BerandaTradisinesia
Selasa, 1 Apr 2019 17:00

Jadi Favorit Para Kiai, Begini Kesenian Terbangan di Kudus

Penampilang penabuh terbangan dalam acara Terbang Kolosal dalam rangka Ta'sis Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, Minggu (24/3/2019).

Menghibur jiwa, menenteramkan hati, dan merupakan kesukaan para kiai apalagi kalau bukan kesenian terbang Kudus. Berikut ulasan mengenai seni terbangan khas Kudus ini.

Inibaru.id – Sholla alaikallahu yaa allamal huda. Selawat itu sudah bergaung di telinga saya sejak memasuki area Taman Menara Kudus. Semakin saya mendekati Menara Kudus, semakin lantang pula tetabuhan itu terdengar. Di depan Menara, ratusan orang berjejalan demi melihat aksi para penabuh terbang.

Minggu (24/3/2019) malam itu suasana memang riuh tapi syahdu. Banyak orang yang menyaksikan acara Terbang Kolosal dalam rangka Ta’sis Masjid Al-Aqsha Menara Kudus yang ke-484 menurut penanggalan Hijriah.

Di kaki Menara Kudus, panggung utama berdiri nggak kalah gagahnya dengan bangunan cagar budaya itu. Sebanyak 105 penabuh dari 19 grup terbang berjejer di panggung utama. Dengan menyenandungkan sekitar tujuh selawat dari kitab Al-barzanji, mereka menghibur masyarakat Kudus malam itu.

Sebanyak 105 penabuh terbang memeriahkan acara Terbang Kolosal dalam rangka Ta'sis Masjid Al-Aqsha Menara Kudus. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Yap, saat itu mereka sedang menampilkan salah satu kesenian Kudus yang sudah ada sejak lama. Konon, kesenian khas Kudus ini disukai para kiai atau tokoh agama di sana. Saking senangnya, beberapa tokoh agama memainkannya hingga larut malam.

“Terbangan itu digandrungi para kiai. Bahkan, Pak Kiai Turaichan (Adjuri) dulu itu saking gandrungnya, terbangan sampe malam dianggap mengganggu masyarakat. Hal ini sampai di-bahsul masail-kan (pembahasan dalam rapat dengan merujuk kitab-kitab untuk menentukan hukum suatu hal) gitu, gimana hukumnya,” kata Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makan Sunan Kudus (YM3SK) Em Nadjib Hasan.

Kendati sama-sama menggunakan terbang atau rebana, terbangan dan hadrah berbeda, lo. Dilihat dari segi alat yang dipakai, seni terbang ini hanya memakai rebana dan jidur. Sementara, seni hadrah menggunakan alat yang lebih lengkap seperti ada bas, tam, rebana, dan dumbuk.

Perbedaan alat ini juga berpengaruh pada jumlah personel, lo. Seni terbang biasanya dimainkan empat orang penabuh terbang dan seorang penabuh jidur. Karena itulah, seni terbangan juga kerap disebut terbang papat atau terbang yang dimainkan empat orang. Namun, hal ini nggak berlaku pada hadrah yang setidaknya dimainkan delapan orang.

Terbangan dimainkan empat penabuh terbang dan satu penabuh jidur. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Selain itu, pembagian peran antarpersonel juga berbeda. Sambung Nadjib, pada seni terbang, semua penabuh juga berperan sebagai vokalis yang melagukan selawat.

Nggak mau tergerus zaman, YM3SK yang merupakan pengelola Menara Kudus kemudian memasukkan kesenian ini dalam salah satu agenda Ta’sis atau peringatan pendirian Masjid Al-Aqsha Menara Kudus.

“Sekarang ini (terbang kuno) mulai tergerus dengan terbangan model-model baru. Ya sudah kita angkat lah wong kita punya kesenian yang bagus, kok,” imbuh Nadjib.

Betul banget, Millens. Kesenian kuno perlu dilestarikan supaya anak cucumu nanti pun bisa menikmatinya.

Oh iya, kesenian terbang kuno ini memang sudah jarang dipentaskan kecuali di beberapa kampung di Kudus. Namun, terbang ini masih bisa kamu temukan di beberapa agenda yang diadakan YM3SK, kok. Kamu sudah pernah menyaksikan kesenian terbangan belum? (Ida Fitriyah/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dikira Bahasa Gaul, "Anjir" Justru Kosakata Lama Nelayan Pantura

7 Jul 2026

Penelitian Terbaru Ungkap Fakta Baru Manusia Hobbit Flores

8 Jul 2026

Muhammadiyah Resmikan KucingMu, Kampanyekan Kepedulian terhadap Hewan

9 Jul 2026

Pemerintah Tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan, Ini Dasar Pertimbangannya

10 Jul 2026

BRIN Targetkan Luncurkan Satelit NEO-1 pada Januari 2027, Tonggak Kemandirian Teknologi Antariksa Indonesia

13 Jul 2026

Indonesia dan India Berkolaborasi Konservasi Candi Prambanan, Perkuat Pariwisata Budaya Kelas Dunia

14 Jul 2026

Warisan Sejarah Indonesia Kembali, Dua Arca Buddha Kuno Dipulangkan dari AS

14 Jul 2026

4 Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Makanan Berbahan Tepung Tapioka Terbaik 2026 Versi Taste Atlas

15 Jul 2026

Istana Kepresidenan Yogyakarta Kini Bisa Dikunjungi Gratis, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

16 Jul 2026

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: