BerandaHits
Minggu, 15 Nov 2025 18:35

Kucing Kuwuk, Si Penjaga Senyap yang Mulai Tersingkir dari Hutan-Hutan Kita

Kucing Kuwuk alias kucing hutan, hewan asli Indonesia. (via Mistar)

Di balik rimbunnya hutan dan sunyinya malam, hidup seekor predator mungil yang kerap luput dari perhatian: kucing kuwuk. Meski tubuhnya kecil, ia memegang peran besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Namun, rentetan kasus penyelamatan di berbagai daerah memperlihatkan satu hal; si penjaga hutan ini mulai terdesak.

Inibaru.id - September 2025 lalu, perhatian publik tertuju pada tiga anak kucing kuwuk yang ditemukan warga di Bali Barat. Dua di antaranya kini masih menjalani perawatan intensif di pusat rehabilitasi Umah Lumba, Buleleng, setelah ditemukan dalam kondisi memprihatinkan. Kasus serupa terjadi di Bogor, ketika seekor kucing kuwuk bernama Chiki diselamatkan dan kini dirawat di Cikananga Wildlife Center, Sukabumi.

“Kondisinya semakin bagus, semakin liar dan agresif,” terang Meidi Yanto, Manajer Konservasi In-Situ YCKT, menggambarkan harapan kecil dari upaya pemulihan satwa yang seharusnya hidup bebas itu.

Kisah-kisah ini sejalan dengan temuan ilmiah dalam laporan IUCN Red List 2022 berjudul Prionailurus bengalensis, Mainland Leopard Cat. Laporan tersebut memetakan distribusi, ancaman, dan strategi penyelamatan kucing kuwuk di seluruh Asia dan menyiratkan bahwa apa yang terjadi di Bali dan Bogor hanyalah bagian dari masalah yang jauh lebih besar.

Secara biologis, kucing yang juga disebut kucing akar ini termasuk spesies kucing liar paling adaptif di Asia. Mereka menghuni hutan primer, sekunder, agroforestri, hingga area pertanian. Persebarannya luas dari Pakistan, India, Tiongkok, hingga Asia Tenggara. Tubuhnya kecil, beratnya 3 hingga 7 kilogram, namun cekatan memburu tikus dan burung, membuatnya menjadi bagian penting dalam rantai ekosistem.

Namun, persebaran luas bukan berarti aman. Laporan IUCN justru menegaskan, “Kita mengira populasinya stabil karena masih sering ditemukan, padahal banyak kawasan terjadi penurunan signifikan.”

Karena imut dan eksotis, kucing hutan banyak diperdagangkan dan dipelihara. (via GNFI)

Kondisi ini diperparah dengan minimnya survei khusus. “Dedicated survey untuk kucing kuwuk belum ada sepertinya,” jelas Erwin Wilianto dari Yayasan SINTAS Indonesia. Sebagian besar data yang ada hanya berasal dari laporan warga atau temuan insidental, jauh dari cukup untuk merancang strategi konservasi yang solid.

Tekanan terhadap habitat juga semakin nyata. Hutan-hutan di Asia Tenggara terus berkurang, digantikan oleh perkebunan sawit, karet, hingga kompleks wisata. Perburuan dan perdagangan ilegal ikut menambah beban. Di berbagai platform digital, kucing kuwuk kerap dijual sebagai hewan peliharaan eksotis. Ancaman lain datang dari hibridisasi dengan kucing domestik, yang dapat mengaburkan garis genetik spesies liar ini.

Fenomena di Desa Penjarakan, Buleleng, adalah contoh nyata bagaimana aktivitas manusia memengaruhi hidup mereka. Tiga anak kuwuk ditemukan tanpa induk, hampir menjadi mangsa anjing. “Kami berusaha keras supaya mereka tetap liar,” kata Femke den Haas dari JAAN. “Jika terlalu dekat manusia, mereka akan sulit dilepasliarkan.”

BKSDA Bali juga menemukan kasus lain. Ada temuan satwa liar dipelihara secara ilegal oleh ekspatriat. “Tahun lalu, ada warga negara Prancis kedapatan membawa kucing hutan tanpa dokumen resmi. Ia dideportasi,” ujar Sumarsono, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Bali.

Meski tercatat dalam Appendix II CITES dan dilindungi di Indonesia, upaya konservasinya masih menghadapi banyak kendala. Survei kamera jebak sering memprioritaskan satwa besar, sehingga rekaman kuwuk hanya dianggap data tambahan. Padahal, tanpa data dasar populasi, perlindungan yang efektif sulit diwujudkan.

Kajian ilmiah menyarankan langkah yang lebih sistematis. Para peneliti melakukan survei khusus dengan kamera jebak, analisis genetik, edukasi publik, penegakan hukum yang lebih tegas, perluasan kawasan lindung, hingga pemberian insentif bagi warga yang melapor.

Kucing kuwuk bukan hanya soal kelestarian satwa liar. Ia adalah indikator kesehatan hutan, penjaga alami yang bekerja dalam diam. Jika kita kehilangan mereka, kita kehilangan lebih dari sekadar seekor kucing liar. Kita kehilangan harmoni ekosistem yang menopang kehidupan kita sendiri. Sedih banget ya, Gez? (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: