BerandaIslampedia
Minggu, 18 Agu 2018 14:21

Kelestarian Masjid Peninggalan Ipar Sunan Gunungjati

Ruang ibadah utama Tajug Agung Pangeran Kejaksan. (pilaradiocirebon.com)

Jejak awal persebaran Islam di wilayah Cirebon bisa kamu temui di Tajug Agung Pangeran Kejaksan. Masjid berusia sekitar 600 tahun yang dibangun oleh ipar Sunan Gunungjati itu terjaga keaslian bentuknya.

Inibaru.id - Masjid besar itu berada di tepi gang di tengah-tengah perkampungan. Sebagai masjid yang menjadi jejak penyebaran awal Islam di wilayah Cirebon, kelestariannya terjaga. Hampir semua bagian bangunan, termasuk tiang-tiang penyangganya masih kuat dan lestari. Pas banget masjid itu jadi cagar budaya di Kota Cirebon.

Namanya Tajug Agung Pangeran Kejaksan, berada di Gang Pangeran Kejaksan, Kelurahan Kejaksan, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, Jawa Barat. Bila tertarik mengunjunginya, Millens cukup memasuki sebuah gang di kelurahan Kejaksan dan di ujungnya ada gapura bertuliskan nama masjid plus tahun pendiriannya: 1480 M.

Pintu masuk menuju masjid. (detikTravel.com/Sudirman Wamad)

"Masjid ini dibangun oleh Pangeran Kejaksan atau Syarif Abdurohim. Pembangunannya sezaman dengan Masjid Merah Pangeran Panjunan," cerita Uki Saluki (67), sang juri kunci masjid seperti dikutip dari Detik Travel (19/5/2018).

Perlu Millens tahu, Syarif Abdurohim a.k.a Pangeran Kejaksan adalah ipar Sunan Gunungjati, salah seorang Walisongo.

Secara singkat Saluki bercerita tentang sejarah dan silsilah Pangeran Kejaksan. Dia bersaudara dengan Pangeran Panjunan atau Syarif Abdurahman, pendiri Masjid Merah. Keduanya merupakan anak dari pasangan Syekh Datuk Kahfi dan Syarifah Halimah, mertua Sunan Gunungjati.

"Selain kedua pangeran itu, ada dua anak lainnya yakni Syarifah Baghdad dan Syarif Hafidz. Nah, Syarifah Baghdad itu yang menikah dengan Sunan Gunungjati nantinya."

Syekh Datuk Kahfi membawa keluarganya ke Cirebon sekitar 1478, tepatnya menuju ke Gunungjati. Setelah mendarat, Pangeran Kejaksan memilih melanjutkan perjalanan menuju Keraton Pakungwati yang saat itu dipimpin Mbah Kuwu Cirebon. Mbah Kuwu Cirebon ini dikenal pula bernama Pangeran Cakrabuana. Lantas setelah Cirebon lepas dari Kerajaan Galuh, Pangeran Cakrabuana menyerahkan Keraton Pakungwati ke Sunan Gunungjati.

Nah, pada saat Sunan Gunungjati memimpin keraton tersebut, kedua iparnya, Pangeran Kejaksan dan Panjunan diberi jabatan. Pangeran Kejaksan menjadi adhiyaksa atau jaksa dan Pangeran Panjunan menjabat Abdu Dampul atau panglima perang saat itu.

Saat menjadi jaksa itulah Pangeran Kejaksan membangun masjid yang dinamakan Tajug Agung Pangeran Kejaksan.

Masih Jadi Tanda Tanya

Sayang sekali, nggak ada catatan atau orang yang mengetahui sejarah pendirian masjid tersebut meskipun disepakati perkiraan tahun pendiriannya 1480. Bahkan, Saluki sebagai juru kunci pun mengaku dengan jujur nggak tahu mengenai sejarah pendiriannya.

Yang pasti, Millens, bentuk asli masjid itu masih terjaga sedari didirikan, seperti kayu penyanggah, memolo kubah, hiasan piring-piring di dinding khas perpaduan bangunan Tiongkok dan Arab, dan adanya kulah untuk berwudu.

http://4.bp.blogspot.com/-Fp_rp0RZvSY/T4-HhShnp_I/AAAAAAAAADk/gOU_HITPeXY/s1600/IMG_0268.JPG

Kulah, tempat wudhu tradisional. (tajugpangerankejaksancirebon.blogspot.com)

Berada di area seluas 400 meter persegi, ketinggian bangunan masjid yang didominasi warna putih itu sekitar 10 meter dengan dua ruang ibadah. Ruang ibadah utama berukuran 9 meter x 7 meter, sedangkan ruang ibadah tambahan berukuran 13 meter x 7 meter. Kedua bangunan ibadah ini dipisahkan dinding yang terbuat dari bata merah dengan pintu penghubung di tengah-tengahnya.

Nah, dinding itulah yang dihiasi oleh keramik tua sebanyak 33 buah yang ada di bagian atas dan bawah. Tajug Agung Pangeran Kejaksan hanya menyisakan tanah yang dilapisi paving block seluas 3 meter x 7 meter yang merupakan ruang terbuka dan berfungsi sebagai halaman. Itu sebabnya, masjid itu nggak punya tempat parkir.

Nah Millens yang demen mengunjungi bangunan kuno dan melacak jejak persebaran Islam di Nusantara, Tajug Agung Pangeran Kejaksan adalah tempat yang sangat direkomendasikan. Ketiadaan tempat parkir bukan sesuatu yang serius, bukan? (IB02/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: