BerandaTradisinesia
Kamis, 24 Apr 2019 17:38

Senja Kala Tari Emblek dari Wonosobo

Tari Emblek, tari kuda lumping dari Wonosobo. (Shutterstock/Lucky Vectorstudio)

Kuda lumping menjadi salah satu budaya Jawa yang dikenal masyarakat sejak lama, Di Wonosobo, kesenian itu dikenal sebagai Tari Emblek. Sayang, keberadaannya kini mulai tergantikan dengan hiburan yang lebih modern.

Inibaru.id – Menari bak menunggangi kuda, itulah kesenian Kuda Lumping. Di Tanah Jawa, kesenian tersebut memiliki banyak nama, mulai dari eblek, jathilan, kuda kepang, hingga emblek. Nama terakhir adalah sebutan bagi masyarakat Wonosobo, Jawa Tengah.

Selain Wonosobo, sebutan emblek juga dikenal di Banjarnegara, Banyumas, dan Purworejo. Laiknya kebanyakan tari kuda lumping yang tersebar di berbagai wilayah di Jateng dan Jatim, emblek juga menari menggunakan kuda tiruan yang terbuat dari anyaman bambu atau biasa disebut kuda kepang.

Pada masa kejayaannya, tari emblek banyak ditanggap warga desa yang punya gawe atau hajatan. Nggak hanya disaksikan warga setempat, kesenian itu juga menyedot minat warga dari desa tetangga.

Berbagai kalangan menyebutkan bahwa tari emblek yang dipentaskan biasanya bercerita tentang pasukan berkuda Pangeran Diponegoro. Ada juga yang menyebutkan tarian tersebut berkisah tentang Sultan Hamengku Buwono I yang memimpin pasukan Mataram berlatih perang.

Dalam satu sesi, akan ada saat ketika para penari atau penunggang emblek mengalami kesurupan. Kadang, nggak cuma penari, penonton pun acap mengalami hal serupa. Yap, unsur mistis inilah yang membuat tari emblek begitu diminati masyarakat. 

Fleksibel, tari emblek bisa ditarikan oleh lelaki maupun perempuan. (Sisidunia)

Sayang, seiring waktu, kemasyhuran emblek mulai memudar. Jika bukan karena kostum kuda lumping dikenakan Miss Grand Malaysia 2017, Sanjeda John, keberadaan kesenian kuda lumping mungkin nggak bakal dikenal anak muda hingga kini.

Ya, tari emblek di Wonosobo memang tengah berada di senja kala. Kian banyaknya kesenian dan hiburan modern menggerus keberadaan emblek. Yang lebih menyedihkan, tarian yang menggambarkan perjuangan mengusir penjajah itu pun sepi peminat.

Masyarakat yang semula nanggap emblek memilih mengundang orkes dangdut atau organ tunggal. Tiada pemasukan, banyak grup kesenian emblek pun gulung tikar. Penari yang tersisa biasanya hanya pentas dalam festival-festival daerah semisal Dieng Culture Festival.

Tentu ini menjadi PR besar bagi kita, generasi milenial. Kalau kamu pengin anak cucumu bisa menikmati emblek suatu saat nanti, rawatlah budaya ini dari sekarang. Kalau nggak bisa memainkannya, setidaknya tontonlah emblek saat mereka pentas! (IB23/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: