BerandaFoto Esai
Senin, 8 Jan 2023 09:00

Berbenah untuk Menjaga Ekosistem Mangrove di Jawa Tengah

Tanggul yang jebol dan banjir yang terjadi di mana-mana seharusnya menjadi peringatan keras agar kita segera berbenah untuk menjaga ekosistem mangrove di Jawa Tengah.

Inibaru.id – Hujan deras disertai badai menjadi kado akhir tahun yang teramat pahit bagi sebagian besar wilayah pantai utara (pantura) Jawa Tengah, seminggu lalu. Banjir di mana-mana. BPBD Jateng mencatat, 15 kabupaten dan kota terendam, ribuan warga mengungsi, dan beberapa orang meregang nyawa.

Nggak ada yang tahu kapan datangnya bencana. Menyalahkan 1-2 pihak atas kejadian ini juga percuma. Kendati demikian, salah besar kalau ada yang berpikir bahwa banjir kali ini adalah anomali dan terbilang di luar kendali, karena sebetulnya sudah banyak kalangan yang memprediksi. Tapi, ya sudahlah!

Saya lega karena keluarga dan saudara yang juga tinggal di pantura Jateng mengatakan mereka baik-baik saja. Namun, saya nggak bisa berhenti memikirkan Pasijah dan keluarganya yang tinggal jauh di lepas pantai Demak, yang saya sambangi belum lama ini.

Pasijah adalah satu-satunya keluarga yang masih bertahan di Rejosari Senik, sebuah kampung di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, yang seluruh warganya dipindahkan ke Desa Sidogemah dan Gemulak karena terus-menerus tergenang air. “Desa tenggelam” itu kini lebih dikenal sebagai Kampung Senik.

Bersama suami (Rohani) dan keempat anaknya (Ekwan, Khoiron, Khodriyah, dan Imron Rosadi), perempuan paruh baya tersebut bertahan di sepetak rumah di tengah desa tersebut, yang hampir seluruh wilayahnya telah dipenuhi pohon mangrove.

Bertahan karena Mangrove

Sehari pascabanjir akhir tahun, saya mencoba menghubungi keluarga Pasijah. Namun, nggak ada pesan yang terkirim. Barulah pada Selasa (3/1/2023), Nizar, nakhoda dari perahu yang pernah mengantarkan kami ke rumah Pasijah mengatakan, kampung Mak Jah, begitu dia biasa disapa, aman dari sapuan badai.

“Jalur menuju makam Syekh Muzakir saja yang rusak parah. Mondoliko dan Kampung Senik baik-baik saja,” kata pemuda yang tinggal nggak jauh dari pantai menuju Rejosari Senik tersebut.

Oya, Mondoliko atau Mandalika adalah dusun yang terletak di sebelah timur Senik. Setahun terakhir, dusun ini juga mengalami abrasi cukup parah. Nizar mengungkapkan, sekarang hanya tersisa sembilan keluarga yang masih bertahan di kampung tersebut.

“Mondoliko ini kayaknya bakal jadi wilayah selanjutnya yang hilang dari peta Jawa,” kata Nizar. Getir. “Kampung itu masih ada karena (ditahan hutan) mangrove, tapi (mangrove) itu pun banyak yang rusak.”

Saat kami melancong ke Kampung Senik dan Mondoliko medio (pertengahan) November 2022 lalu, hutan mangrove di sana memang banyak yang meranggas. Menurut Nizar, ada peneliti yang datang dan menemukan fakta bahwa hutan mangrove di Kampung Senik mengalami abrasi lebih dari 10 meter sejak 2018.

Darurat Mangrove

Pasijah dan keluarganya hidup dengan bergantung pada hutan mangrove di sekelilingnya. Perempuan murah senyum itu juga menyadari bahwa hutan yang menaungi rumahnya perlahan mulai terkikis. Namun, dia sudah memilih untuk bertahan di Kampung Senik selama mungkin.

“Kami akan bertahan sekuat tenaga, selama mungkin. Anak-anak juga sepertinya ingin tetap di sini,” kata Pasijah dalam obrolan terakhir kami sebelum banjir akhir tahun melanda Jateng.

Untuk bisa bertahan selama mungkin, Pasijah dan keluarganya memilih terus menanami tiap jengkal tanah di Kampung Senik dengan bibit mangrove. Sehari-hari, dia dan keluarganya memang dikenal sebagai petani mangrove.

“Selain ditanam sendiri, bibit juga dijual ke instansi pemerintah, swasta, atau kampus yang mengadakan penanaman mangrove, baik di Demak maupun daerah lain,” terang Mak Jah yang kala itu menyambut kedatangan kami dengan suguhan teh daun mangrove buatan sendiri di rumahnya.

Membenahi Ekosistem Mangrove

Garis pantai di Jateng terbentang sepanjang kurang lebih 971,52 kilometer; yang terbagi dua, yakni sekitar 645,08 kilometer adalah pantai utara dan 326,44 kilometer merupakan pantai selatan. Yang menyedihkan, sebagian besar ekosistem mangrove di wilayah tersebut mengalami kerusakan.

Hal itulah yang kemudian mendasari munculnya Pergub No 24 Tahun 2019 tentang Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Ekosistem Mangrove Provinsi Jawa Tengah. Intinya, pergub ini mewajibkan pemerintah daerah melakukan langkah konkret dalam pengelolaan ekosistem mangrove di wilayahnya.

Lalu, bagaimana realisasinya? Ya, kita tahu bahwa membenahi ekosistem mangrove bukanlah proyek simsalabim yang bisa selesai dalam 1-2 tahun. Namun, ada banyak orang di pesisir Jateng yang butuh solusi cepat untuk mengatasi perubahan iklim yang juga sangat cepat ini.

Di sejumlah titik di pesisir Jateng memang ada para pejuang mangrove yang telah bertahun-tahun sukarela menyulam bibir pantai di desanya dengan bibit mangrove. Di Demak ada Pasijah; di Kota Semarang ada Sururi. Namun, tanpa dukungan semua kalangan, mereka bisa sejauh mana?

Maka, menuduh siapa yang paling bertanggung jawab atas banjir akhir tahun yang menimpa kita adalah sebuah kesia-siaan. Ini kesalahan bersama, yang mungkin bisa diperbaiki dengan bareng-bareng menyelamatkan ekosistem mangrove di sekitar kita. Sepakat, Millens? (Galih PL/E01)

Pasijah, satu-satunya keluarga yang tersisa di Kampung Senik, berdiri di belakang rumahnya yang telah dikepung lautan.
Berniat menyuguhkan teh daun mangrove buatan sendiri, Pasijah menjerang air di dapur rumahnya yang berdiri di atas 'panggung' dari kayu yang telah ditinggikan sekitar 1,5 meter.
Ekwan, sulung dari pasangan Pasijah-Rohani saat ini berada di garda terdepan dalam menjaga ekosistem mangrove di Kampung Senik.
Rumah di Mondoliko yang telah ditinggalkan penghuninya. Mondoliko berada di sisi timur Kampung Senik.
Di antara reruntuhan bangunan, pohon-pohon mangrove berukuran besar tampak meranggas dan tumbang karena tergilas abrasi.
Setelah ditinggalkan warga, Kampung Senik menjadi hunian bagi pelbagai macam binatang air, termasuk aneka ragam jenis burung.
Pembibitan dan penanaman mangrove di Mangunharjo, Semarang.
Pantai di Mangunharjo, Semarang, yang berjarak berkilo-kilometer dari daratan. Saat air laut surut, pantai yang kini mulai ditanami bibit mangrove itu menjadi hamparan daratan nan luas.
Sururi, pejuang mangrove asal Semarang, tengah mengontrol bibit-bibit bakau yang baru ditanam.
Bersama keluarga, Sururi membibit mangrove di beberapa petak tambak nggak jauh dari rumahnya, sebelum nantinya ditanam di bibir pantai.

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Asal-usul Warmindo, Warung Mi Instan yang Berawal dari Burjo

31 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: