BerandaHits
Sabtu, 20 Mar 2026 09:01

Aman Nggak Sih Mencampur Pertalite dan Pertamax untuk Kendaraan Bermotor?

Ilustrasi: Mencampur Pertalite dengan Pertamax. (Kompas/Garry Lotulung)

Banyak orang mencampur Pertalite dan Pertamax demi membuat bahan bakar yang ada di tangki kendaraan bermotor tetap bagus dan lebih murah. Apakah memang demikian manfaatnya?

Inibaru.id - Sebagian pengendara kendaraan bermotor mungkin pernah atau bahkan sering mencampur Pertalite dan Pertamax di tangki bahan bakar. Biasanya karena alasan sederhana: ingin mendapatkan bensin yang dianggap “lebih bagus” dari Pertalite, tetapi tetap lebih hemat dibanding menggunakan Pertamax.

Sekilas terdengar masuk akal, tetapi ternyata kebiasaan ini tidak selalu baik bagi mesin kendaraan. Para ahli otomotif bahkan menyarankan agar pengendara tidak mencampur dua jenis bensin dengan karakter berbeda tersebut.

Beda Pertalite dengan Pertamax

Sebelum membahas dampaknya, penting memahami perbedaan dasar kedua bahan bakar ini. Pertamax memiliki angka oktan atau Research Octane Number (RON) 92, sementara Pertalite berada di RON 90.

Angka oktan ini menunjukkan kemampuan bahan bakar menahan tekanan sebelum terbakar di ruang mesin. Semakin tinggi angka oktan, semakin stabil proses pembakaran pada mesin berkompresi tinggi.

Ketika kedua bahan bakar ini dicampur, nilai oktannya akan berada di tengah-tengah. Misalnya, jika dicampur dengan perbandingan setengah-setengah, hasilnya kira-kira menjadi RON 91.

Menurut dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM), Jayan Sentanuhady, kondisi tersebut justru membuat kualitas bahan bakar tidak sesuai dengan standar masing-masing produk.

“Kalau dicampur 50 banding 50, jadi RON 91, keduanya tidak sesuai dengan standar masing-masing bensin. Akibatnya, kualitas pembakaran menurun dan performa mesin bisa terganggu,” jelasnya sebagaimana dinukil dari Kompas, Rabu (4/3/2026).

Mesin bisa kehilangan performa

Sembarangan mengisi BBM bisa mempengaruhi performa mesin kendaraan bermotor. (Astra Daihatsu)

Efek paling terasa dari pencampuran bensin ini biasanya muncul pada performa mesin. Jika kendaraan awalnya menggunakan Pertalite, campuran dengan Pertamax memang bisa membuat mesin terasa sedikit lebih baik. Namun sebaliknya, bagi kendaraan yang seharusnya menggunakan Pertamax atau bahan bakar beroktan tinggi, campuran tersebut justru bisa menurunkan kinerja mesin.

Hal ini karena mesin modern umumnya dirancang dengan kompresi tinggi yang membutuhkan bahan bakar dengan nilai oktan lebih tinggi. Jika angka oktannya turun, proses pembakaran bisa terjadi terlalu cepat sebelum waktu yang seharusnya. Akibatnya, mesin dapat mengalami gejala yang sering disebut “ngelitik” atau knocking.

Masalah lain yang bisa muncul adalah penumpukan kerak karbon di ruang bakar.

Ahli konservasi energi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yuswidjajanto Zaenuri, menjelaskan bahwa Pertamax memiliki zat aditif pembersih yang tidak terdapat pada Pertalite.

Jika kedua bahan bakar ini dicampur, komposisi aditif tersebut menjadi tidak seimbang. Dampaknya, pembakaran bisa menghasilkan residu karbon lebih banyak yang menempel di komponen mesin. Kerak ini lama-kelamaan dapat membuat ruang bakar lebih cepat kotor dan memengaruhi efisiensi mesin.

Sebaiknya mengikuti rekomendasi pabrikan

Para mekanik dan ahli otomotif umumnya menyarankan satu hal sederhana: gunakan bahan bakar sesuai rekomendasi pabrikan kendaraan.

Jika mesin dirancang menggunakan bensin RON 92 atau lebih tinggi, sebaiknya tetap menggunakan Pertamax atau bahan bakar setara. Sebaliknya, jika kendaraan dirancang untuk RON 90, Pertalite sudah cukup aman.

Mencampur dua jenis bensin mungkin terasa seperti solusi praktis untuk menghemat biaya. Namun dalam jangka panjang, kebiasaan ini justru berpotensi menurunkan performa mesin dan membuat kendaraan lebih cepat membutuhkan perawatan.

Jadi, daripada bereksperimen di tangki bahan bakar, lebih aman mengikuti standar yang sudah direkomendasikan oleh pabrikan kendaraan. Setuju kan, Gez. (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Kali Odo Semarang, Sungai yang Justru Deras saat Kemarau

7 Sep 2026

Hipdut, Perpaduan Hip-Hop dan Dangdut yang Dekat dengan Gen Z

8 Sep 2026

20 Kisah Perjuangan Bakal Diangkat Kemenbud ke Layar Lebar

9 Sep 2026

Jalan Pantura, Jalur Bersejarah yang Menjadi Urat Nadi Pulau Jawa

10 Sep 2026

Masuk Usia 17 Tahun, Warga Bakal Punya Rekening Berisi Rp50 Ribu

11 Sep 2026

First Look Film Animasi Timun Mas Dirilis, Bawa Dongeng Jawa ke Animasi Modern

12 Sep 2026

Mengulik Asal-usul Nama Pekalongan, dari Joko Bau hingga Naskah Sunda Kuno

14 Sep 2026

Purbaya Dicopot, Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru

15 Sep 2026

25.000 Tahun Lalu, Manusia Purba Sulawesi Redakan Sakit Gigi dengan Pinang

16 Sep 2026

Film Empat Musim Pertiwi Jadi Wakil Indonesia di Oscar 2027

17 Sep 2026

Giuseppe Garibaldi, Kapal Induk Pertama Indonesia Tiba di Tanjung Priok

18 Sep 2026

Gatot, Jajanan Gunungkidul yang Konon Berasal dari Gaplek “Gagal Total”

19 Sep 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: