BerandaHits
Sabtu, 28 Jul 2023 16:58

Bahaya Laten Hoaks dan Upaya Serius Menangkalnya

Masih banyak masyarakat yang termakan berita hoaks. (via investing)

Dari hasil survei, lima dari sepuluh orang percaya dengan berita hoaks. Untuk itu, perlu upaya konkret untuk menangkalnya.

Inibaru.id – Serangan hoaks sama sekali nggak bisa dianggap remeh. Ia bisa sangat merugikan masyarakat hingga negara. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang termakan oleh berita hoaks. Bahkan, menurut hasil survei UNICEF dan Nielsen pada kwartal satu 2023, sekitar lima dari 10 warga Indonesia rentan terhadap serangan hoaks.

Survei ini melibatkan 2.000 responden acak di enam kota besar Indonesia, yakni Medan, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Makassar.

Nah, dari survei ini juga ditemukan bahwa hanya 14 persen warga Indonesia yang aktif memastikan kebenaran sebuah informasi yang diterima. Dari angka itu, hanya 0,1 persen warga yang melaporkan berita hoaks ke kanal-kanal yang tersedia.

Sebanyak 48 persen warga mengaku mengabaikan hoaks, 25 persen warga menghapus, dan 18 persen warga lainnya menghindari atau memblokir sumber informasi tersebut.

Selama pandemi Covid-19, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) mencatat lebih dari 2.300 isu hoaks Covid-19 tersebar di media sosial di Indonesia dan bikin penanggulangan Covid-19 terganggu.

Karena hoaks, masyarakat enggan memenuhi protokol kesehatan dan takut melakukan vaksinasi. Kepercayaan masyarakat terhadap otoritas kesehatan juga menurun.

Menanggapi hal ini, Rizky Ika Syafitri, Spesialis Perubahan Perilaku dan Sosial UNICEF Indonesia sekaligus Ketua Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (Pokja RCCE) mengatakan bahwa maraknya peredaran hoaks atau infodemi di Indonesia sangat berpengaruh pada upaya pencegahan penularan Covid-19 termasuk vaksinasi. Rizky khawatir hal ini bakal merembet pada layanan kesehatan esensial lainnya, seperti imunisasi rutin untuk anak.

Karena itu, UNICEF Indonesia melihat kebutuhan mendesak untuk memperkuat penanganan hoaks melalui kerjasama dengan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, media, akademisi dan pihak swasta. Harapannya, dukungan UNICEF melalui Pokja RCCE, Mafindo dan ICT Watch dapat menghasilkan berbagai inovasi dan memperkuat upaya kolaborasi.

Penanganan Infodemi di Indonesia

Menangani hoaks merupakan tugas rumit. Karena itu butuh kerjasama yang solid. (via Tribun)

Penanganan infodemi atau hoaks ini telah dilakukan Mafindo sejak 2016 silam. Buat yang belum tahu, Mafindo adalah komunitas anti-hoaks yang resmi menjadi lembaga nirlaba yang sah secara hukum pada tahun 2016.

Social listening, periksa fakta, pengembangan chatbot Kalimasada, dan edukasi masyarakat merupakan upaya-upaya yang telah dilakukan. Kini, dengan dukungan UNICEF dan Pokja RCCE, Mafindo melakukan sejumlah inovasi antara lain:

  1. Mengembangkan dashboard Manajemen Infodemi dashboard.rcce.id yang memuat analisis dan visualisasi data dari berbagai data terkait sebaran hoaks, vaksinasi Covid-19, dan perilaku masyarakat. Pemangku kepentingan dan pegiat penanganan hoaks dapat menggunakannya untuk menganalisa situasi, menentukan prioritas program, dan menyusun kebijakan;
  2. Mengembangkan progressive web application cekhoax.id untuk masyarakat umum. Kamu bisa mengecek fakta, melaporkan hoaks, belajar literasi digital, dan bergabung dalam komunitas penanganan hoaks;
  3. Membentuk pokja manajemen infodemi di Surabaya, Semarang, Aceh, Makassar, Jayapura, Kupang, dan Mataram;
  4. Mengembangkan materi edukasi literasi digital untuk masyakarat umum.

Hoaks bukan hal yang sepele. Butuh kerjasama untuk menghadapinya. “Kita tidak bisa sendiri dalam menghadapi hoaks atau infodemi ini. Masalahnya cukup rumit dan sumberdaya terbatas,” tambah Harry Sufehmi, Pendiri Mafindo.

Aksi nyata dalam penanggulangan hoaks jug dilakukan ICT Watch. Dengan dukungan UNICEF, mereka mengadakan pelatihan digital di 10 kota di Indonesia dengan pendekatan komunikasi antarpribadi (KAP).

Pelatihan ini menyasar kader kesehatan, guru, siswa, pegiat sosial, penyuluh agama, pegiat digital dan anak muda di Surabaya, Mataram, Kupang, Semarang, Banda Aceh, Makassar, Ambon, Jayapura, Yogyakarta, dan Jakarta. Paling nggak, lebih dari 2.500 komunikator yang tersebar di 10 kota tersebut tengah aktif mengedukasi masyarakat untuk menangkal hoaks. Sampai akhir Juni, lebih dari 85.000 orang terpapar dengan materi literasi digital.

“Edukasi literasi digital harus menyasar berbagai kelompok di masyarakat dengan pendekatan yang lebih praktis. Tidak hanya dengan metode edukasi konvensional seperti kelas pelatihan, seminar dan sebagainya, tetapi juga harus dapat disampaikan oleh siapapun dan kapanpun. Pendekatan komunikasi antarpribadi atau KAP membuka kemungkinan bagi setiap orang untuk mampu menyampaikan pesan-pesan edukasi literasi digital dalam berbagai kesempatan dengan cara menyenangkan,” papar Direktur Eksekutif ICT Watch Indriyatno Banyumurti.

Hm, memang benar ya bahwa menangani hoaks nggak bisa dilakukan sendiri. Pemerintah perlu merangkul berbagai pihak untuk menangkal penyebarannya. (Siti Zumrokhatun/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: