BerandaIndo Hayati
Minggu, 27 Jan 2018 19:43

Jangan Sampai Kita Kehilangan Pesut Mahakam

Pesut mahakam (Orcaella brevirostris). (nrmnews.com)

Populasi pesut mahakam di Sungai Mahakam, Kaltim terus berkurang. Kini jumlahnya disebut-sebut tinggal sekitar 70 ekor. Perlu upaya banyak pihak untuk mencegah kepunahannya.

Inibaru.id - Ilmuwan internasional mengklasifikasikan populasi pesut mahakam (Orcaella brevirostris) di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur (Kaltim), dalam kondisi sangat terancam punah. Kini, jumlahnya hanya sekitar 70-80 ekor saja. Wah!

Padahal, seperti dilansir Merdeka.com (28/2/2017) dahulu, pada 1970 sampai 1980-an, masyarakat bisa dengan mudah melihat pesut mahakam di hilir Sungai Mahakam, seperti di tengah Kota Samarinda (Kaltim). Seiring waktu, kini masyarakat nggak mudah lagi menemukannya, sebab pesut Mahakam bergeser ke hulu Sungai Mahakam di Kabupaten Kutai Kartanegara di Kaltim.

WWF Indonesia pada Mei 2017 menggelar diskusi mengenai ancaman kepunahan satwa endemik Kaltim tersebut. Dikutip dari wwf.or.id (22/5/2017), Sri Jimmy, salah seorang pembicara menyebutkan bahwa secara biologis, pesut mahakam yang makanannya ikan dan udang ini, bernapas menggunakan paru-paru dan tergolong sebagai hewan mamalia bukan ikan. Tubuhnya berwarna abu-abu sampai biru tua.

Perlu kamu tahu, pesut mahakam hanya melahirkan satu anak pesut setiap tiga tahun sekali. Masa menyusuinya selama 1-1,5 tahun. “Hal ini tidak seimbang dengan angka kematian pesut. Berdasarkan pengamatan setiap tahunnya, pesut ditemukan mati sebanyak empat individu. Jika saat ini hanya tersisa 80 individu dan kita semua tidak berupaya menjaga keberadaan pesut, bisa dipastikan 20 tahun lagi pesut mahakam akan dinyatakan punah,” papar Jimmy.

Baca juga:
Purwaceng: Populasi Rendah, Permintaan Tinggi
Kura-Kura Bermoncong Babi: Lestarikan!

Seperti apa sih sebenarnya pesut mahakam itu?

Pesut Mahakam merupakan mamalia air paling langka di Indonesia. Satwa itu merupakan subpopulasi Orcaella brevirostris dan hanya bisa ditemukan di Sungai Mahakam, Kaltim. Jadi wajar bila hewan itu ditetapkan sebagai fauna identitas provinsi Kalimantan Timur.

Yap, pesut merupakan mamalia air yang unik. Berbeda dengan lumba-lumba dan ikan paus, pesut (Orcaella brevirostris) hidup di air tawar yang terdapat di sungai-sungai dan danau yang terdapat di daerah tropis dan subtropis.

Pesut mahakam adalah salah satu subpopulasi pesut,  selain subpopulasi Sungai Irrawaddi (Myanmar), subpopulasi Sungai Mekong (Kamboja, Laos, dan Vietnam), subpopulasi Danau Songkhla (Thailand), dan subpopulasi Malampaya (Filipina). Pesut yang termasuk salah satu satwa dilindungi di Indonesia ini dalam bahasa Inggris disebut sebagai Irrawaddy Dolphin atau Dolphin Snubfin.

Dikutip dari alamendah.org, pesut mahakam dewasa mempunyai panjang tubuh hingga 2,3 meter dengan berat mencapai 130 kg. Tubuh Pesut berwarna abu-abu atau kelabu sampai biru tua dengan bagian bawah berwarna lebih pucat.

Bentuk badan pesut hampir mendekati oval dengan sirip punggung mengecil dan agak ke belakang. Kepala pesut berbentuk bulat dengan mata yang berukuran kecil. Bagian moncong pendek dan tampak papak dengan lubang pernafasan. Sirip punggung berukuran kecil terletak di belakang pertengahan punggung. Dahi tinggi dan membundar, tidak ada paruh. Sirip renangnya relatif pendek dan lebar.

Pesut bernapas dengan mengambil udara di permukaan air. Binatang ini dapat juga menyemburkan air dari mulutnya. Pesut bergerak dalam kawanan kecil. Meski pandangannya tidak begitu tajam dan hidup dalam air yang mengandung lumpur, namun mempunyai kemampuan mendeteksi dan menghindari rintangan-rintangan dengan menggunakan gelombang ultrasonik.

Habitat dan Populasi

Pesut mahakam. Sesuai namanya, hidup di Sungai Mahakam pada daerah sekitar 180 km dari muara sungai hingga 600 km dari daerah hulu. Lokasi yang diduga didiami mamalia air tawar ini antara lain Kedang Kepala, Kedang Rantau, Belayan, Kedang Pahu, dan anak Sungai Ratah, serta sebagai Danau Semayang dan Melintang.

Populasi Pesut Mahakam diperkirakan antara 67 hingga 70 ekor (2005). Ancaman tertinggi kelangkaan populasi pesut mahakam diakibatkan oleh belitan jaring nelayan. Selain itu juga akibat terganggunya habitat baik oleh lalu-lintas perairan Sungai Mahakam maupun tingginya tingkat pencemaran air, erosi, dan pendangkalan sungai akibat pengelolaan hutan di sekitarnya.

Rendahnya populasi ini membuat lumba-lumba air tawar ini menjadi salah satu binatang paling langka di Indonesia. Maka nggak berlebihan bahwa IUCN Redlist menyatakan status konservasi pesut mahakam sebagai Critically Endangered (Kritis) atau tingkat keterancamannya tertinggi.

Baca juga:
Burung Merak Hijau, Si Cantik yang Hampir Punah
Maleo, Burung Antipoligami

Di Indonesia sendiri, pesut Mahakam ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi berdasarkan PP No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Nah, apa yang disampaikan Sri Jimmy dan penelitian yang menyebut ancaman kepunahan pesut mahakam itu nggak main-main dan perlu direspons. Salah satu ikhtiar yang dilakukan WWF Indonesia adalah menyadarkan masyarakat sekitar untuk membuat alat budidaya ikan yang ramah lingkungan dan nggak mencemari Sungai Mahakam. Pasalnya, banyak ditemukan pesut yang tersangkut jaring.  Pencemaran, terutama dari sampah juga jadi sebab ancaman terhadap lumba-lumba air tawar ini. (EBC/SA)

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Mammalia

Ordo: Cetacea

Famili: Delphinidae

Genus: Orcaella

Spesies: Orcaella brevirostris.

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

'Bom Nuklir' dan 'Perdamaian' yang Viral di Tengah Eskalasi Konfik Timur Tengah

6 Mar 2026

Saking Bekunya Musim Dingin, Warga Laut Baltik Berseluncur dari Satu Pulau ke Pulau Lain

6 Mar 2026

Bukan Emas Lagi; MUI Jateng Ubah Patokan Nisab Zakat Profesi

6 Mar 2026

Duduk Perkara Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip versi Polrestabes Semarang

6 Mar 2026

Oksigen Banyak dari Laut, Terus Kenapa Masih Ribut Soal Hutan?

6 Mar 2026

Tiket Mudik Ludes 400 Ribu! Cek Tanggal Favorit dan Kereta Pilihan di Daop 4 Semarang Ini

6 Mar 2026

Wisata Alam Kalikesek Semakin Ramai, Warga Desa Sriwulan Dapat THR

7 Mar 2026

Masjid Fujikawaguchiko, Tempat Salat dengan Latar Spektakuler Gunung Fuji di Jepang

7 Mar 2026

Sahur Tanpa Nasi Cuma Makan Lauk, Beneran Bikin Kuat Puasa Seharian?

7 Mar 2026

Ikan Air Tawar vs Ikan Laut: Siapa yang Paling Tahan Lawan Pemanasan Global?

7 Mar 2026

Aman Nggak Ya Mudik dengan Mobil Listrik?

8 Mar 2026

Membedah Mitos Minum Air Hangat Bisa Turunkan Berat Badan

8 Mar 2026

Restorative Justice Akhiri Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip Semarang

8 Mar 2026

Berburu Baju Bekas sekaligus Bantu Korban Kekerasan di Bazar Preloved Sintas

8 Mar 2026

Sarung Tangan Karet Bekas Ternyata Bisa Jadi 'Penyedot' Polusi

8 Mar 2026

Srikandi Ojol Jateng Kini Punya Aplikasi Khusus Anti-Pelecehan

8 Mar 2026

Musim Mudik, Pengendara Diimbau Istirahat di Rest Area Maksimal 30 Menit

9 Mar 2026

Menilik Keseruan Momen Membeli Kebutuhan Lebaran

9 Mar 2026

PDAM Semarang Gelar 'Operasi Ketupat', 14 Ribu Penunggak Jadi Sasaran

9 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: