitas Paramadina Luthfi Assyaukanie saat menjadi pembicara ngaji kebangsaan di Santrendelik Kampung Tobat. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdjiat, CEO Media Grup, Mohammad Mirdal Akib dan Dosen Universitas Paradima, Luthfi Assyaukanie kompak menyuarakan kepada pemuda untuk mempersiapkan diri menuju Indonesia emas tahun 2045.

Inibaru.id - Menjelang malam, hujan baru saja reda; berganti hawa dingin disertai kabut tipis. Namun, hal ini rupanya nggak memupus keinginan ratusan anak muda untuk menyambangi Nongkrong Tobat, pengajian rutin Kampung Tobat Santrendelik yang digelar saban Kamis petang.

Terlebih, Kamis (15/12/2022) itu "pesantren kontemporer" yang terletak di Gunungpati, Kota Semarang tersebut kedatangan tamu penting. Mereka adalah Wakil Ketua MPR Lestari Moerdjiat, CEO Media Grup Mohammad Mirdal Akib, dan pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) Luthfi Assyaukanie.

Ratusan peserta tampak telah ada di Santrendelik saat saya tiba sekitar pukul 19.00 WIB. Sebagian dari mereka sudah duduk di pendopo, sisanya masih mengantre makanan di bangunan kecil di sisi kirinya. Nggak lama kemudian, rombongan pembicara pun tiba.

Oya, sedikit informasi, Nongkrong Tobat merupakan kajian rutin bernapaskan Islam yang diinisiasi Santrendelik yang mendaku diri sebagai "pesantren kontemporer". Tiap minggu, kajian yang digelar saban Kamis malam ini memang jarang sepi. Pesertanya didominasi anak muda usia kuliah.

Untuk Para Generasi Perubahan

Menurut saya, konsep mengaji yang ringan dan relate dengan problematika kiwari (kekinian) menjadi alasan kenapa Nongkrong Tobat banyak diminati anak muda. Mereka kerap mengundang pemateri yang out of the box, kritis, dan dekat dengan anak muda, termasuk Kamis lalu.

Tampil sebagai pemateri pertama, Lestari Moerdjiat memulai kajian dengan mengingatkan anak muda untuk mempersiapkan diri menuju Indonesia emas. Menurutnya, anak muda adalah generasi perubahan.

"Yang ada di sini, kalian harus punya persiapan matang ketika Indonesia berusia 100 tahun pada 2045. Kalian harus jadi orang-orang di depan dan jadi pemimpin," kata perempuan kelahiran 1967 yang akrab disapa Rerie tersebut.

Di hadapan ratusan peserta, dia berharap mereka memiliki mimpi yang tinggi serta nggak cepat puas dengan pencapaiannya saat ini.

"Kalian rata-rata baru 20-30 tahun, kan? Usia segitu masih punya banyak kesempatan untuk meraih puncak karier maupun posisi strategis lainnya," ungkap Rerie. "Belajar bukan hanya di kampus. Belajar merupakan bagian dari hidup kita."

Penampakkan jamaah Santrendelik saat menyaksikan ngaji kebangsaan dengan tema 'Generasi Perubahan'. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Sepakat dengan Rerie, CEO Media Group Mohammad Mirdal Akib yang tampil sebagai pembicara kedua menimpali, untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, para pemuda memang harus memiliki ide-ide ciamik laiknya anak muda pada era 1928.

"Coba bayangkan, tahun 1928 para pemuda usia 18-21 tahun bergerak dari Aceh, Papua, Jawa, hingga Ambon; datang ke Jakarta. Sekitar 700 pemuda berkumpul, menghasilkan masterpiece yang kita kenal dengan Sumpah Pemuda," kenang Mirdal.

Lelaki asal Makassar ini berharap seluruh peserta yang rutin datang ke pengajian Nongkrong Tobat untuk meniru serta memodifikasi semangat juang yang telah dikobarkan Para Pemuda 1928.

"Dua puluh tahun yang akan datang adik-adik inilah yang akan jadi pemimpin di Republik ini. Kalian harus meniru semangat dan mimpi Para Pemuda 1928. Mereka nggak punya fasilitas, tapi memiliki gagasan brilian tercetusnya negara kesatuan Indonesia," tuturnya.

Harus Sama-Sama Berbenah

Sementara, Luthfi Assyaukanie yang tampil sebagai pemateri terakhir mengungkapkan, Indonesia bisa saja menjadi negara maju asalkan semua lapisan masyarakat mau sama-sama berbenah.

"Perubahan pada level negara itu tidak akan terjadi jika elemen di dalamnya meliputi individu maupun unit-unit terkecil tidak berubah," kata lelaki yang saat ini bekerja sebagai pengajar di Universitas Paramadina Jakarta tersebut.

Dengan modal yang dimiliki saat ini, Luthfi menambahkan, dia yakin Indonesia bisa menjadi negara adidaya suatu saat nanti.

"Indonesia diuntungkan karena pernah ada transisi politik, yakni Reformasi yang sistem politiknya berubah. Suatu negara bisa dikatakan berhasil jika ada value-nya. Namun, nilai itu bukan hanya diomongkan atau dihapal, tapi dipraktikkan," terangnya.

Obrolan panjang itu berlangsung hangat hingga menjelang tengah malam. Mengiringi tiga pemateri tersebut, Nongkrong Tobat spesial itu juga dimeriahkan dengan lantunan merdu penyanyi pop religi El Alice serta grup band Daniswara. Keduanya tampil menghibur dari awal hingga akhir acara.

Gimana, seru banget kan, Millens? Kalau kamu tertarik untuk datang, Nongkrong Tobat Santrendelik hadir tiap Kamis sekitar pukul 19.00 WIB. Selamat mengaji! (Fitroh Nurikhsan/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: